Bukanlah janji akan harta berlimpah, ini adalah semangat berubah.
Harap tiada 'kan sirna, atas segala rengkuh yang tak jarang terkoyak luka.
T'lah kutautkan asa, t'lah kubentangkan sayap muda, t’lah kutapakkan ringkihnya kaki untuk berjalan mengarung dunia.
Serabut kerja bapak, satu semangat tak tertara. Lembut usap tangan ibu, renda terindah seluruh dunia.
Tak perlu berbanyak lema, sudah nyatalah bukti kasih.
Merapal segala gundah, meredam semua gelisah. Karena kutahu ada sinar di depan sana.
Duka? Tak mengapa. Takut? Bukanlah jiwa seorang ksatria.
Tika telah diputuskan, ini bukan lagi sekadar persoalan angan.
Tak peduli bungsu, tak peduli tunggal. Rantauan memberikan label sebagai lelaki.
Ya, lelaki. Takut merantau? Siaplah dikebiri!!
Labuhkanlah hati, tapi tetap jaga diri!
Tak berhati-hati? Siapkanlah diri makan hati.
Tapi risiko bukan untuk dihindari, ini tentang pundak lelaki.
Tak mau mengambilnya, sudahlah pulang saja! Sekali lagi, siaplah dikebiri!
Kata insan berilmu, tinggi risiko tinggi martabat. Sebab risiko berikan timbal balik.
Bukan, bukan risiko tak beradab yang bisa kau ambil!
Serantau-rantaunya tubuhmu, bukan Tuhan namanya jika meluputkanmu.
Karena bukan tanah sendiri, baiklah ia mengingatkan diri.
Sujudmu di rantauan, sama perlunya dengan ruku'-mu di tanah handai taulan.
Bahkan dengan semua hal di rantauan, seyogyanya dewasamu lebih cepat matang.
Maka di tanah orang, singkapkanlah lengan bajumu.
Maka di rantau orang, bentangkanlah kain tipismu.
Maka di rantau orang, lebarkanlah senyummu.
Maka di adat orang, tunaikanlah hak tetanggamu.
Maka di adat orang, berikanlah kebermanfaatanmu.
Karena jika tak mau, sekali lagi, bersiaplah kau dikebiri!!
Terluncur di Jurangmangu, pengawal hari di 4 Oktober 2011.
Selasa, 04 Oktober 2011
Kamis, 29 September 2011
Ikhwan dan Distorsi Budaya Membaca
Ada sebuah fenomena yang cukup menggejala yang saya tangkap setelah sekian lama memerhatikannya. Fenomena seperti ini seyogyanya tidak perlu terus berlanjut, dan harus segera diselesaikan agar generasi penerus tidak tergerus oleh kebiasaan buruk yang membawa masa depan terpuruk. Fenomena itu adalah terdistorsinya minat membaca di kalangan ikhwan, sebutan/istilah bagi para lelaki aktivis yang mengaku dirinya memperjuangkan dakwah islamiyah. Apa pasal? Ada beberapa penyebab yang membuat fenomena ini semakin menggejala.
1. Padatnya Aktivitas
Aktivitas yang padat mau tidak mau membuat banyak energi dan waktu yang terkuras. Hingga memang sering muncul perasaan penat dalam keseharian para ikhwan. Manusiawi memang, siapa pun di antara kita secara alamiah pasti merasakan kepenatan fisik lantaran berbagai agenda yang memenuhi ruang waktu kita. Tetapi menjadi tidak wajar ketika pemenuhan hak fikriyah kita terhambat lantaran kita merasa sudah cukup dengan segenap aktivitas tersebut tanpa perlu upgrading yang memadai. Kuncinya adalah pemaksaan. Konsekuensi logis atas kesediaan mengemban banyak amanah adalah banyaknya hal yang harus dikorbankan dan diperjuangkan. Hak fikriyah kita ini bukan sesuatu yang boleh dikorbankan, melainkan harus diperjuangkan!
2. Hanyut dalam Kegiatan Lain
Akun facebook sangat sering dibuka, film terbaru sangat update, info pemain bola tak pernah ketinggalan. Tapi membaca buku? Nanti siang saja, lalu nanti sore, nanti malam, hingga mata pun terpejam dan pagi menyambut. Aktivitas lain sudah menunggu. Buku? Nanti sajalah setelah mendapatkan ‘hidayah’. Sekalinya ada pembahasan mengenai hal ini di forum halaqoh pekanan, semangat menggelora luar biasa untuk mencapai target sekian halaman per hari. Selesai halaqoh, aktivitas lain ternyata lebih menarik. Pencapaian target membaca buku? Ah, nanti sajalah!
3. Tebang Pilih
Ada tugas dari murobbi! Membuat resume Majmu’atur Rosail. Pinjam ke mana ya? Ah, mungkin al-akh yang itu punya softcopy-nya. Bagi donk! Kan bisa copy-paste-edit. Ketika disuruh menjelaskan, Antum sajalah, Ana menanggapi saja.
Ada novel baru! Penjahit Cinta, Ketika Cinta Bersin, cover-nya wanita bercadar! Ah, beli ah! Dua hari, kelar!
Berkunjung ke kos salah satu al-akh. Idih, apa ini? Annida, Ummi? Itu kan bacaan akhwat? Hmm, pantas saja akhwat cerdas. Lalu bacaan ikhwan apa? Sabili terlalu berat, koran itu-itu saja beritanya, Majalah Tempo kontroversial mulu, masa iya baca Playboy atau Men’s Health? Ah, katalog saja. Ada diskon di supermarket itu, mari belanja!
Masih banyak yang lainnya, tapi saya rasa cukup ini sajalah yang diungkapkan. Ah, malu rasanya. Masih pantaskah berlagak sok hebat? Sementara kepala nyaris kosong.
Jurangmangu, 29 September 2011
Gambar: antarafoto.com
Kamis, 01 September 2011
Surat Cinta Untuk Kekasih yang Telah Pergi
Untuk kekasihku yang telah pergi meninggalkanku.
Kusambut pagi ini dengan berusaha menceriakan diri. Namun semua telah berbeda. Pagi yang sudah tak seindah dulu lagi, bersamamu, Kasih....
Kasihku. Dulu saat bersamamu, azan subuh kunikmati di masjid setelah dini hari yang indah menunaikan sunah Rasul yang membuat perut kenyang. Tapi subuh tadi, azan hanya seperti alarm yang membangunkanku dari lelap. Alhamdulillah, masih ada satu rakaat di masjid yang bisa kuikuti.
Seusai subuh, dulu bersamamu aku menghabiskan pagi dengan lantunan firman Tuhan yang menyejukkan jiwa. Namun pagi ini, ada tayangan tv yang lebih menarik perhatianku.
Kasihku. Belum juga sepekan kau tinggalkan diriku. Namun pilek, sakit kerongkongan, dan sakit perut telah menghampiriku. Bebas makan dan minum di siang hari, membuatku lahap menyantap semua hidangan yang memang selalu menggoda. Padahal saat bersamamu, pola makanku sangat teratur dan sehat.
Duhai kasihku, cepat nian kau tinggalkan aku. Baru sebulan bersamamu, kau sudah pergi entah mungkin tak akan kembali. Namun kau tahu, Kekasihku? Sungguh aku tetap merindukanmu, dan berharap akan berjumpa lagi denganmu. Semoga kebersamaan denganmu, yang ternyata begitu singkat, memberikan warna yang membekas dalam hari-hariku.
Kau tinggalkan diriku, entah apakah akan bertemu lagi. Duhai kasihku, aku selalu merindukanmu. Jika nanti aku bertemu lagi denganmu, banyak sekali yang ingin kulakukan bersamamu. Berpuasa, tarawih, tadarus, infaq, dan semuanya lebih intens. Aku tahu kau mengharapkan bahwa kebersamaan denganmu yang sebulan itu tak lewat begitu saja. Iya, Kasihku. Aku pun berharap demikian, agar hari-hariku tetap dipenuhi kebaikan seperti bersamamu dulu.
Selamat jalan, Kasihku. Terima kasih atas waktu yang sebulan itu, terima kasih atas semua kebersamaan itu.
Jurangmangu, 1 September 2011
Gambar: http://davidguettagalleries.blogspot.com/2011/08/ramadhan-2011-images.html
Kusambut pagi ini dengan berusaha menceriakan diri. Namun semua telah berbeda. Pagi yang sudah tak seindah dulu lagi, bersamamu, Kasih....
Kasihku. Dulu saat bersamamu, azan subuh kunikmati di masjid setelah dini hari yang indah menunaikan sunah Rasul yang membuat perut kenyang. Tapi subuh tadi, azan hanya seperti alarm yang membangunkanku dari lelap. Alhamdulillah, masih ada satu rakaat di masjid yang bisa kuikuti.
Seusai subuh, dulu bersamamu aku menghabiskan pagi dengan lantunan firman Tuhan yang menyejukkan jiwa. Namun pagi ini, ada tayangan tv yang lebih menarik perhatianku.
Kasihku. Belum juga sepekan kau tinggalkan diriku. Namun pilek, sakit kerongkongan, dan sakit perut telah menghampiriku. Bebas makan dan minum di siang hari, membuatku lahap menyantap semua hidangan yang memang selalu menggoda. Padahal saat bersamamu, pola makanku sangat teratur dan sehat.
Duhai kasihku, cepat nian kau tinggalkan aku. Baru sebulan bersamamu, kau sudah pergi entah mungkin tak akan kembali. Namun kau tahu, Kekasihku? Sungguh aku tetap merindukanmu, dan berharap akan berjumpa lagi denganmu. Semoga kebersamaan denganmu, yang ternyata begitu singkat, memberikan warna yang membekas dalam hari-hariku.
Kau tinggalkan diriku, entah apakah akan bertemu lagi. Duhai kasihku, aku selalu merindukanmu. Jika nanti aku bertemu lagi denganmu, banyak sekali yang ingin kulakukan bersamamu. Berpuasa, tarawih, tadarus, infaq, dan semuanya lebih intens. Aku tahu kau mengharapkan bahwa kebersamaan denganmu yang sebulan itu tak lewat begitu saja. Iya, Kasihku. Aku pun berharap demikian, agar hari-hariku tetap dipenuhi kebaikan seperti bersamamu dulu.
Selamat jalan, Kasihku. Terima kasih atas waktu yang sebulan itu, terima kasih atas semua kebersamaan itu.
Jurangmangu, 1 September 2011
Gambar: http://davidguettagalleries.blogspot.com/2011/08/ramadhan-2011-images.html
Senin, 22 Agustus 2011
Untuk Para Aktivis Kampus
“Gua maunya jadi panitia yang dapet jaket ama kaos, tapi kerjanya nggak capek-capek amat,” demikian kira-kira seorang teman berujar ketika saya menawarinya untuk ikut mendaftar menjadi panitia sebuah acara beberapa waktu lalu. Pernyataan yang meluncur dengan ringannya dalam suasana yang santai ini agaknya memang perlu kita perhatikan. Terutama bagi orang-orang yang mengaku dirinya ‘aktivis kampus’ (karena seperti itulah orang lain menyebutnya) lantaran berbagai kepanitiaan dan organisasi yang kerap diikutinya di kampus dan sekitarnya.
Sepintas, kita mungkin menganggap teman yang satu ini belum memahami seluk-beluk dunia kepanitiaan dan organisasi. Bahkan mungkin sebagian dari kita langsung memberikan cap ‘apatis’ kepada dirinya. Atau jika sang aktivis kampus juga merupakan seorang ekstrimis, bukan tidak mungkin teman yang satu ini langsung diberondong dengan sejumlah pernyataan yang menyudutkan tentang selorohannya. Ujung-ujungnya, perselisihan tidak dapat dihindari.
Sobat, mari kita review lagi perjalanan ‘keaktivisan’ kita. Seperti apa sosok kita dalam segudang aktivitas yang berkejaran dengan ruang dan waktu? Apakah kita benar-benar sibuk, atau hanya merasa sibuk? Seperti apa wajah kita ketika menyambut teman-teman kita di saat pekerjaan menumpuk masih membebani kita?
Kita, orang-orang yang mengaku sebagai aktivis, bahkan terkadang jenuh dengan formasi kepanitiaan yang tidak jauh dari orang-orang yang itu-itu juga. Kampus kita diisi oleh banyak sekali manusia yang diberi akal, jiwa, dan jasad, sama seperti kita. Akan tetapi, hanya sejumlah kecil orang-orang yang mau merelakan dirinya menjadi pengelola berbagai event dan organisasi kampus. Apa yang terjadi sebenarnya? Benarkah teman-teman kita itu yang apatis, atau justru kita yang mendorong mereka bersikap demikian?
Sungguh, saya sendiri bosan dengan kata ‘apatis’ yang sudah terlampau sering diangkat menjadi pembicaraan teman-teman para aktivis kampus. Tapi apa dinyana, kita tidak mungkin membiarkan gejala ini begitu saja karena kita (langsung atau tidak langsung) sudah menyatakan diri memiliki social responsibility yang tentu harus diaplikasikan di mana pun berada. Kitalah yang harus mengusir virus-virus apatisme itu.
Lalu apa yang bisa kita lakukan? Mari kita mulai dari hal yang kecil. Coba ingat kembali rona wajah kita ketika bertemu teman-teman kita di saat sejumlah tugas kepanitiaan dan organisasi bertumpuk di ruang pikiran kita. Berapa banyak senyum mereka yang kita abaikan? Seberapa sering kita meninggalkan mereka begitu saja saat obrolan ringan baru saja akan bermula? Berapa wajah yang kita acuhkan ketika dengan sengaja mengarah kepada kita berharap say hello meluncur dari mulut kita? Pantas saja mereka beranggapan bahwa aktivitas-aktivitas tersebut mengekang kebebasan hidup kita. Wajar jika banyak teman kita yang paranoid dengan kepanitiaan dan organisasi. Kita sering terlihat seperti disiksa oleh setumpuk tugas, lesu lantaran berjibaku dalam sejumlah rapat, dan kerap menampakkan sikap seolah berkata, “Jangan ganggu aku, aku sedang sibuk!”
Rona wajah kita mungkin agak cerah ketika mendapatkan reward kepanitiaan berupa kaos, jaket, topi, pin, atau ketika mendapatkan nametag kepanitiaan yang membuat berbangga hati. Maka jangan heran, itulah yang ditangkap oleh pikiran teman-teman kita. Keikhlasan seolah sudah tiada artinya lagi. Aktivitas-aktivitas itu lebih tampak hanya sebuah upaya memperpanjang curriculum vitae. Sedangkan kuliah tidak jarang dikorbankan, langsung atau tidak langsung.
Alhasil, muncullah anggapan itu. Anggapan yang ujung-ujungnya membuat gerah telinga kita juga. Masa iya ikut kepanitiaan cuma menginginkan reward? Sepintas mereka yang beranggapan seperti itu sering kita anggap “tidak tahu diri”. Tapi sebenarnya bisa jadi kitalah, para aktivis, yang tidak tahu diri. Sudah diberikan anugerah berupa semangat berkontribusi, tetapi tidak dikelola dengan baik. Malah sebaliknya, kontribusi kita malah menghambat orang lain yang sebenarnya memiliki keinginan juga untuk menyumbangkan tenaga, pikiran, dan waktunya. Jika pun mereka surut ke belakang, boleh jadi karena mereka melihat para aktivis yang kuliahnya terganggu, sering tidur di kelas, raut muka yang senantiasa kelelahan, senyum yang susah mengembang, kening yang sering berkerut tegang, bahkan rambut yang cepat beruban.
Masya Allah. Apakah ini bisa menjadi dosa? Semoga saja tidak. Semoga sisa umur ini bisa kita gunakan memperbaiki image seorang aktivis. Bahwa aktivis itu menjalani aktivitasnya penuh sukacita, keikhlasan, dan kesadaran berkontribusi. Lalu marilah kita berdoa agar semua yang telah kita kontribusikan berdampak positif dan bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Amiiin....
Ditulis pada 22 Agustus 2010, diselesaikan pada 26 Mei 2011.
Gambar: http://inwdahsyat.wordpress.com/2010/01/20/sebagian-wajah-baru-kampus-stan/
Langganan:
Postingan (Atom)


