Senin, 06 November 2017

Picisan Rembulan

Kutatap rembulan
Berharap senyummu memantul di sana
Tapi gemanya kosong
Tanpa mampu melarutkan sepi

Entah bagaimana Tuhan meracik rindu
Dijejalkannya ke palung hati
Sampai berdarah-darah karena namamu
Hingga mendidih karena mendambamu

Ah, purnama...
T'lah berjuta kisah terpahat karenamu
T'lah bermilyar picisan tercipta karenamu
Tetapi jiwa yang retak tak peduli
Hanya tahu bahwa dalam bisu
ia tak mampu melihat ujungnya
Seperti harap atau sebaliknya penuh senyap

Hei, apakah kau pun menatap rembulan?
Tadi kutitip salam melalui desau
Sudahkah ia sampaikan?

Hanya diam, seperti setiap malam saat kudamba senyummu menjelma.

Mungkin picisan ini hanya angan
Mana bisa sebelah menjadi tepuk tangan?

Jangan-jangan kau sedang tertidur di samping sang pangeran berkuda putih yang bukan aku.

Terkutuklah rinduku.

Dio Agung Purwanto
Bintaro, 6 November 2017

#puisi #poem #poetry #sajak #kisahkita #kata #DukaSedalamCinta #rindu

Minggu, 05 November 2017

Kebaruan Karya yang Apik: Duka Sedalam Cinta

Apa yang menarik dari sebuah film? Akting pemerannya, isi ceritanya, alurnya, setting-nya, atau pesannya? Pada sebagian film, mungkin kita tidak mendapatkan kelebihan dari unsur-unsur yang membuat menarik tersebut. Namun ternyata film Indonesia yang sering dipandang sebelah mata ada yang hadir dengan hampir memenuhi keseluruhan unsur untuk dinilai sebagai film yang menarik. Seperti halnya sebuah karya anak bangsa yang satu ini.

Setelah debutnya di Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) 2016 lalu, tahun ini Helvy Tiana Rosa kembali memproduseri sebuah film berjudul Duka Sedalam Cinta (DSC) yang tak lain adalah sekuel/lanjutan KMGP. Masih disutradarai Firman Syah, film ini menghadirkan sudut penceritaan yang unik. Penonton diajak melompat-lompat dari scene yang satu ke scene yang lain dengan alur yang tidak linear. Cara bercerita seperti ini sangat jarang dijumpai, terutama pada film Indonesia.

Alkisah kakak beradik Gagah-Gita terlibat konflik karena perubahan yang terjadi
dalam diri Mas Gagah yang juga memengaruhi mama dan sahabat Gita, Tika. Dengan cerdas, kreator DSC menyajikan kembali garis besar KMGP. Sehingga penonton yang tidak menyaksikan KMGP pun langsung terhubung dengan cerita.

Mendapati perubahan yang terjadi kepada orang-orang di sekitarnya, beberapa waktu kemudian sikap Gita perlahan melunak. "Dik Manis"-nya mas Gagah pun mampu menerima perubahan-perubahan yang ada. Bahkan Gita juga ingin ikut berubah. Sebuah teka-teki bergelayut di benak penonton, terlambatkah Gita?

Keindahan alam Halmahera Selatan menghiasi film yang dibintangi Aquino Umar, Masaji Wijayanto, Izzah Ajrina, dan Hamas Syahid ini. Kualitas gambar dan suara sangat detail dan jernih, hingga properti dan make up tertentu semacam jenggot Gagah menjadi terlihat tak natural. Catatan untuk film ini bahwa jika sudah menggunakan peralatan maksimal, semua sisi lain termasuk artistik dan tata rias juga harus diperhatikan dengan saksama.

Sebagai para bintang baru, empat pemeran muda film ini patut diacungi jempol. Terutama untuk Aquino Umar, pemeran Gita, yang terlihat sangat total dan mampu 'menyihir' semua penonton untuk merasakan atmosfer cerita. Saya bahkan ikut terisak-isak saat menyaksikan Gita menangis pada setidaknya dua adegan. Sedangkan tiga pemeran lainnya, meskipun masih terlihat cukup kaku pada berbagai adegan, sudah mampu menghadirkan karakter masing-masing dengan cukup baik. Terlebih dengan kehadiran pemeran kenamaan lain seperti Mathias Muchus, Wulan Guritno, Ali Syakieb, Asma Nadia, Salim A. Fillah, dan semua pendukung semakin memperkaya film yang telah diterbitkan buku puisinya dengan judul yang sama.

Hikmah bertebaran dalam film ini, pesan-pesan kebaikan tersampaikan dalam narasi dan dialog. Memang agak membosankan di bagian-bagian tertentu. Tetapi dengan dinamisnya penceritaan dan tampilan yang tak biasa, film ini puitis dengan sendirinya. Selain tentunya puitis karena narasi-narasi yang disampaikan dengan suara Masaji, Hamas, Aquino, dan Izzah. Indah dan sangat pantas disaksikan siapa saja. Sebagai sebuah hiburan pun, film ini berkelas dan mengesankan. Ingat salah satu adegan yang membuat para penonton menoleh ke kanan? Nah, tak hanya tangisan yang mewarnai film ini, gelak tawa dan senyum mengembang pun hadir di tengah saya dan para penonton lainnya.

Hanya saja, memang sineas yang terlibat dalam membuat film ini masih harus memerhatikan beberapa hal detail. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, jenggot Gagah yang sangat kentara tidak asli itu cukup mengganggu, terlebih karena kamera yang digunakan membuat gambar yang dihasilkan sangat mendetail. Selain itu, padatnya cerita di sekitar sepertiga awal film benar-benar membuat penonton tak bisa lengah sedikitpun. Bagus, tetapi menjadi tidak konsisten dengan beberapa adegan. Sebut saja adegan Gagah dan Yudi bertemu ustaz Muhammad Kasuba dan bupati, lanturan cerita pada bagian ini rasanya tak begitu penting dan terlalu berkesan dipaksakan ada. Padahal jika tidak ada adegan itu pun, keseluruhan cerita tidak terganggu.

Sebuah karya apik layar lebar tentu merupakan hasil proses yang tidak mungkin hanya sehari-dua hari. Duka Sedalam Cinta membuktikan bahwa meskipun bukan rumah produksi besar, KMGP Pictures mampu menghadirkan karya menarik yang tak sekadar tontonan tanpa pesan. Semoga hasil karya berikutnya akan semakin baik dan menjadi bagian kejayaan film dalam negeri.

Usai menyaksikan film ini, saya merasa bahwa ada sesuatu yang harus saya lakukan. Film ini hanya diberikan kesempatan sedikit sekali oleh raksasa jaringan bioskop di Indonesia. Padahal isi dan penggarapannya sangat patut ditonton oleh sebanyak mungkin orang. Maka sejak hari pertama, saya merelakan waktu, tenaga, dan biaya untuk mengajak sebanyak mungkin orang. Pejaten Village adalah tempat yang saya pilih karena lokasinya yang paling dekat dari tempat tinggal dan kantor. Meskipun tak sepenuhnya hingga akhir jadwal penayangan reguler, saya lega membersamai Duka Sedalam Cinta di dua pekan pertama penayangannya. Mendengar cerita tentang kesan para penonton setelah menyaksikan film ini, rasanya memang harus lebih banyak lagi film yang tak hanya menarik namun juga penuh pesan kebaikan.

Dio Agung Purwanto
Jakarta, 5 November 2017

Aku Suka Karena Kamu Pahit Seperti Kopi

Kopi itu menarik
getirnya memberikan semangat
Sebagian ada asamnya
menyegarkan
Jika suka, tambahkan gula
manisnya menambahkan rasa

Tak ubahnya mendambamu
: pahit

Tetapi benar pepatah digdaya
tentang rasa yang buta itu
: gila

Bagaimana aku tak gila?
Sudah tahu mendambamu pahit
namamu kupompa ke setiap sudut alveolus
Sudah tahu menginginkanmu getir
senyummu kualirkan ke semua arteriola

Bagaimana aku tak gila?
Wajah datang dan pergi
lebih manis, lebih menjanjikan
ketimbang kamu
Tapi nadiku bergeming

Aku mabuk!
Mabuk atas kegetiran yang ada padamu
Mabuk atas namamu yang menusuk-nusuk
arteriola jiwaku
Mabuk atas semua yang ada padamu

Aku gila!
Gila karena tak mampu menggantimu
Gila karena dekade tak mamu menghapusmu
Gila karena aku hanya ingin kamu!
.
Aku pahit
Aku getir
Aku mabuk
Aku gila
Aku hanya ingin: kamu

Dio Agung Purwanto
Bintaro, 5 November 2017

#puisi #poem #poetry #sajak #sajakduka #tentangkamu #DukaSedalamCinta

Sabtu, 09 September 2017

IT, Ketulusan Berteman

Bagaimana rasanya kehilangan seorang adik kecil secara misterius padahal baru beberapa menit sebelumnya ia berpamitan untuk bermain di luar? Perasaan bersalah atas kepergian Georgie membuat Bill terus berusaha mencari tahu apa yang tersembunyi di Derry, kota kecil tempat tinggal mereka. Bersama sahabat-sahabatnya yang sering dianggap pecundang karena berbagai keunikan mereka, Bill yang cenderung berbicara gagap berusaha menelusuri kemungkinan-kemungkinan atas tingginya angka kehilangan orang di kota mereka. Richard, Eddie, dan Stanley menjadi sahabat yang mendukung Bill dalam penelusurannya. Seiring berjalannya waktu, bergabung pula Mike, Beverly yang satu-satunya perempuan, serta Ben yang terlibat cinta segitiga ala remaja bersama Beverly dan Bill.

Misteri kota Derry menghantui Bill dan kawan-kawan. Masing-masing mengalami kejadian seram dan mengejutkan yang berujung pada satu sosok yang sama, seorang badut. Bukan sembarang badut, melainkan monster badut yang siap mencelakai siapapun yang dia inginkan. Bertujuh, para remaja tanggung itu menguak misteri tentang si badut.

Sebuah film menegangkan yang dikomandoi secara apik oleh sutradara Andres Muchietti. Akting memukau dan terasa amat natural dari Jaiden Lieberher dan kawan-kawan bahkan mampu menyaingi para pemeran dewasa. Music scoring, penataan cahaya, perekaman gambar dan suara, serta grading warna tertata dengan baik. Produksi New Line Cinema yang didistribusikan Warner Bros Pictures ini tidak terjebak pada kisah horor yang melulu berbau eksorsis. Dengan demikian, saya yakin memberikan nilai 9,3 dari 10 untuk film yang diangkat dari novel karya Stephen King ini.

Jadi, sudah siap membersamai Bill Denbrough dan teman-temannya bertemu Pennywise the Dancing Clown?
.
Dio Agung Purwanto
Jakarta, 8 September 2017