Selasa, 06 September 2016

Janji Sewindu

Windu t'lah melayu
Lembayung sudah kelabu
Bertahun kau larut bersama bayu
Lenyap bersama senyap

Windu t'lah menggugu
Sampai sore itu
Kembali kau buka pintu
Pedih disayat sembilu remuk

Saguer asmara yang kureguk
Rupanya racun penuh kutuk
Segala ikrar yang kau nyatakan
Terkubur bersama lema menawan
: duka

Secarik kertas merah jambu
Dua nama, juga namamu
Bertanggal dalam sebulan
Windu kembali membawa sayatan
: sedalam cinta

Dio Agung Purwanto
Kebayoran Baru, 6 September 2016

Secabik Rindu

Samar kudengar lautan bingar
: mendesau
Tergetar mata kalbu kala imaji menyentak waktu
: rantau
Lamun, sungguh jauh
Renung, amat menggusar

Wahai...
Singgasanamu pelepah enau
Kencanamu punggung kerbau

Duhai...
Mahkotamu anyaman jerami
Mestikamu ani-ani
.
"Kau jangan begini, ini capai sekali."
"Pergilah ke ujung negeri, sekali-sekali tengoklah kami."
.
Nun... keriput mengurai gagahmu
Kekal, kau tetap jiwaku

Dio Agung Purwanto
Bintaro, 3 April 2016

Senin, 08 Agustus 2016

Bahasa Ungu

Tak perlu lema mengurai rasa
Karena ia tanpa bahasa
Ungu, menancap jauh ke dasar ternadir
Tanpa pembelajaran diftong yang kerap rancu

Ia hanya ungu, rentaknya redam ke inti nadi
Tanpa perlu alasan, hanya degup yang tahu

(Bintaro, 8 Agustus 2016)

Kamis, 04 Agustus 2016

Pada Mata Angin Kutitipkan Secarik Dendam

Akarnya berserabut,
menghujam ke dasar ternadir
Liangnya menganga,
kukubur bersama pasir
Bumi pun bersaksi,
sisa-sisanya t'lah kusiram derasnya air

Asa yang sempat membara, t'lah kurobek menjadi perca. Perca yang telah terpisah, kutebar ke empat penjuru mata angin. Angin yang semakin mendesau, merangkul gemintang di atas surau. Tidakkah kau saksikan bara itu telah kuredam? Kugenggam hingga padam.

Lalu kau tiup kembali sporanya;
Kemudian kau semai kembali tunasnya;
Lantas kau tebar kembali benihnya;

Kau kejam!

(Bintaro, 4 Agustus 2016)