Senin, 28 November 2011

Tentang Psy Trap, Bukti Tipikal Sebagian Mahasiswa STAN Doyan Rumpi

Proses Kreatif
Sumber gambar: majalah.hidayatullah.com/?p=690

Beberapa waktu lalu, saya sempat ‘menelurkan’ sebuah tulisan ringan dengan judul “Psy Trap, Modus Mengesalkan Ala Sebagian Mahasiswa STAN”. Tulisan ringan ini saya tulis sepekan menjelang teman-teman Mahasiswa DIII Reguler menjalani UTS kali ini, lalu saya publikasikan melalui note di facebook dan melalui dua blog saya. Motivasinya sederhana, saya ingin mengasah keterampilan saya dalam menulis. Secara kebetulan, saat itu saya baru saja membahas hal yang sama bersama teman saya di twitter. Saya melihat ada celah untuk menyampaikan amanat melalui tulisan bertema ringan ini, yakni arti penting sebuah kejujuran dan bersikap fair, maka mulailah tuts keyboard laptop saya mainkan.

Semula saya ingin menggunakan istilah psy war yang sudah lebih umum digunakan. Tapi setelah saya telaah, yang namanya war  alias perang kan ada hubungan timbal balik? Sementara yang ingin saya bahas ini perilaku satu arah. Maka dari itu, muncullah istilah yang saya ‘lahirkan’ sendiri: psy trap. Demi kehati-hatian, judulnya pun saya pilih dengan kata ‘sebagian’, karena memang tidak bisa digeneralisasi. Saya tidak pernah menyangka, apalagi berharap, tulisan saya yang satu ini menjadi buah bibir.

Penyebaran

Sepekan kemudian, saya mendapatkan sms dari seorang teman bahwa tulisan saya yang satu ini mulai ramai diperbincangkan. Alhamdulillah, berarti akan banyak yang mengambil pelajaran dari tulisan saya ini. Beberapa orang bahkan menyatakan langsung kepada saya bahwa tulisan saya tentang psy trap cukup menghibur, saya tanggapi dengan senyuman.

Akan tetapi, di pekan pertama UTS bagi Mahasiswa DIII Reguler STAN, blog saya mulai banyak dikunjungi. Beberapa orang meninggalkan komentar. Dari sinilah, saya mulai merasa aneh dengan komentar mereka. Ada yang sekadar minta ijin share, tapi sayangnya ada pula yang sampai mencaci-maki dengan hebohnya. Sebetulnya saya sempat berniat menjawab langsung komentar mereka, tapi saya pikir tak ada gunanya meladeni orang yang sedang dikuasai amarah, maka saya hanya berkomentar seperlunya saja.

Suatu hal yang tak pernah saya sangka, tulisan saya yang satu ini menjadi buah bibir. Padahal masih banyak judul lain di blog saya, yang mungkin lebih menarik untuk didiskusikan. Sayangnya, topik-topik itu mungkin kurang stunning untuk menjadi bahan ngerumpi.

Sudah Tradisi

Menyaksikan fenomena ini, ingatan saya kembali ke pengalaman selama tiga tahun sebagai Mahasiswa STAN. Ternyata, kehebohan semacam ini bukan baru sekali ini terjadi. Ada beberapa momen yang sukses memancing komentar yang tidak sedikit, sayangnya komentar itu kebanyakan tidak bermutu. Ah, mungkin ada mutunya, KW sekian.

Saya masih ingat ketika saya masih tingkat satu, isu pertama yang saya dapati adalah tentang sikap paranoid terhadap dua huruf: DO. Lucunya saat itu beredar kabar bahwa penggunaan logo STAN sembarangan berakibat fatal hingga menyebabkan DO. Maka pembuatan kaus seragam kelas kami pun urung menggunakan logo STAN.

Saat saya menjadi Koordinator Pusat STAN Fest 2011, berbagai isu mengenai rangkaian acara itu menggema menjadi topik hangat yang memancing berbagai komentar. Entah itu niat berkomentar memberikan tanggapan atau sekadar ingin eksis namanya. Entah itu mengerti duduk permasalahannya atau hanya ikut-ikutan belaka. Yang penting, comment!!

Saat angkatan saya sibuk mempersiapkan KTTA pun, hal serupa pernah terjadi. Pengumuman belum ada, sudah banyak yang sok tahu ini-itu. Anehnya, ditanggapi banyak orang! Sudah jelas ketentuan penyusunan KTTA poin demi poin, masih saja ada yang mempertanyakan hal yang sudah jelas. Lucunya, ditanggapi banyak orang!
Ada momen-momen lain, termasuk bahkan Wisuda 2011 silam. Ramai sekali orang yang memperbincangkan hal-hal yang tidak ada esensinya tentang wisuda. Sedikit gosip saja mudah menyebar, membuat panitia pun bingung menyimak ‘diskusi’ (lebih tepatnya aktvitas ngerumpi) para calon wisudawan. Bahkan seusai wisuda pun, mulai muncul gosip-gosip pemberkasan. Dan seringkali perbincangan ngelantur  ke mana-mana tanpa arah.

Sebagian Doyan Rumpi

Saya berharap judul tulisan saya kali ini diperhatikan dengan baik, bahwa saya tidak menggeneralisasi Mahasiswa STAN. Saya hanya mendapati bahwa fenomena yang terjadi berulang-ulang ini mengantarkan saya pada satu kesimpulan bahwa tipikal sebagian mahasiswa STAN adalah doyan ngerumpi. Apapun isunya, kalau menarik untuk dicaci-maki dan dikomentari, maka akan menyebar dengan cepat sekali.

Sebenarnya ini sebuah hal yang potensial, bahwa Mahasiswa STAN banyak yang asertif dan berani menyampaikan pendapatnya. Akan tetapi, wadah yang ada justru tidak dimanfaatkan dengan baik. Ada event pertemuan mahasiswa dan lembaga dalam satu forum, yang datang tidak seberapa. Ada rekruitmen PKAKP, yang mengajukan diri tak seberapa. Ada Media Center dengan Civitas-nya, yang mengajukan tulisan tak begitu banyak. Atau minimal ada koneksi internet yang memadai dan blog gratis di sana-sini, malas sekali membundel ide-idenya dalam bentuk tulisan yang disampaikan ke khalayak. Sebagian Mahasiswa STAN lebih suka ngerumpi, menilai negatif pendapat orang tanpa mau memberikan solusi.

Terkait tulisan saya tentang psy trap, saya sangat menyayangkan sikap sebagian mahasiswa yang malah sibuk ngerumpi. Bukan pesan yang saya sampaikan dalam tulisan itu yang dicamkan dalam hati, malah modus-modus yang saya sampaikan yang lebih digemari. Sebenarnya mereka sendiri yang rugi, sementara saya terus mengambil manfaat untuk berlatih menulis dan menulis, serta menyampaikan pesan-pesan dan pemikiran saya melalui tulisan-tulisan saya. Semoga tipikal itu segera berubah, karena saya juga pernah menjadi bagian Mahasiswa STAN.

Jurangmangu, 28 Nopember 2011
Selamat menjalani penghujung UTS kali ini, semoga mahasiswa muslim berkah dalam ridho Allah.

Sabtu, 26 November 2011

Pengakuan (Eks) Mahasiswa Bandel

Saat ini, masa-masa tiga tahun menjadi mahasiswa itu seolah berkelebat dalam ingatan. Ada banyak hal manis yang bisa dikenang, dan sebetulnya juga bisa diambil pelajaran. Dan kali ini, saya ingin membuat sebuah pengakuan. Pengakuan dari seorang mantan mahasiswa yang juga calon mahasiswa (DIV/S1, S2, S3), bahwa ternyata dulu ketika menjadi Mahasiswa DIII STAN, saya terhitung bandel juga. Ternyata kuliah di kampus yang tiap semester ada yang drop out itu tidak menyurutkan kebandelan saya.

Malu? Iya juga sih. Tapi semoga ini bukan aib. Baik, berikut bentuk-bentuk bandelnya saya sebagai mahasiswa.

Tidur di Kelas

Dosen yang hanya duduk di depan kelas, membacakan buku, sesekali menulis di papan tulis, tidak interaktif. Apalagi siang-siang cuaca terik, baru makan siang pula! Wah, sedikit buaian angin sepertinya sangat lembut dan mengantarkan jiwa ke awang-awang. Melayang, terbang, dan plop! Mata tertutup, telinga semakin samar mendengar, kepala pun terangguk-angguk. Pernah bahkan sampai ngences. Iya, betul! Untung saya selalu sedia sapu tangan atau tissue di saku kemeja.

Aktivitas tidur di kelas yang paling parah ketika semester pertama. Dosen Principal Accounting namanya Cucu Pujasetia. Saya hampir selalu datang di ‘kloter’ terakhir dibandingkan teman-teman sekelas, maka saya selalu kebagian duduk di deretan bangku paling depan. Delapan belas menit pertama masih sibuk mencatat dan memperhatikan. Lalu mata mulai sayu, tangan lemas, pendengaran memudar, tidur. Posisi duduk saya sendirian di depan, tepat berhadapan dengan meja dosen. Dan ini tidurnya bukan dalam posisi duduk saja, benar-benar tertelungkup ke meja. Lucunya, Pak Cucu hanya melihat dan sesekali tersenyum. Hingga pelajaran hampir berakhir, Pak Cucu memberikan kesempatan bagi yang ingin bertanya. Parahnya, saya malah angkat tangan! Jamin dah itu teman-teman sekelas pasti ada yang jengkel.

Tidak Mengerjakan Tugas

Kebandelan yang satu ini sering terjadi di semester ketiga dan semester keempat. Aktivitas di luar kuliah yang cukup menyita waktu dan tenaga memang sering membuat saya melalaikan tugas kuliah. Sebenarnya bukan karena aktivitas-aktivitas itu, melainkan prioritas waktu saya yang tidak ditata dengan baik. Sudahlah pulang malam, buku yang dibuka bukan buku pelajaran. Ada tugas? Nanti sajalah. Ujung-ujungnya malah tertidur, tugas pun lewat. Seringnya saya kerjakan hanya sebagian. Ketika diminta mengumpulkan tugas, saya ikutan. Tapi ya itu, teman-teman satu bundelan, saya cuma tiga halaman. Itu pun kadang seenaknya saya saja menjawab, bahkan ada yang salah soal tetap saya kumpulkan.

Satu yang masih mengganjal bagi saya. Saat itu ada tugas mata kuliah Hukum Perdata dan Bisnis. Sebagai tugas akhir semester, Pak Bambang memberikan tugas membandingkan dua buah peraturan perundang-undangan. Dan parahnya, sampai sekarang saya tidak mengumpulkan tugas tersebut. Sampai sekarang, dan hanya saya seorang! Pak Bambang pun sudah tak terlihat mengajar di STAN.

Maka dari itulah, tak perlu heran semester ketiga dan keempat berturut-turut 2,87 dan 2,96. Dan saya pun teramat santai menghadapinya. Aneh, bukan?

Terlambat Kuliah

Ada-ada saja yang membuat saya terlambat kuliah. Mulai dari aktivitas kepanitiaan, terlambat mandi, nonton tv, sampai dengan sengaja memperlambat tempo berjalan. Apalagi kalau saya sudah hapal dosennya akan terlambat sekian puluh menit, makin asyik tuh petantang-petenteng. Ee...begitu saya masuk kelas, ketua kelas mengumumkan bahwa kuliahnya batal. Nah, rugi kan yang datang duluan? Logika saya memang aneh.

Pernah dulu saat kuliahnya Pak Diaz, dosen Perpajakan II, saya datang terlambat yang kebangetan. Pak Diaz memang berpesan jika ada mahasiswa yang terlambat karena suatu urusan, harap mengirimkan sms kepada beliau. Dan saya sore itu memang sedang menghadiri sebuah acara, walaupun sebenarnya bisa saya tinggalkan. Saya pun mengirimkan sms ke Pak Diaz, akan hadir menjelang jam empat sore, padahal kuliah sudah dimulai jam dua siang. Dan begitu saya datang, tidak sampai setengah jam, kuliah selesai.

Lain lagi halnya dengan Pak Luther, dosen Perpajakan I. Beliau dikenal ramah dan sebenarnya suka bercanda, meskipun dengan logat Batak-nya yang khas. Biasanya, Pak Luther ini terlambat sekitar lima belas menit, dan saya sudah hapal kebiasaan beliau. Akan tetapi suatu hari, kuliah dimulai pukul 8.00, saya tepat tiba di muka pintu kelas pukul 8.06. Pak Luther sudah di kelas, dan dua orang teman saya yang terlambat tidak diperkenankan masuk, apapun alasannya. Mendapati dua teman saya tidak diperbolehkan masuk, saya urung minta ijin masuk kelas. Saya pikir pasti saya juga tidak diperbolehkan masuk. Ya sudah, saya pulang saja. Tanpa mengetuk pintu kelas pun!

Berpenampilan Tidak Sesuai Aturan

Dalam ketentuan yang berlaku, ada aturan-aturan khusus dalam berpenampilan bagi Mahasiswa STAN. Sebut saja tentang rambut yang tidak menutupi telinga-alis-kerah baju, kemeja polos dengan pilihan warna yang ditentukan, celana katun gelap, dan sepatu. Kecuali potongan rambut, saya pernah melanggar semua itu! Di-list sajalah pakaian yang pernah saya kenakan:
  1. Kaus berkerah
  2. Kemeja batik
  3. Kemeja Panitia Dinamika 2009
  4. Celana jeans
  5. Celana gunung
  6. Sandal
  7. Baju koko
  8. Kemeja kotak-kotak

Pakaian yang tidak sempat saya gunakan adalah perpaduan jeans dan kaus oblong. Terlalu nekad juga kalau sampai kuliah dengan pakaian seperti itu.

Mendebat Direktur

Di perguruan tinggi pada umumnya, mungkin menjadi hal biasa ketika ada mahasiswa yang berunjuk rasa kepada rektor. Tetapi bagi Mahasiswa STAN, sebuah hal yang tabu dan penuh risiko untuk melakukan hal serupa kepada direktur. Saya pernah melakukannya, mendebat Pak Kusmanadji, Direktur STAN.

Saat itu saya menjadi Koordinator Pusat STAN Annual Festival 2011. Salah satu acara dalam rangkaian dies natalis STAN itu sudah fix menggunakan Gedung G. Beberapa hari menjelang acara digelar, rupanya ada kabar bahwa akan diadakan reuni Alumni STAN angkatan 1982 (angkatan Pak Kusmanadji). Hebohlah panitia, kebingungan menyiasati acara.

Sebagai koordinator pusat, saya mengambil langkah untuk menemui direktur secara langsung. Sebenarnya saya sudah yakin akan seperti apa jawaban beliau, tapi saya tetap ngotot. Hasilnya? Saya sampai panik sendiri setelah mendebat beliau, tanpa perubahan keputusan. Alhasil, hingga puncak penutupan STAN Fest 2011 pun, Pak Kusmanadji masih sangat mengenali saya dan menunjukkan sikap tidak respect. Oo, seraaam!!

Datang Paling Akhir, Pergi Paling Awal

Nah, ini kalau musim ujian. Saya tidak begitu suka menyimak perbincangan teman-teman di ruangan saat menit-menit menjelang ujian dilaksanakan, pun mendengar celotehan mereka tentang ujian yang baru dilaksanakan setelah keluar dari ruangan. Makanya, saya hampir selalu datang ujian saat pengawas sudah ada di ruangan, dan segera meninggalkan kelas jika saya rasa sudah cukup menjawab soal-soal ujian. Tak peduli meskipun belum ada satupun teman satu ruangan yang keluar.

Karena demikian lancar? Tidak juga. Sering saya menemukan jalan buntu saat menjawab soal-soal ujian. Lantas saya menjawab tanpa kaidah yang berlaku, saya buat ketentuan sendiri. Alhamdulillah, nyatanya lulus juga.

Bolos Kuliah

Ketentuan bagi Mahasiswa STAN untuk bisa mengikuti ujian adalah kehadiran tatap muka minimal 80%. Itu artinya, dalam tiap semester, ada dua sampai tiga kali kesempatan untuk tidak menghadiri perkuliahan untuk masing-masing mata kuliah. Dan selama menjadi Mahasiswa DIII STAN, hampir semua mata kuliah saya ambil ‘jatah bolos’-nya. Bahkan jika sudah akhir semester dan saya belum pernah absen di mata kuliah tertentu, malah sengaja bolos.

Alasan bolos pun bermacam-macam. Kalau sakit, itu tak bisa saya elakkan. Tapi yang lain juga sering. Bolos karena ikut unjuk rasa, menjadi panitia pemira, ikut seminar, menjadi pembawa acara, atau bahkan bolos di kuliah pagi agar bisa mengerjakan tugas untuk kuliah siang.


Ya, begitulah saya di masa kuliah DIII STAN. Tidak patut dicontoh memang, dan bukan sesuatu yang bisa dibanggakan. Namun demikian, saya bersyukur bisa lulus hingga yudisium dengan segala kebandelan saya sebagai mahasiswa. Mungkin masih ada yang terlewatkan dari yang saya ceritakan ini.

Akan tetapi, perlu dicatat. Kebandelan saya masih dalam batas yang bisa saya ukur. Saya memang tidak pernah mendapatkan IP/IPK cumlaude dalam tiga tahun ini, tetapi saya mengambil batas aman untuk tidak perlu dipanggil ke Sekretariat STAN karena nilai saya yang sangat rawan mendekati ambang batas drop out, misalnya. Saya memang pernah berpakaian tidak sesuai aturan, tetapi saya tahu karakter dosen saya saat saya memutuskan berpenampilan seperti itu. Saya memang mendebat direktur, tetapi saya tidak melupakan batasan-batasan komunikasi yang sopan kepada beliau.

Semoga saja kebandelan ini tidak terus-menerus melekat sebagai kebiasaan buruk. Seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup, semoga semua itu bisa menjadi pelajaran yang mendewasakan. Ya, pelajaran dari kenangan yang tak terlupakan bahwa pernah menjadi Mahasiswa STAN dan lulus! Alhamdulillah....

­­Jurangmangu, 26 Nopember 2011.
Mari sambut psikotes dengan gembira!!

Jumat, 25 November 2011

Echi dan Om Penculik

Echi kelas dua, cantik dan energik. Selalu berjilbab dan berpakaian rapi, mirip sekali ummi-nya. Echi pandai menari, tari yang paling ia suka Tari Saman. Echi paling tidak suka kalau disuruh menarikan tari Bali, apalagi Jaipongan. Echi juga suka main lompat tali.

Hari ini hari sabtu, sekolah Echi libur. Seperti biasa, Echi membantu ummi membersihkan rumah. Echi kebagian ruang tamu dan kamar tidurnya. Kakaknya, Edi, kebagian membersihkan kamar mandi dan dapur.

Selesai membersihkan ruang tamu dan kamarnya, Echi merasa letih sekali. Tapi ia senang, bisa membantu ummi. Jam sembilan, Echi pamit ke ummi. Echi mau main di lapangan. Sebelum Echi pergi, ummi memberikan uang jajan tambahan, bonus untuk Echi yang sudah membantu ummi.

“Ih, Ummi. Echi kan bantu ummi bukan buat uang?” Echi merajuk manja.

“Nggak apa-apa, kamu kan seneng banget es krim-nya Mang Eji? Biasanya bentar lagi dia nongkrong di lapangan.” Ummi menjawab lembut.

“Iya, Mi. Makasih ya, Miii. Echi cintaaa banget ama Ummi.” Echi mencium ummi.

“Iya, ummi juga cintaaaa banget ama Echi.” Ummi memeluk Echi.

Echi berpamitan, dan dengan langkah riang, Echi pun pergi ke lapangan.

Lapangan desa tempat favorit Echi. Lapangannya luas, rumputnya segar, di pinggir lapangan banyak bunga berwarna-warni. Banyak yang bermain di sana. Ada yang bersepeda, main layangan, petak umpet, ada juga yang sibuk utak-atik hape. Echi paling sebal melihat temannya yang sibuk dengan hape di lapangan.

Nah, itu Mang Eji!

Echi berlari menuju Mang Eji. Kali ini Mang Eji memakai baju dan celana serba batik. Echi senang sekali, ia pun bertanya kepada Mang Eji.

“Mang Eji dapet batiknya dari mana? Bagus deh...!” Echi memuji pakaian Mang Eji.

“Oh, ini oleh-oleh adik Mang Eji dari Pekalongan, Neng.” Mang Eji menjawab sambil mengambil es krim kesukaan Echi, cokelat.

“Oo, bulan lalu Echi juga dibeliin rok batik ama Abi. Besok Echi pake deh, mau tunjukin ke Mang Eji.”

Echi mengambil es krim dari Mang Eji. Tiga ribu rupiah.

Echi duduk di dekat gerobak Mang Eji, ada bunya melati yang sangat wangi di dekatnya. Sambil makan es krim, Echi menceritakan tentang ummi yang memberinya hadiah. Juga tentang abi-nya yang tiga minggu ini dinas di luar kota, abi seorang auditor.

Tiba-tiba ada yang mendekati Echi. Om itu menyapa Echi dengan suara berat dan pelan. Tapi wajahnya tidak terlihat, tertutupi topi lebar. Echi terkejut.

“Om siapa?” Echi bertanya heran.

Orang itu tidak menjawab, dia semakin mendekati Echi. Echi bergidik ngeri.

Secepatnya, Echi berdiri dan berlari. Es krimnya entah ke mana. Echi masih sempat melihat orang itu dan Mang Eji tertawa-tawa. Echi yakin sekali orang itu penculik. Tapi kok Mang Eji??

“Ummii...!! Ummiiii...!” Echi lari kencang ke rumah.

“Ummi, ummi! Assalamu’alaykum Ummiii!!”

“Wa’alaykumuss....”

Echi langsung menubruk ummi.

Sambil terus mendekap erat ummi, Echi menceritakan pertemuannya dengan om penculik tadi.

Tidak lama kemudian, ada yang masuk ke rumah mereka. Itu om penculiknya!!

“Assalamu’alaykum....” Lho, kok suara abi??

Orang itu membuka topi lebarnya.

“Ab...Abi?? Aaah, Abi nakaaaaaal!!” Echi langsung lari dan memeluk abi.

Abi dan ummi terbahak-bahak melihat putrinya yang tadi ketakutan setengah mati.

Rupanya itu abi-nya Echi yang baru pulang dari dinas luar. Tiga minggu tidak bercukur, abi jadi mirip penculik. Echi jadi malu, tidak mengenali abi. Tapi Echi senang sekali, abi membawa oleh-oleh lima kardus pempek! Berarti sore ini Echi bisa membantu ummi bagi-bagi pempek ke tetangga.

Ah, untung bukan om penculik betulan!

Jurangmangu, sore hari di 25 Nopember 2011.
Ayo jadikan anak-anak kita anak yang asertif!!

Kamis, 24 November 2011

Kumpulan Twit Tentang #mSTANpp

Bismillah, saya yg miskin wawasan ini mencoba nekat membahas "Mahasiswa STAN dan Partai Politik". Dengan hashtag #mSTANpp

1. Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (#STAN) adalah Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) di bawah naungan Kemenkeu RI. #mSTANpp

2. Seperti mahasiswa PTK pada umumnya, Mahasiswa #STAN dipersiapkan menjadi abdi negara di lingkungan Kemenkeu. #mSTANpp

3. Jadi sejatinya, Mahasiswa STAN memerankan 2 lakon: #mahasiswa dan #bakalCPNS, dengan segala warna dan tipikalnya. #mSTANpp

4. Tipikal seperti apa? Mahasiswa dengan segala sikap 'kepemudaan'-nya, bakal CPNS dengan segala sikap 'kebirokratan'-nya. #mSTANpp

5. Sebenarnya, kedua lakon ini tidak bertentangan, asalkan dimainkan dengan baik. Sayangnya banyak yg lebay menyikapi lakon ini. #mSTANpp

6. Lebay, karena ada yg 'kelewat mahasiswa' hingga lupa batasan. Lupa kalo dia Mahasiswa PTK, bukan Mahasiswa PTN. #mSTANpp

7. Lebay, karena ada yg 'kelewat birokrat', jadi semuanya kaku gak pake kompromi. Kreativitas tidak berkembang. Kuliah doank. #mSTANpp

8. Saking kakunya, gerak-geriknya kayak robot. Diajakin aksi damai mendukung KPK aja gak mau dengan alasan takut ke-DO. Halah!! #mSTANpp

9. Saking bebasnya, ada yang aktif di partai politik. Nah ini pembahasan sebenarnya. :) #mSTANpp

10. Beberapa teman saya pernah membahas hal ini, dan mereka sepakat tidak layak Mahasiswa STAN terlibat langsung dalam parpol. #mSTANpp

11. Kenapa? Ya itu tadi, kita adalah calon birokrat. Aktif di parpol >> dikader parpol >> jadi pengurus >> melanggar UU. #mSTANpp

12. Atas dasar logika no.11, beberapa orang memanfaatkannya utk menyerang sekelompok orang tertentu. #mSTANpp

13. Alkisah, pernah Ustaz Hidayat Nur Wahid hadir dalam sebuah acara di STAN. Beliau memberikan ceramah yg sangat memotivasi. #mSTANpp

14. Semua tahu siapa HNW, nama beliau sudah lekat sekali dengan salah satu parpol, sebut saja PKS (inisial disamarkan, hhehee). #mSTANpp

15. Tapi, apakah Ustaz HNW hadir di Kampus STAN dlm kapabilitas sebagai orang PKS? Tidak, beliau hadir sebagai guru. #mSTANpp

16. Tidak ada materi tentang PKS di dalamnya, pun atribut PKS. #mSTANpp

17. Sayangnya, ada yg memanfaatkan kesempatan itu utk menghembuskan angin tak sedap kpd Masjid Baitul Maal, penyelenggara acara. #mSTANpp

18. Isu-isu ada keterlibatan PKS dlm struktur LDK bernama 'Masjid Baitul Maal' semakin dilancarkan dgn kehadiran Ustaz HNW. #mSTANpp

19. Saya kader MBM, sedih ingat kejadian twit no.18. Saat itu sangat ingin bereaksi, tapi saya diminta menahan diri. #mSTANpp

20. MBM itu lembaga keagamaan mahasiswa muslim, apakah salah mengundang ustaz? Trus, mesti ngundang pendeta, gitu? #mSTANpp

21. Lupakan tentang Ustaz HNW. Demi menyemarakkan suasana islami, pernah MBM menggelar konser nasyid. Lagi2 diwarnai isu. #mSTANpp

22. Padahal panitia dg tegas sudah melarang atribut partai apapun yg masuk. #mSTANpp

23. Dan tahukah siapa penyelenggara kedua acara itu? MBM. #mSTANpp

24. Di kesempatan lain, ada acara seminar politik. Menghadirkan tokoh-tokoh ternama. #mSTANpp

25. Ada beberapa narasumber, yang paling saya ingat ada Ibas dan Ruhut Sitompul. Semua tahu itu kader Partai Demokrat. #mSTANpp

26. Saya tunggu suara-suara negatif itu, tidak ada! #mSTANpp

27. Lalu sebenarnya yg jadi masalah bagi para penggosip itu, parpol-nya atau MBM-nya? #mSTANpp

28. Hey!! Padahal jelas sekali Ibas-Ruhut datang dalam sebuah acara politik! #mSTANpp

29. Lalu saya bertanya-tanya, sebenarnya di STAN ini adanya PKS atau Partai Demokrat sih? #mSTANpp

30. Saya masih ingat beberapa orang yg sangat mengelu-elukan kehadiran dua kader parpol franchise (Partai Demokrat) itu. #mSTANpp

31. Kalo mau main isu balas isu, darah muda saya saat itu sudah sangat ingin mem-bully mereka. #mSTANpp

32. Tapi saya ini kan anak MBM? Masa iya melakukan hal-hal tidak terhormat dengan black campaign? #mSTANpp

Masih mau membahas #mSTANpp, tapi udah malem. Besok aja kali ya? Mungkin emang agak melebar bahasannya. Maaf deeh. :)

Pagi ini mau lanjut #mSTANpp. Di note saya tercatat sampai no.32 semalem ya? Oke, bismillah.

33. Pertanyaan demi pertanyaan terus berkelebat. Memang membuat sy bingung saat itu. Dan di sinilah pola pikir sy salah kala itu. #mSTANpp

34. Paradigma saya saat itu masih hitam-putih, kalo nggak kita ya mereka, kalo gak putih ya hitam. #mSTANpp

35. Saya ingat sekali waktu itu ada yg menasihati. "Sebenarnya tidak masalah partai apapun terlibat di kegiatan kampus." #mSTANpp

36. Ya, saya yg buta wawasan saat itu hanya melongo dan bertanya-tanya. Yang menasihati saat itu terbilang senior. #mSTANpp

37. "Kampus ini tempat kita belajar memainkan peran, dan di sinilah kita belajar akan banyak hal sebelum terjun ke masyarakat." #mSTANpp

38. "Tidak salah jika ada tokoh-tokoh partai politik menjadi pengisi acara di kampus. Toh mereka juga punya peran lain." #mSTANpp

39. "Karena selain politisi, mereka pasti punya kapabilitas sebagai ustaz, businessman, dosen, dsb." #mSTANpp

40. "Yang jadi masalah justru pola pikir kamu ini. Mudah terbawa suasana, yg hanya memandang dari satu sisi." Saya pun #terdiam. #mSTANpp

41. "Yg salah ketika kalian terlibat secara langsung menjadi anggota dan pengurus. Karena memang akan bertentangan dgn UU." #mSTANpp

42. "Apalagi setelah jadi pegawai nanti, hati2lah jgn sampai ada atribut partai apapun yg kau gunakan." #mSTANpp

43. "Bukan berarti hak-hakmu sebagai rakyat sipil dilepaskan, sama sekali bukan." #mSTANpp

44. "Hati dan ideologi condong ke partai tertentu, manusiawi. Tapi independen dalam perilaku adalah hal yg harus diperhatikan." #mSTANpp

45. Lebih panjang lagi nasihat itu, tapi cukuplah saya kutipkan penggalannya. #mSTANpp

46. Logika no.11 pun tak semestinya begitu, logika hitam-putih saya pun tak seharunya begitu. #mSTANpp

47. Karena ada bagian2 yg membuat kita bijak dalam berpolitik. Bergaul dgn politisi tak salah, karena mereka juga manusia. #mSTANpp

48. Bikin acara kampus dengan kehadiran politisi pun tak usah dipersoalkan, kecuali secara terbuka mereka kampanye. #mSTANpp

49. Dan banyak isu pun tak masalah. Selama tidak membahayakan, isu tetaplah isu. Jika sudah ke taraf fitnah, baru ditindak! #mSTANpp

50. Menjadi antipati kepada parpol pun bukan sikap yg tepat. Karena ini negara demokrasi, kepentok ke mana pun nemu parpol juga. #mSTANpp

51. Maka jika saya bisa mengulang, rasanya ingin memperbaiki sikap. Tak perlulah saya marah saat itu, tak perlu bersu'uzhon. #mSTANpp

52. Apatah lagi sampai menganggap black campaign segala. Duhai, cetek sekali pemikiranmu, Dio!! #mSTANpp

53. Dan sebentar lagi menjadi pegawai negeri, Insya Allah. Pemikiran cetek itu harus dibuang. #mSTANpp

54. Harus lebih cerdas dalam bersikap, terutama menyikapi tentang keberadaan parpol ini. #mSTANpp

55. Karena parpol bukan barang haram mutlak, hanya memang ada bagian2 yg hannya boleh pada restricted area. #mSTANpp

56. Masih banyak pelajaran lain yg bisa saya petik tntang parpol ini. Tapi biarlah saya pahami sendiri saja dulu. #mSTANpp

57. Hal yg pokok adalah jangan bersikap antipati kepada parpol, pun jangan fanatik apalagi sampai mengambil bagian sebagai anggota. #mSTANpp

58. Lepaskan semua atribut parpol yg dimiliki, bersikaplah wajar sebagaimana rakyat sipil pada umumnya. #mSTANpp

59. Akan halnya bergaul dengan orang2 parpol dalam kapasitasnya sebagai manusia, maka tanggalkanlah embel2 birokrat. #mSTANpp

60. MBM diisukan menjadi markas PKS? Biar saja, toh saya tahu struktur di dalamnya tidak ada campur tangan anggota PKS. #mSTANpp

61. Saya dibilang orang PKS? Sebenarnya ada bangga juga disamakan dengan kader2 partai yg oke punya. #mSTANpp

62. Meskipun orang PKS pun tak akan sudi menjadikan saya yg calon birokrat sebagai anggotanya. #mSTANpp

63. Saya dibilang orang Partai Demokrat? Entah dari mana pula itu. Tapi di Demokrat pun banyak orang hebat, saya tahu. #mSTANpp

64. Lantas apa masalahnya dengan parpol? Toh ia bagian negara ini juga. #mSTANpp

65. Sekali lagi, sikap dan penyikapan kitalah yg harus bijak dan dewasa dalam hal ini. #mSTANpp

66. Bukan saling mencurigai, bukan saling tuduh. Saling-silang sudah biasa, tapi permusuhan jangan dibesarkan. #mSTANpp

67. Karena apa jadinya jika sesama Mahasiswa STAN saja sudah saling menghujat? (Ehm! Jadi ingat kasus 'Penghujat KMSTAN') #mSTANpp

68. Padahal di kampus inilah harapan negeri tertambat, demi sektor yang sangat vital: keuangan. #mSTANpp

69. Dunia mahasiswa adalah dunia pembelajaran. Masyarakat, inilah dunia yang sesungguhnya. #mSTANpp

Sudahi saja ya tentang #mSTANpp? Meskipun ngalor-ngidul gak jelas, semoga ada yg bisa dipetik. :)

Alhamdulillah. Semoga tak ada yg tersakiti, jika ada semoga mau memaafkan diri ini. #mSTANpp