Senin, 22 Agustus 2011

Untuk Para Aktivis Kampus


“Gua maunya jadi panitia yang dapet jaket ama kaos, tapi kerjanya nggak capek-capek amat,” demikian kira-kira seorang teman berujar ketika saya menawarinya untuk ikut mendaftar menjadi panitia sebuah acara beberapa waktu lalu. Pernyataan yang meluncur dengan ringannya dalam suasana yang santai ini agaknya memang perlu kita perhatikan. Terutama bagi orang-orang yang mengaku dirinya ‘aktivis kampus’ (karena seperti itulah orang lain menyebutnya) lantaran berbagai kepanitiaan dan organisasi yang kerap diikutinya di kampus dan sekitarnya.

Sepintas, kita mungkin menganggap teman yang satu ini belum memahami seluk-beluk dunia kepanitiaan dan organisasi. Bahkan mungkin sebagian dari kita langsung memberikan cap ‘apatis’ kepada dirinya. Atau jika sang aktivis kampus juga merupakan seorang ekstrimis, bukan tidak mungkin teman yang satu ini langsung diberondong dengan sejumlah pernyataan yang menyudutkan tentang selorohannya. Ujung-ujungnya, perselisihan tidak dapat dihindari.

Sobat, mari kita review lagi perjalanan ‘keaktivisan’ kita. Seperti apa sosok kita dalam segudang aktivitas yang berkejaran dengan ruang dan waktu? Apakah kita benar-benar sibuk, atau hanya merasa sibuk? Seperti apa wajah kita ketika menyambut teman-teman kita di saat pekerjaan menumpuk masih membebani kita?

Kita, orang-orang yang mengaku sebagai aktivis, bahkan terkadang jenuh dengan formasi kepanitiaan yang tidak jauh dari orang-orang yang itu-itu juga. Kampus kita diisi oleh banyak sekali manusia yang diberi akal, jiwa, dan jasad, sama seperti kita. Akan tetapi, hanya sejumlah kecil orang-orang yang mau merelakan dirinya menjadi pengelola berbagai event dan organisasi kampus. Apa yang terjadi sebenarnya? Benarkah teman-teman kita itu yang apatis, atau justru kita yang mendorong mereka bersikap demikian?

Sungguh, saya sendiri bosan dengan kata ‘apatis’ yang sudah terlampau sering diangkat menjadi pembicaraan teman-teman para aktivis kampus. Tapi apa dinyana, kita tidak mungkin membiarkan gejala ini begitu saja karena kita (langsung atau tidak langsung) sudah menyatakan diri memiliki social responsibility yang tentu harus diaplikasikan di mana pun berada. Kitalah yang harus mengusir virus-virus apatisme itu.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Mari kita mulai dari hal yang kecil. Coba ingat kembali rona wajah kita ketika bertemu teman-teman kita di saat sejumlah tugas kepanitiaan dan organisasi bertumpuk di ruang pikiran kita. Berapa banyak senyum mereka yang kita abaikan? Seberapa sering kita meninggalkan mereka begitu saja saat obrolan ringan baru saja akan bermula? Berapa wajah yang kita acuhkan ketika dengan sengaja mengarah kepada kita berharap say hello meluncur dari mulut kita? Pantas saja mereka beranggapan bahwa aktivitas-aktivitas tersebut mengekang kebebasan hidup kita. Wajar jika banyak teman kita yang paranoid dengan kepanitiaan dan organisasi. Kita sering terlihat seperti disiksa oleh setumpuk tugas, lesu lantaran berjibaku dalam sejumlah rapat, dan kerap menampakkan sikap seolah berkata, “Jangan ganggu aku, aku sedang sibuk!”

Rona wajah kita mungkin agak cerah ketika mendapatkan reward kepanitiaan berupa kaos, jaket, topi, pin, atau ketika mendapatkan nametag kepanitiaan yang membuat berbangga hati. Maka jangan heran, itulah yang ditangkap oleh pikiran teman-teman kita. Keikhlasan seolah sudah tiada artinya lagi. Aktivitas-aktivitas itu lebih tampak hanya sebuah upaya memperpanjang curriculum vitae. Sedangkan kuliah tidak jarang dikorbankan, langsung atau tidak langsung.

Alhasil, muncullah anggapan itu. Anggapan yang ujung-ujungnya membuat gerah telinga kita juga. Masa iya ikut kepanitiaan cuma menginginkan reward? Sepintas mereka yang beranggapan seperti itu sering kita anggap “tidak tahu diri”. Tapi sebenarnya bisa jadi kitalah, para aktivis, yang tidak tahu diri. Sudah diberikan anugerah berupa semangat berkontribusi, tetapi tidak dikelola dengan baik. Malah sebaliknya, kontribusi kita malah menghambat orang lain yang sebenarnya memiliki keinginan juga untuk menyumbangkan tenaga, pikiran, dan waktunya. Jika pun mereka surut ke belakang, boleh jadi karena mereka melihat para aktivis yang kuliahnya terganggu, sering tidur di kelas, raut muka yang senantiasa kelelahan, senyum yang susah mengembang, kening yang sering berkerut tegang, bahkan rambut yang cepat beruban.

Masya Allah. Apakah ini bisa menjadi dosa? Semoga saja tidak. Semoga sisa umur ini bisa kita gunakan memperbaiki image seorang aktivis. Bahwa aktivis itu menjalani aktivitasnya penuh sukacita, keikhlasan, dan kesadaran berkontribusi. Lalu marilah kita berdoa agar semua yang telah kita kontribusikan berdampak positif dan bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Amiiin....

Ditulis pada 22 Agustus 2010, diselesaikan pada 26 Mei 2011.
Gambar: http://inwdahsyat.wordpress.com/2010/01/20/sebagian-wajah-baru-kampus-stan/

Selasa, 07 Juni 2011

Aku dan Untukmu Syuhada


Suatu sore di SMA-ku, pernah air mataku mengalir. Aku tak tahu persis detail pikiranku saat itu, yang pasti kekalutan menyelimuti semua asa. Namun aku ingat betul posisiku saat itu, berdiri menyandarkan bahu dan kepala di tiang depan pintu kelas yang saat itu disebut sebagai Ruang Bahasa Indonesia. Menghadap serong ke lapangan basket yang sepi, aku cukup menikmati suasana sore itu. Di masjid sekolah yang tak jauh dari tempatku berdiri, beberapa teman masih sibuk dengan aktivitasnya. Ada yang membaca, ada yang bercengkrama, ada pula yang masih menyelesaikan tugas membersihkan masjid.

Senandung itu, ya, senandung itu masih melekat dalam ingatanku. Sore yang membiru dalam hatiku itu ditemani oleh sebuah senandung dari Izzatul Islam, Untukmu Syuhada, dari tape-recorder di dalam masjid. Sungguh, air mataku mengucur saat itu. Ada sebuah keharuan yang membuncah dalam dada. Bahwa saat itu aku adalah generasi tertua siswa SMA Plus Negeri 4 OKU, bahwa sebentar lagi aku akan meninggalkan sekolah itu, bahwa banyak sekali rencanaku yang tak terlaksana saat SMA dulu!! Dan hal yang membuat air mata mengalir semakin deras sore itu, bagaimana dengan masa depanku?

Bukan khawatir tidak mendapatkan tempat kuliah, bukan pula bingung melangkahkan kaki menapak masa depan mau ke mana. Karena saat itu diri ini memang memiliki optimisme tingkat tinggi, selalu yakin bahwa aku bisa mendapatkan jalanku. Apalagi tiket masuk FKIP Pendidikan Ekonomi Akuntansi di Universitas Sriwijaya telah kukantongi. Hal yang membuatku khawatir adalah warna jalanku kelak. Masihkah aku akan mengenal Izzatul Islam dengan senandung-senandungnya yang selalu menyemangati di kala keceriaan meredup? Apakah nanti aku bisa mempertahankan idealisme dan komitmenku yang kubangun keping demi keping? Atau mungkin malah aku akan terbawa arus yang selalu dengan ganasnya menggilas pribadi-pribadi yang dengan mudahnya melunturkan segala kepribadian yang dibangun sudut demi sudut itu? Ah...Untukmu Syuhada memang selalu bisa membuatku terenyuh.

Kehidupan bagaikan roda, seribu zaman terus berputar.
Namun satu tak akan pudar, cahaya Allah tetap membahana.
Duh Gusti, apakah diri ini kelak akan terlindas putaran roda kehidupan?

Majulah Sahabat mulia, berpisah bukan akhir segalanya.
Lepas jiwa terbang mengangkasa, cita kita tetap satu jua.
Ya Rabbi, apakah diri ini akan tetap berkomitmen membangun diri di jalan yang sama dengan saudara-saudaraku para penebar manfaat? Atau mungkin kelak diri ini mengkhianati cita-cita bersama itu?

Aku tahu, ada seseorang yang memerhatikan tangisku sore itu. Ingin kuhentikan, tapi tak bisa kubendung tangis itu. Biarkanlah saudaraku itu, mungkin yang lain pun, tahu bahwa aku bahagia bersama mereka dan merasakan kesedihan harus berpisah. Dan sore itu berlalu dengan diriku yang seolah tak mau meninggalkan tempat penuh kenangan itu.
Aku paham tipikal diri ini yang memiliki kecenderungan mengikuti dunia glamour. Berada tak jauh dari pusat peradaban Nusantara, apakah itu berarti aku akan menjadi seseorang yang mengejar hedonitas ibukota? Lalu akan kucampakkan ke mana keping-keping komitmen dan idealisme yang kusatukan selama ini?

Benar adanya bahwa mengikuti berbagai casting, menjadi populer di jagad entertainment, adalah mimpi yang sempat bergelayutan dalam jiwa mudaku. Tapi naluriku tidak mau jika sampai hal itu terjadi, karena kutahu akan banyak syariat yang kulanggar demi semua itu. Sudah pahamlah aku tentang dunia belakang panggung yang kebanyakan tak kenal malu saat berganti pakaian, menjadi hal yang wajib untuk bersinggungan sangat banyak dengan lawan jenis yang bukan mahram, bahkan sangat rentan terjerumus kepada hal-hal yang diharamkan.

Oh, tidak! Aku bukan takut jika aku tidak terpilih dan tidak menjadi terkenal, aku justru takut jika hal itu benar-benar bisa kudapatkan! Bermain sinetron atau FTV dengan adegan berpacaran, berpelukan, bergenggaman tangan? Waraskah aku jika mengunggulkan ketenaran daripada kebersihan diri ini? Belum lagi jika dengan semua ketenaran itu, aku harus mengorbankan keberadaanku sebagai mahasiswa lantaran segudang aktivitas karier entertainment-ku. Sama sekali tidak, aku masih cukup waras untuk menghindari semua itu.

Tapi seberapa lama aku bisa bertahan dengan komitmenku? Bagaimana caranya agar aku bisa terus memupuk pemahaman dan keteguhan memegang prinsipku? Jika derasnya arus hedonitas ibukota terus melanda, bukan tidak mungkin jika aku benar-benar terjerumus ke dalam semua yang kukhawatirkan itu.

Nanti dulu! Seburuk itukah kondisi yang akan kuhadapi? Belum juga kulaksanakan daftar ulang, masih ada banyak kemungkinan. Asalkan ada keteguhan, bukankah ada jalan? Aku masih berstatus sebagai Mahasiswa Unsri saat kegundahan itu memeras air mata, tak ingin meninggalkan kampus dengan tagline “Ilmu Alat Pengabdian” itu. Sudah kurancang banyak hal untuk menempuh segala tantangan di kampus itu. Jika saja lidahku tiada kelu, tentu ayah dan ibuku dulu telah paham bahwa inilah yang membuatku keukeuh tak mau berpindah ke STAN, dulu.

Bersingkat dalam cerita, kuseberangi Selat Sunda untuk memenuhi kelulusanku dalam USM STAN. Saking kurang berpenuhnya hati, ijazah asli yang harusnya dibawa, tertinggal di Sumatera sana. Dengan sedikit negosiasi, murni negosiasi, akhirnya diperbolehkan dengan catatan aku harus segera melapor saat perkuliahan pertama. Nyatanya laporan itu tak pernah terjadi, dan aku bertahan di STAN hingga kini.

Jauh dari sore itu, sampailah aku pada sebuah tempat yang tak pernah serius kudambakan. Aku terdampar dalam kesendirian, menjadi mahasiswa baru di kampus yang tidak ada sama sekali teman SMA-ku. Kekhawatiran itu sungguh memuncak, Untukmu Syuhada bergema tiada henti di relung hatiku. Duhai Allah, inikah saatnya aku bermetamorfosis menjadi seorang Dio Agung Purwanto yang baru? Apakah benar jika aku akan menanggalkan semua identitas kepribadianku?
Sahabat, kami rela kau pergi.
Jihad kita ‘kan terus bersemi.
Ya, benar. Sahabatku di Unsri sana, tetap diriku dengan senandung Untukmu Syuhada. Kita memang terpaut jarak, namun cita-cita kita tetap sama. Alhamdulillah, telah dipertemukan kepadaku saudara-saudaraku yang luar biasa di STAN. Sahabat yang selalu membuatku teguh, tetap pada prinsip. Tak perlu aku ragu, karena perjalanan di kampus ini telah begitu banyak mewarnai kehidupanku.

Cukuplah aku dikenal orang dengan keterlibatanku dalam berorganisasi. Cukuplah aku dikenal dengan kontribusiku dalam kepanitiaan-kepanitiaan. Cukuplah aku dikenal sebagai pembawa acara atau moderator dalam berbagai event. Cukuplah aku dikenal sebagai penyiar radio komunitas bernafas Islam. Cukuplah, karena semua itu jauh melebihi cukup bagiku. Aku tetap pada prinsipku, dan aku tetap berkembang sesuai duniaku.

Bidadari nan bermata jeli, menyongsong dengan wajah berseri.

Ah, sebelum tulisanku menyimpang ke tema lain, lebih baik kusudahi saja. Untukmu Syuhada, bergema dalam sanubari. Terima kasih atas semua warna itu. Tak kurang dari dua bulan lagi, ingin kucecap indahnya Ramadhan, masih di kampus tercinta ini.

Jurangmangu, pukul satu pagi di 7 Juni 2011.
Gambar: http://smandarohis.blogspot.com/2009/10/download-nasyid.html

Minggu, 29 Mei 2011

Teruslah Menulis!!

Kata Asma Nadia, nulis itu gampang. Tapi apa emang iya? Kayaknya sih susah banget. Anehnya, sejak SMA aku punya cita-cita sebagai penulis. Mungkin karena sifat dasarnya Dio Agung Purwanto sering punya pede berlebih, jadilah bahkan mendeklarasikan diri sendiri akan menjadi penulis best seller.

Waktu berlalu sekian lama, kapan aku jadi penulis? Kalo nggak dilatih, gimana mau jago? Makanya, mulai sekarang aku mau coba nulis. Terserah nulis apa aja. Kata para penulis itu, nggak usah mikirin apa yang mau ditulis, tapi langsung tulis aja apa yang kita pikirkan.

Mungkin kita selama ini terpaku melihat tulisan para penulis tenar yang tampaknya sangat sulit untuk kita tiru. Perlu diingat bahwa mereka, para penulis itu, dulu juga melewati serangkaian proses yang tidak mudah. Mereka berjuang mengasah keterampilan untuk menulis dengan terus menulis dan menulis. Tak peduli tulisan mereka diterbitkan atau tidak. Tak peduli pandangan sinis orang atas tulisannya. Bagi mereka, semua kegagalan itu adalah langkah maju menuju kesuksesan. Kita semua udah punya jatah sekian kali gagal untuk menuju keberhasilan. Karena itulah, berbahagialah ketika kita gagal, karena itu berarti kita semakin dekat dengan keberhasilan lantaran kegagalan yang menjadi jatah kita sudah kita lalui setapak demi setapak.

Jadi ingat sosok Gol A Gong. Penulis yang satu ini cacat, tangannya cuma tersisa satu. Tapi tulisannya benar-benar mengundang decak kagum kita. Apalagi dia bersama istrinya, Tias Tatanka, bisa demikian suksesnya mengelola Rumah Dunia. Lha, aku kan dikaruniai Allah dua tangan yang masih berfungsi dengan baik. Berarti aku punya kesempatan untuk menulis lebih baik daripada Gol A Gong.

Dibandingkan dengan Asma Nadia pun, harusnya aku bisa melampauinya jauh. Dia bisa pake komputer mungkin baru-baru ini. Tapi aku sekarang udah punya laptop sendiri, masa iya nggak bisa menulis sebagus Asma? Apa lagi Asma sempat gegar otak, sementara aku Alhamdulillah nggak.

Lebih malu lagi kalau aku masih beralasan tidak menulis, sementara Adam Putra Firdaus sudah meluncurkan buku keduanya di usia sepuluh tahun. Padahal di usia dua bulan, ia pernah mengalami pendarahan otak yang serius. Sementara aku? Alhamdulillah, dijauhkan dari kondisi seperti itu

Wah, naif sekali diri ini jika masih memunculkan berbagai excuse untuk tidak menulis dan tidak mengembangkan kreatifitas sejauh mungkin. Toh melalui tulisan, bisa menjalankan fungsi dakwah. Bahkan tulisan bertahan lebih lama daripada sekadar cuap-cuap di depan kelas atau di radio.

Maka dari itu, aku akan terus menulis. Apapun itu, bagaimana pun caraku menuliskannya. Karena dengan tulisan, aku telah membuat sejarahku sendiri. Dengan tulisan, waktuku menjadi lebih produktif. Syukur-syukur jika tulisanku bisa bermanfaat bagi orang lain. Bukankah muslim terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi insan lainnya? Bismillah....

Ditulis pada 31 Agustus 2010, diselesaikan pada 29 Mei 2011.

Harry Poker, Ember of Sekret

Namanya Harry, lengkapnya Harry Prima. Entah mengapa ia diberi nama seperti itu, mungkin dulu orangtuanya anggota PBBP. PBBP bukanlah nama sebuah partai politik di negeri yang menganut sistem multipartai ini, bukan pula sebuah perkumpulan para atlet salah satu cabang olahraga, melainkan sebuah komunitas yang menamai diri mereka sebagai Penggemar Berat Barry Prima. Tahu Barry Prima kan? Itu lho, aktor laga yang ngetop di tahun delapan puluhan.

Harry yang berbadan tegap seratus tujuh puluh senti dan enam puluh dua kilo itu sekarang menyandang status mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di ibukota. Semester lima Universitas Mercusuar, Fakultas Teknik di Jurusan Teknik Tata Boga. Entah sejak kapan teman-temannya menyebut Harry dengan nama Harry Poker, nama yang diberikan teman-temannya karena ia senang sekali memainkan permainan yang satu ini. Walaupun sudah bermain poker sejak kelas satu SMP, Harry tetap saja belum mampu mengalahkan sahabatnya, Hermini.

Meskipun berkacamata tebal minus lima, Harry bukanlah kutu buku yang hanya berkutat dengan buku-buku tanpa memperhatikan aktivitas lainnya. Ia dikenal sebagai mahasiswa yang doyan aksi, demonstrasi di setiap kesempatan. Dan ia sekarang menjadi salah satu staf ahli di Kementerian Propaganda BEM Universitas Mercusuar.

Pernah sekali ia ditangkap polisi lantaran mementung kepala salah seorang petugas hingga benjol dengan bambu tiang bendera yang dibawanya saat berdemonstrasi di depan Kantor Mahkamah Konstitusi. Benjolan berbentuk segitiga sama sisi dengan ukuran tiap sisinya satu setengah inchi, persis ukuran margin kiri yang harus diperhatikan saat menulis paper tugas kuliah. Namun karena tampangnya yang lugu ditambah penampilan yang kyut, polisi yang menangkapnya menjadi tidak tega. Ia pun dipersilakan pulang setelah dimasukkan ke balik jeruji besi selama sembilan tiga per empat menit.

Nah, itu dia! Harry baru saja datang ke Sekretariat BEM Universitas Mercusuar, yang seringkali mereka sebut ‘sekret’. Harry tetap setia membawa tongkat barunya, tongkat yang ia beli di Pasar Rebo seminggu lalu, katanya sih tongkat itu mengingatkan Harry kepada neneknya. Ini bukan tongkat sembarang tongkat, dibuat langsung dari jati Jepara lengkap dengan ukirannya. Oh iya, jangan pernah membayangkan tongkat ini seperti tongkat sihir. Lebih mirip tongkat penopang korban kecelakaan lalu lintas. Atau mungkin memang itu salah satu fungsinya? Entahlah.

Ternyata Harry tidak datang sendiri. Hermini yang dikenal suka bersolek dan berdandan nyentrik itu kali ini memakai rok panjang merah padam, kaos berwarna salem bening, dan tas hijau menyala. Rambutnya yang panjang bergelombang ia permanis dengan bando berbulu domba yang dihiasi boneka spongebob. Wajahnya penuh riasan trend masa kini, setidaknya seperti itu yang selalu dikatakan Hermini. Eye shadow dengan warna biru laut, ia padankan dengan blush on ungu, lengkap dengan lipstik merah tuna. Ditambah dengan sentuhan lip liner berwarna hijau dengan garis border dua milimeter. Oia, lipstik ini baru saja ia beli di Pasar Senen dua hari yang lalu. Tentu saja dengan membawa sample daging ikan tuna yang sengaja ia beli untuk membuat kreasi puding perayaan ulang tahun Harry beberapa jam yang lalu.

Iya, mereka baru saja merayakan ulang tahun Harry yang ke-21. Sesuatu yang menakjubkan bahwa umur Harry sudah kepala dua, padahal wajahnya masih seperti anak baru di SMA. Tidak berlebihan memang, seantero Universitas Mercusuar juga paham mengenai hal ini. Tampang Harry lebih menarik perhatian mahasiswi perguruan tinggi swasta kenamaan itu daripada Morgan Oey, Scotty ‘American Idol’, Kevin ‘Vierra’, maupun Irfan Bachdim. Kecuali perilakunya yang sering terlihat aneh, Harry jauh lebih keren daripada nama-nama itu.

Salah satu perilaku aneh Harry ya seperti sepekan terakhir ini, dia berlagak seperti detektif bersama sahabatnya, Hermini. Apa yang mereka selidiki? Aneh memang, sebuah ember yang ada di Sekret! Menurut cerita beberapa penghuni Sekret yang sering bermalam di sana, ember itu sering menghilang sekitar tengah malam dan kembali lagi menjelang subuh. Dan ember yang biasanya diletakkan di teras belakang Sekret itu selalu kembali dengan banyak bercak darah segar. Nah lho! Ada apakah gerangan?

Setelah bermusyawarah dengan beberapa sahabat penghuni Sekret, akhirnya Harry dan Hermini memutuskan untuk lebih intensif lagi melakukan penyelidikan mereka malam ini. Mereka akan begadang! Hermini dan beberapa penghuni lainnya yang cewek bertugas memastikan ketersediaan logistik. Sementara Harry dan pasukan lelaki yang belum berani mati berjaga di titik-titik yang ditetapkan. Keputusan telah bulat untuk mengungkap misteri ember Sekret malam ini juga, dan mereka pun bergerak mempersiapkan hal-hal yang berhubungan dengan tugas masing-masing.

Hermini menangani teh tarik. Asma dan Nadia menyiapkan puding keju lengkap dengan vla kacang hijaunya. Meureen dan Sally menyiapkan berbagai macam kopi. Helvy, Tiana, dan Rosa menyiapkan makan malam. Sementara duo kembar Susi dan Susanti membeli sekantong besar kacang kulit dan sekantong besar kuaci. Wah, menu begadang yang sangat menggiurkan!

Di kubu para lelaki, Harry bersama Alan, Budi, dan Kusuma menyiapkan strategi pengintaian yang sejitu mungkin untuk menangkap pelaku penghilangan ember Sekret. Setelah berbagai pertimbangan dilakukan, mereka menetapkan empat titik penjagaan. Alan, Budi, dan Kusuma berjaga di pintu depan Sekret. Irfan dan Hakim berjaga di dekat kedai sate Pak Robin di seberang Sekret, hitung-hitung mengharapkan Pak Robin berbaik hati membagi sepuluh-dua-puluh tusuk. Harry menjadi pusat kontrol dengan berkeliling pos-pos yang ada sambil memastikan semua titik penjagaan dikawal dengan kondusif. Sementara itu Ahmad dan Fuadi berjaga di teras belakang Sekret di dekat sumur.

Malam mulai beringsut gelap, jama’ah sholat Isya sudah tersapu bersih dari masjid. Harry dan kawan-kawan mulai berkumpul di Sekret. Santapan makan malam pun dihidangkan. Lumayan, perbaikan gizi! Menu makan malam ini sangat bervariasi. Ada tempe, tahu, oncom, dan tauco, lengkap dengan minuman pelengkap berupa susu kedelai. Semuanya ludes dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Malam semakin larut, sebentar lagi kedua jarum jam merapat di angka dua belas. Harry berkeliling Sekret memastikan semua pos penjagaan diawasi dengan baik. Tanpa kekhawatiran sedikit pun, semua penghuni Sekret yang menjalankan misi malam ini masih terus terjaga dengan aktivitas masing-masing. Hanya Irfan dan Hakim yang sedikit lengah, mereka bermain catur. Tapi tak apalah, toh ada Pak Robin di dekat mereka.

Lewat tengah malam, belum ada tanda-tanda target muncul. Harry dan kawan-kawan mulai mengantuk. Berbagai variasi kopi sudah disuguhkan, kuaci dan kacang kulit pun sebentar lagi juga ludes.

Pukul dua lewat sembilan tiga per empat menit, Harry sudah hampir putus asa dan melambaikan kedua tangan tanda menyerah.

“Woaaaaa!!!! Maliiiiiing!!!” Jelas sekali itu paduan suara Ahmad dan Fuadi.

Semuanya lari lintang pukang ke arah sumur di belakang Sekret.

Berhasil! Ternyata target telah berhasil ditangkap! Dengan bangganya, Harry menunjukkan kepada teman-temannya tersangka yang sudah ia bekap dengan karung goni merah jambu yang sengaja ia beli dari toko spare part tadi sore.

“Tadaaaa!!”

Semua mata terbeliak, terpana, terpesona, terbuai. Amboi, sungguh tak disangka! Mereka telah menangkap pelakunya!

Eit! Tapi tunggu dulu! Sepertinya mereka sangat kenal dengan pria yang tadinya dibekap karung goni itu. Tampang yang sangat khas, familiar sekali. Ya, tampang tusukan sate! Pak Robin? Hah?!

Setelah tali yang membebat mulut Pak Robin dibuka, ia tersengal-sengal seperti ikan bilih khas Danau Singkarak dilempar ke Gurun Sahara yang panasnya tak terkira. Semua mata menunggu penjelasan dari Pak Robin, dengan barang bukti otentik P21 berupa ember Sekret yang masih tergenggam erat tangkainya di tangan kanan.

Robin Pakpahan, asli Sukabumi. Umur 43 tahun, istri satu, anak lima. Penjual sate sekaligus office boy di Gedung Mangkuurat, tempat Sekret berada.

Setelah diinterogasi cukup lama. Olala!! Yang dimaksud ember Sekret itu sebenarnya memang ember Pak Robin yang spesial dipakai untuk menaruh daging untuk bahan baku pembuatan sate. Ditaruh di teras belakang Sekret untuk memudahkan Pak Robin mengambilnya setiap malam ketika akan menggelar kedai satenya. Baru diambil tengah malam, karena biasanya jam segitu baru dimanfaatkan untuk memindahkan sisa daging dari baskom besar yang dipakai sejak sore. Dikembalikan menjelang subuh setelah kedainya ditutup. Demikianlah ceritanya. Harry, Hermini, dan kawan-kawan melongo menyimak penjelasan Pak Robin.

Misteri ember Sekret telah terpecahkan. And the case is cleared! Besok, Harry berencana untuk menantang Hermini main poker lagi.

Diselesaikan di Jurangmangu, 28 Mei 2011, pukul 22.01 WIB.