“Gua maunya jadi panitia yang dapet jaket ama kaos, tapi kerjanya nggak capek-capek amat,” demikian kira-kira seorang teman berujar ketika saya menawarinya untuk ikut mendaftar menjadi panitia sebuah acara beberapa waktu lalu. Pernyataan yang meluncur dengan ringannya dalam suasana yang santai ini agaknya memang perlu kita perhatikan. Terutama bagi orang-orang yang mengaku dirinya ‘aktivis kampus’ (karena seperti itulah orang lain menyebutnya) lantaran berbagai kepanitiaan dan organisasi yang kerap diikutinya di kampus dan sekitarnya.
Sepintas, kita mungkin menganggap teman yang satu ini belum memahami seluk-beluk dunia kepanitiaan dan organisasi. Bahkan mungkin sebagian dari kita langsung memberikan cap ‘apatis’ kepada dirinya. Atau jika sang aktivis kampus juga merupakan seorang ekstrimis, bukan tidak mungkin teman yang satu ini langsung diberondong dengan sejumlah pernyataan yang menyudutkan tentang selorohannya. Ujung-ujungnya, perselisihan tidak dapat dihindari.
Sobat, mari kita review lagi perjalanan ‘keaktivisan’ kita. Seperti apa sosok kita dalam segudang aktivitas yang berkejaran dengan ruang dan waktu? Apakah kita benar-benar sibuk, atau hanya merasa sibuk? Seperti apa wajah kita ketika menyambut teman-teman kita di saat pekerjaan menumpuk masih membebani kita?
Kita, orang-orang yang mengaku sebagai aktivis, bahkan terkadang jenuh dengan formasi kepanitiaan yang tidak jauh dari orang-orang yang itu-itu juga. Kampus kita diisi oleh banyak sekali manusia yang diberi akal, jiwa, dan jasad, sama seperti kita. Akan tetapi, hanya sejumlah kecil orang-orang yang mau merelakan dirinya menjadi pengelola berbagai event dan organisasi kampus. Apa yang terjadi sebenarnya? Benarkah teman-teman kita itu yang apatis, atau justru kita yang mendorong mereka bersikap demikian?
Sungguh, saya sendiri bosan dengan kata ‘apatis’ yang sudah terlampau sering diangkat menjadi pembicaraan teman-teman para aktivis kampus. Tapi apa dinyana, kita tidak mungkin membiarkan gejala ini begitu saja karena kita (langsung atau tidak langsung) sudah menyatakan diri memiliki social responsibility yang tentu harus diaplikasikan di mana pun berada. Kitalah yang harus mengusir virus-virus apatisme itu.
Lalu apa yang bisa kita lakukan? Mari kita mulai dari hal yang kecil. Coba ingat kembali rona wajah kita ketika bertemu teman-teman kita di saat sejumlah tugas kepanitiaan dan organisasi bertumpuk di ruang pikiran kita. Berapa banyak senyum mereka yang kita abaikan? Seberapa sering kita meninggalkan mereka begitu saja saat obrolan ringan baru saja akan bermula? Berapa wajah yang kita acuhkan ketika dengan sengaja mengarah kepada kita berharap say hello meluncur dari mulut kita? Pantas saja mereka beranggapan bahwa aktivitas-aktivitas tersebut mengekang kebebasan hidup kita. Wajar jika banyak teman kita yang paranoid dengan kepanitiaan dan organisasi. Kita sering terlihat seperti disiksa oleh setumpuk tugas, lesu lantaran berjibaku dalam sejumlah rapat, dan kerap menampakkan sikap seolah berkata, “Jangan ganggu aku, aku sedang sibuk!”
Rona wajah kita mungkin agak cerah ketika mendapatkan reward kepanitiaan berupa kaos, jaket, topi, pin, atau ketika mendapatkan nametag kepanitiaan yang membuat berbangga hati. Maka jangan heran, itulah yang ditangkap oleh pikiran teman-teman kita. Keikhlasan seolah sudah tiada artinya lagi. Aktivitas-aktivitas itu lebih tampak hanya sebuah upaya memperpanjang curriculum vitae. Sedangkan kuliah tidak jarang dikorbankan, langsung atau tidak langsung.
Alhasil, muncullah anggapan itu. Anggapan yang ujung-ujungnya membuat gerah telinga kita juga. Masa iya ikut kepanitiaan cuma menginginkan reward? Sepintas mereka yang beranggapan seperti itu sering kita anggap “tidak tahu diri”. Tapi sebenarnya bisa jadi kitalah, para aktivis, yang tidak tahu diri. Sudah diberikan anugerah berupa semangat berkontribusi, tetapi tidak dikelola dengan baik. Malah sebaliknya, kontribusi kita malah menghambat orang lain yang sebenarnya memiliki keinginan juga untuk menyumbangkan tenaga, pikiran, dan waktunya. Jika pun mereka surut ke belakang, boleh jadi karena mereka melihat para aktivis yang kuliahnya terganggu, sering tidur di kelas, raut muka yang senantiasa kelelahan, senyum yang susah mengembang, kening yang sering berkerut tegang, bahkan rambut yang cepat beruban.
Masya Allah. Apakah ini bisa menjadi dosa? Semoga saja tidak. Semoga sisa umur ini bisa kita gunakan memperbaiki image seorang aktivis. Bahwa aktivis itu menjalani aktivitasnya penuh sukacita, keikhlasan, dan kesadaran berkontribusi. Lalu marilah kita berdoa agar semua yang telah kita kontribusikan berdampak positif dan bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Amiiin....
Ditulis pada 22 Agustus 2010, diselesaikan pada 26 Mei 2011.
Kamis, 26 Mei 2011
Perjalanan Seorang Bujangan
Liburan kali ini, saya tidak pulang ke rumah karena berbagai alasan. Namun saya akan berbagi pengalaman saya pulang kampung pada liburan terdahulu. Bintaro-Baturaja naik bus langsung itu mah biasa, tapi tantangannya kurang terasa jika dibandingkan dengan backpacking.
Pondok Ranji
Dari kawasan Bintaro, pilihlah untuk naik kereta api dari Stasiun Pondok Ranji. Untuk menuju stasiun ini dari Kampus STAN bisa naik angkot D09 dari Jalan Bintaro Raya atau jika berangkat dari Jalan Ceger Raya bisa naik D22, lalu berhenti di perempatan Bintaro Plaza, cukup membayar Rp2.000,00. Selanjutnya berjalan ke arah Selatan menuju stasiun yang tak seberapa jauh. Kereta api ke arah Merak biasanya berangkat pukul delapan pagi dan pukul satu siang, dengan tarif tiket Rp5.000,00. Perjalanan empat hingga lima jam ini tak akan sepi dari pedagang asongan yang lalu-lalang tiada henti di setiap gerbong kereta. Setelah itu, turun di Stasiun Merak yang persis berada di samping Pelabuhan Merak.
Pelabuhan Merak
Ketika tiba di Pelabuhan Merak, azan Zuhur sudah berkumandang. Bisa saja jika ingin mencari mushola, cukup banyak di sekitar pelabuhan. Namun untuk mengejar waktu perjalanan, saya merekomendasikan Anda untuk segera membeli tiket kapal ferry seharga Rp11.500,00 dan naik ke atas kapal. Beberapa waktu kemudian kapal berangkat, dan Anda bisa melaksanakan sholat Zuhur dengan tenang di atas kapal, plus sensasi goyangan ombak yang menambah nikmatnya sujud di mushola kapal. Jangan lupa untuk men-jamak sholat Asar!
Kapal Ferry
Dua jam di atas kapal, banyak hal yang bisa dilakukan. Termasuk memandangi deburan ombak, memperhatikan kumpulan ganggang laut, dan melihat ikan yang sesekali meloncat di kejauhan, yang acapkali membuat mata berkabut atas ketenangan dan peresapan atas ayat yang diulang-ulang di Surat Arrahman. Di kapal biasanya ada tiga ruangan besar tempat beristirahat. Pilihlah ruangan ekonomi yang tidak menarik biaya tambahan. Sedangkan ruangan bisnis dan eksekutif biasanya dilengkapi dengan kursi empuk, AC, hiburan live music, dan/atau tempat lesehan. Tentunya dengan biaya tambahan, biasanya Rp7.000 ke atas. Tapi, apalah artinya fasilitas itu untuk dua jam perjalanan?
Sambil menikmati deburan ombak dan semilir angin, cobalah perhatikan awak bus yang biasanya berkeliling mencari tambahan penumpang. Cukup tunggu dan perhatikan, biasanya akan ditawari perjalanan lanjutan. Ambillah bus yang menuju atau melewati Bandar Lampung, sepakati harga antara Rp20.000,00 hingga Rp25.000,00. Setelah itu, bergegaslah naik ke bus yang dimaksudkan. Atau jika kesepakatan dilakukan saat kapal belum juga akan merapat, cukup pastikan bus mana yang harus ditumpangi. Namun jangan lupa untuk segera naik ke bus saat terdengar peringatan bahwa kapal akan segera merapat. Alternatif lainnya, Anda tunggu hingga turun di Pelabuhan Bakauheni, baru kemudian mencari bus yang bisa ditumpangi.
Pelabuhan Bakauheni
Tiba di Pelabuhan Bakauheni, pastikan Anda keluar dari kapal dengan menumpang bus yang sudah Anda sepakati dengan awaknya. Setelah itu, silakan nikmati perjalanan sekitar tiga jam menuju Bandar Lampung. Beberapa bus berhenti di Terminal Rajabasa, namun sebagian besar tidak, karena langsung melanjutkan perjalanan. Perhatikan jalan di sekitar bus Anda. Jika Anda sudah menemui beberapa angkot berwarna biru muda, segeralah turun dari bus!
Bandar Lampung
Lanjutkan perjalanan dengan angkot biru muda tersebut, katakan pada sopirnya bahwa Anda akan menuju Stasiun Tanjung Karang. Selanjutnya, perhatikanlah jalan di sebelah kiri hingga Anda menemui Masjid Taqwa, berhentilah di sana! Ongkos angkot Rp2.000,00. Masjid Taqwa ada di sebelah Stasiun Tanjung Karang, tunaikanlah sholat Maghrib di sana.
Kesegaran wudhu sholat Maghrib memberikan energi positif yang sangat bermanfaat. Songsonglah loket pembelian tiket kereta api dengan senyuman segar! Jika beruntung, Anda akan langsung mendapatkan tiket kereta ke arah Palembang tanpa antre. Dalam kondisi normal, tiket kelas bisnis seharga Rp60.000,00, sedangkan tiket kelas eksekutif seharga Rp120.000,00. Namun jika sedang dalam libur lebaran, tarif akan naik sejumlah Rp10.000,00. Dengan alasan penghematan (terlalu naif jika saya mengatakan “Apalah arti perjalanan tujuh jam?” untuk hal ini), lebih baik Anda memilih kelas bisnis.
Sembari menunggu keberangkatan kereta pukul sembilan malam, bolehlah berkeliling di sekitar stasiun. Mungkin Anda ingin membeli minuman sebagai bekal perjalanan tujuh jam di kereta. Percayalah, untuk perjalanan kali ini, tak akan ada pedagang asongan di dalam kereta. Oia, makan malam jangan lupa! Ada kedai mi ayam di dekat stasiun, lumayanlah untuk harga Rp4.000,00. Jika sudah terdengar azan, tunaikanlah sholat Isya’ di masjid yang sama dengan tempat sholat Maghrib tadi.
Sudah hampir bisa dipastikan, kereta akan berangkat minimal enam menit melampaui jadwal. Namun jangan sampai membuat Anda lengah tanpa memastikan gerbong mana yang harus Anda tumpangi. Duduklah yang mantap, pastikan barang-barang Anda dalam posisi yang benar-benar aman. Lalu nikmatilah perjalanan malam yang akan penuh dengan perhentian di stasiun-stasiun yang mungkin berjumlah lebih dari seratus. Untuk menghindari was-was terlewatkan Stasiun Baturaja, mintalah petugas terdekat untuk mengingatkan Anda.
Baturaja
Sekitar pukul dua dini hari, sebaiknya Anda berjaga. Isilah waktu tersebut dengan tilawah, membaca buku, atau kegiatan ringan bermanfaat lainnya. Sebelum azan Subuh berkumandang, Insya Allah Anda sudah tiba di Stasiun Baturaja. Selamat datang di Kota Beras, bersih-elok-rapi-aman-sejahtera! Lalu tetapkanlah tujuan Anda selanjutnya. Dalam kondisi normal, ojek di kota ini bertarif Rp3.000,00 untuk ke sudut kota mana pun. Jika pun si tukang ojek meminta lebih, pasanglah harga maksimal Rp5.000,00.
Trik Perjalanan Seorang Bujangan
1. Siapkanlah perjalanan Anda sebaik mungkin! Minimal bawalah bekal untuk makan siang ketika tiba di Pelabuhan Merak, air minum secukupnya, dan obat praktis sesuai penyakit bawaan.
2. Jangan lupa menyertakan peralatan mandi dalam bawaan Anda!
3. Meskipun dengan celana panjang sudah bisa melaksanakan sholat, tidak ada salahnya menyiapkan kain sarung untuk berjaga-jaga jika celana terkena najis dalam perjalanan. Ingatlah bahwa perjalanan Anda menggunakan angkutan umum yang rawan terkena muntah, kencing bayi, dan sebagainya.
4. Letakkan mushaf Alqur’an dan bacaan pengisi perjalanan di tempat yang mudah dijangkau dalam tas Anda!
5. Pakailah celana panjang, baju lengan panjang, penutup kepala, dan jaket! Anda tentu tidak mau bersentuhan kulit secara langsung dengan wanita yang bukan mahram saat berdesakan di angkutan umum.
6. Pilihlah celana berkantong banyak dan jaket dengan kantong dalam di bagian dada! Pisahkanlah uang Anda di beberapa kantong, dompet dan ponsel di kantong jaket bagian dada!
7. Daripada sepatu, lebih baik memakai sandal gunung berbahan karet. Hal ini akan memudahkan Anda ketika harus menghadapi kondisi basah/hujan, sehingga tak perlu repot dengan kaos kaki.
8. Saat berada dalam antrean, sandanglah tas dengan posisi di depan dada!
9. Hindari menggunakan parfum terlalu banyak atau yang beraroma menyengat! Banyak penumpang lain yang tidak menyukai hal itu, bahkan bisa membuat mereka mual dan muntah.
10. Anda pasti paham betul akan kewajiban sholat. Perhitungkanlah dengan matang kemungkinan waktu sholat! Agar Anda bisa memutuskan untuk men-jamak sholat, di awal atau di akhir.
11. Gunakanlah ponsel hanya pada tempat yang Anda yakini keamanannya! Tentu Anda tidak menginginkan jambret merampas ponsel Anda.
Jurangmangu, ba’da Asar 26 Mei 2011
Pondok Ranji
Dari kawasan Bintaro, pilihlah untuk naik kereta api dari Stasiun Pondok Ranji. Untuk menuju stasiun ini dari Kampus STAN bisa naik angkot D09 dari Jalan Bintaro Raya atau jika berangkat dari Jalan Ceger Raya bisa naik D22, lalu berhenti di perempatan Bintaro Plaza, cukup membayar Rp2.000,00. Selanjutnya berjalan ke arah Selatan menuju stasiun yang tak seberapa jauh. Kereta api ke arah Merak biasanya berangkat pukul delapan pagi dan pukul satu siang, dengan tarif tiket Rp5.000,00. Perjalanan empat hingga lima jam ini tak akan sepi dari pedagang asongan yang lalu-lalang tiada henti di setiap gerbong kereta. Setelah itu, turun di Stasiun Merak yang persis berada di samping Pelabuhan Merak.
Pelabuhan Merak
Ketika tiba di Pelabuhan Merak, azan Zuhur sudah berkumandang. Bisa saja jika ingin mencari mushola, cukup banyak di sekitar pelabuhan. Namun untuk mengejar waktu perjalanan, saya merekomendasikan Anda untuk segera membeli tiket kapal ferry seharga Rp11.500,00 dan naik ke atas kapal. Beberapa waktu kemudian kapal berangkat, dan Anda bisa melaksanakan sholat Zuhur dengan tenang di atas kapal, plus sensasi goyangan ombak yang menambah nikmatnya sujud di mushola kapal. Jangan lupa untuk men-jamak sholat Asar!
Kapal Ferry
Dua jam di atas kapal, banyak hal yang bisa dilakukan. Termasuk memandangi deburan ombak, memperhatikan kumpulan ganggang laut, dan melihat ikan yang sesekali meloncat di kejauhan, yang acapkali membuat mata berkabut atas ketenangan dan peresapan atas ayat yang diulang-ulang di Surat Arrahman. Di kapal biasanya ada tiga ruangan besar tempat beristirahat. Pilihlah ruangan ekonomi yang tidak menarik biaya tambahan. Sedangkan ruangan bisnis dan eksekutif biasanya dilengkapi dengan kursi empuk, AC, hiburan live music, dan/atau tempat lesehan. Tentunya dengan biaya tambahan, biasanya Rp7.000 ke atas. Tapi, apalah artinya fasilitas itu untuk dua jam perjalanan?
Sambil menikmati deburan ombak dan semilir angin, cobalah perhatikan awak bus yang biasanya berkeliling mencari tambahan penumpang. Cukup tunggu dan perhatikan, biasanya akan ditawari perjalanan lanjutan. Ambillah bus yang menuju atau melewati Bandar Lampung, sepakati harga antara Rp20.000,00 hingga Rp25.000,00. Setelah itu, bergegaslah naik ke bus yang dimaksudkan. Atau jika kesepakatan dilakukan saat kapal belum juga akan merapat, cukup pastikan bus mana yang harus ditumpangi. Namun jangan lupa untuk segera naik ke bus saat terdengar peringatan bahwa kapal akan segera merapat. Alternatif lainnya, Anda tunggu hingga turun di Pelabuhan Bakauheni, baru kemudian mencari bus yang bisa ditumpangi.
Pelabuhan Bakauheni
Tiba di Pelabuhan Bakauheni, pastikan Anda keluar dari kapal dengan menumpang bus yang sudah Anda sepakati dengan awaknya. Setelah itu, silakan nikmati perjalanan sekitar tiga jam menuju Bandar Lampung. Beberapa bus berhenti di Terminal Rajabasa, namun sebagian besar tidak, karena langsung melanjutkan perjalanan. Perhatikan jalan di sekitar bus Anda. Jika Anda sudah menemui beberapa angkot berwarna biru muda, segeralah turun dari bus!
Bandar Lampung
Lanjutkan perjalanan dengan angkot biru muda tersebut, katakan pada sopirnya bahwa Anda akan menuju Stasiun Tanjung Karang. Selanjutnya, perhatikanlah jalan di sebelah kiri hingga Anda menemui Masjid Taqwa, berhentilah di sana! Ongkos angkot Rp2.000,00. Masjid Taqwa ada di sebelah Stasiun Tanjung Karang, tunaikanlah sholat Maghrib di sana.
Kesegaran wudhu sholat Maghrib memberikan energi positif yang sangat bermanfaat. Songsonglah loket pembelian tiket kereta api dengan senyuman segar! Jika beruntung, Anda akan langsung mendapatkan tiket kereta ke arah Palembang tanpa antre. Dalam kondisi normal, tiket kelas bisnis seharga Rp60.000,00, sedangkan tiket kelas eksekutif seharga Rp120.000,00. Namun jika sedang dalam libur lebaran, tarif akan naik sejumlah Rp10.000,00. Dengan alasan penghematan (terlalu naif jika saya mengatakan “Apalah arti perjalanan tujuh jam?” untuk hal ini), lebih baik Anda memilih kelas bisnis.
Sembari menunggu keberangkatan kereta pukul sembilan malam, bolehlah berkeliling di sekitar stasiun. Mungkin Anda ingin membeli minuman sebagai bekal perjalanan tujuh jam di kereta. Percayalah, untuk perjalanan kali ini, tak akan ada pedagang asongan di dalam kereta. Oia, makan malam jangan lupa! Ada kedai mi ayam di dekat stasiun, lumayanlah untuk harga Rp4.000,00. Jika sudah terdengar azan, tunaikanlah sholat Isya’ di masjid yang sama dengan tempat sholat Maghrib tadi.
Sudah hampir bisa dipastikan, kereta akan berangkat minimal enam menit melampaui jadwal. Namun jangan sampai membuat Anda lengah tanpa memastikan gerbong mana yang harus Anda tumpangi. Duduklah yang mantap, pastikan barang-barang Anda dalam posisi yang benar-benar aman. Lalu nikmatilah perjalanan malam yang akan penuh dengan perhentian di stasiun-stasiun yang mungkin berjumlah lebih dari seratus. Untuk menghindari was-was terlewatkan Stasiun Baturaja, mintalah petugas terdekat untuk mengingatkan Anda.
Baturaja
Sekitar pukul dua dini hari, sebaiknya Anda berjaga. Isilah waktu tersebut dengan tilawah, membaca buku, atau kegiatan ringan bermanfaat lainnya. Sebelum azan Subuh berkumandang, Insya Allah Anda sudah tiba di Stasiun Baturaja. Selamat datang di Kota Beras, bersih-elok-rapi-aman-sejahtera! Lalu tetapkanlah tujuan Anda selanjutnya. Dalam kondisi normal, ojek di kota ini bertarif Rp3.000,00 untuk ke sudut kota mana pun. Jika pun si tukang ojek meminta lebih, pasanglah harga maksimal Rp5.000,00.
Trik Perjalanan Seorang Bujangan
1. Siapkanlah perjalanan Anda sebaik mungkin! Minimal bawalah bekal untuk makan siang ketika tiba di Pelabuhan Merak, air minum secukupnya, dan obat praktis sesuai penyakit bawaan.
2. Jangan lupa menyertakan peralatan mandi dalam bawaan Anda!
3. Meskipun dengan celana panjang sudah bisa melaksanakan sholat, tidak ada salahnya menyiapkan kain sarung untuk berjaga-jaga jika celana terkena najis dalam perjalanan. Ingatlah bahwa perjalanan Anda menggunakan angkutan umum yang rawan terkena muntah, kencing bayi, dan sebagainya.
4. Letakkan mushaf Alqur’an dan bacaan pengisi perjalanan di tempat yang mudah dijangkau dalam tas Anda!
5. Pakailah celana panjang, baju lengan panjang, penutup kepala, dan jaket! Anda tentu tidak mau bersentuhan kulit secara langsung dengan wanita yang bukan mahram saat berdesakan di angkutan umum.
6. Pilihlah celana berkantong banyak dan jaket dengan kantong dalam di bagian dada! Pisahkanlah uang Anda di beberapa kantong, dompet dan ponsel di kantong jaket bagian dada!
7. Daripada sepatu, lebih baik memakai sandal gunung berbahan karet. Hal ini akan memudahkan Anda ketika harus menghadapi kondisi basah/hujan, sehingga tak perlu repot dengan kaos kaki.
8. Saat berada dalam antrean, sandanglah tas dengan posisi di depan dada!
9. Hindari menggunakan parfum terlalu banyak atau yang beraroma menyengat! Banyak penumpang lain yang tidak menyukai hal itu, bahkan bisa membuat mereka mual dan muntah.
10. Anda pasti paham betul akan kewajiban sholat. Perhitungkanlah dengan matang kemungkinan waktu sholat! Agar Anda bisa memutuskan untuk men-jamak sholat, di awal atau di akhir.
11. Gunakanlah ponsel hanya pada tempat yang Anda yakini keamanannya! Tentu Anda tidak menginginkan jambret merampas ponsel Anda.
Jurangmangu, ba’da Asar 26 Mei 2011
Enam Hal Kecil dalam Sholat Berjamaah
Saya bukanlah seorang ‘alim yang ahli dalam persoalan fiqh. Saya pun bukan seorang yang mumpuni dalam tafsir. Saya jua bukan seorang hamba Allah yang piawai dalam hal ilmu hadist. Namun bolehlah kiranya diri yang naif ini berbagi sedikit hal yang mungkin terluputkan pada rutinitas kenikmatan kita dalam sholat berjamaah.
1. Memaksakan barisan.
Kiranya kita sudah paham benar akan rapatnya shaf dalam sholat berjamaah, pun utamanya memilih shaf terdepan. Tapi terkadang ada keputusan yang sedikit memaksakan kehendak dalam hal ini. Celah sempit pada barisan depan tetap dimasuki walaupun mempersulit gerakan. Padahal kita tahu betul ukuran tubuh kita yang kurang memungkinkan untuk mengisi celah tersebut. Jadilah sholat kita berdesak-desakan dalam barisan rapat seperti saat membentuk bordir dalam unjuk rasa di depan istana presiden. Bahkan karena sempitnya, maka terpaksalah barisan melengkung ke depan dan ke belakang agar gerakan sedikit lega. Khusyuk? Lupakanlah.
2. Menyentuhkan jemari kaki.
Salah satu indikator rapatnya shaf dalam sholat adalah saling bersentuhannya jemari kaki. Tidak masalah jika hal ini dilakukan sewajarnya. Namun ada juga orang-orang tertentu yang terkesan ‘ngotot’ dalam melakukan hal ini. Dalam satu kasus, garis tepi luar kaki senantiasa dibuat bersinggungan dengan garis tepi luar kaki ma’mum di sebelahnya. Ma’mum sebelah menggeser kakinya, malah dikejar lagi supaya kaki tetap bersinggungan penuh, demikian seterusnya. Pada kasus lain, jemari kaki dipaksakan bertumbukan rapat bahkan menindih jemari kaki ma’mum di sebelahnya. Sungguh hal ini bisa mengganggu ma’mum di sebelah kita, apalagi jika bobot tubuh kita bisa menimbulkan tekanan yang cukup besar kepadanya. Cukuplah siku dan pundak yang bersinggungan, tak usah terlalu memaksakan jemari kaki bersentuhan terlalu rapat, apalagi jika harus mengejar-ngejar kaki ma’mum di sebelah kita yang merasa risih dan berusaha menghindar.
3. Gerakan sholat yang over.
Seringkali kita melakukan gerakan-gerakan berlebih saat sholat, yang bisa saja mengganggu ma’mum di dekat kita. Contohnya ruku’ dengan tenaga yang demikian besar sehingga menjadi seolah-olah pohon yang tiba-tiba tumbang dan terhalang pegas sehingga memantul saat menyentuh sumbu horizontal. Contoh lain ketika bangkit i’tidal, hentakan gerakan kita membuat kaki tertekuk dahulu baru kemudian bangkit i’tidal. Sedang melaksanakan sholat atau sedang menari Gending Sriwijaya? Atau misalnya saat akan sujud dari posisi berdiri, lutut kita menumbuk lantai dengan kerasnya seperti antan menumbuk lesung. Bisa jadi dalam waktu singkat lantai masjid berlubang-lubang di posisi tumbukan lutut tersebut. Gerakan-gerakan seperti ini umumnya dilakukan oleh para pemuda yang relatif masih memiliki energi dan semangat yang besar. Tidak masalah jika dipandang dalam persepsi kekokohan fisik pemuda Islam. Namun tak ada salahnya juga jika kita memerhatikan kekhusyukan ma’mum di dekat kita yang mungkin saja terganggu lantaran gerakan sholat kita yang terlalu keras. Mari melakukannya dengan lembut dan gerakan-gerakan halus. Bukankah seperti itu yang dicontohkan Rasulullah SAW?
4. Gerakan lain yang berulang-ulang.
Sebagian ulama berbeda pendapat dengan sebagian yang lain mengenai batasan gerakan di luar gerakan sholat yang boleh dilakukan. Namun di luar hal itu, hendaknya kita juga memerhatikan gerakan-gerakan ini. Gerakan yang diulang-ulang, yakinlah, dapat menimbulkan gangguan bagi ma’mum lain yang menyaksikannya secara langsung atau tidak. Karena itulah, sebaiknya kita memerhatikan bahwa sarung dan pakaian kita yang lain sudah terpasang dengan benar sebelum sholat. Kita juga sebaiknya menahan gerakan-gerakan yang tidak begitu perlu dilakukan, dalam batasan hal itu tidak mengganggu sholat kita. Dengan demikian, cukuplah bagi kita untuk menjaga kekhusyukan sholat berjama’ah.
5. Suara bacaan sholat.
Bukan sesuatu yang salah jika kita mengeluarkan sedikit suara lirih saat membaca lafadz-lafadz dalam sholat. Akan tetapi orang-orang tertentu mengeluarkan suara yang cukup keras, dalam beberapa kasus melampaui suara imam, saat membaca takbir dan lafadz-lafadz sholat yang lainnya. Sungguh bisa lebih baik jika suara itu diminimalkan bahkan jika memungkinkan dilafadzkan dalam hati. Karena pada orang-orang tertentu suara ini benar-benar mengganggu kekhusyukan ibadah sholatnya. Laiklah kita memerhatikan kepentingan saudara kita dalam sholat berjama’ah.
6. Duduk tasyahud.
Tasyahud awal biasanya tidak bermasalah, posisi duduk tasyahud akhirlah yang biasanya membuat ma’mum di sebelah kita terganggu. Beberapa orang di antara kita sulit melakukannya cukup di areal selebar bentangan kaki saat berdiri, terutama bagi yang memiliki proporsi bobot tubuh yang besar. Sebaiknya kita memerhatikan betul kondisi yang ada. Tidak mengapa jika shaf sholat kita cukup memungkinkan untuk melakukan duduk tasyahud akhir secara sempurna, namun tak usah dipaksakan jika tidak memungkinkan. Misalnya saat sholat ‘ied dengan jama’ah yang sangat ramai dan biasanya sangat berdesakan, duduk tasyahud secara sempurna bisa menimbulkan ketidaknyamanan bahkan rasa sakit, maka lebih baik melakukannya seperti tasyahud awal pada sholat dengan dua tasyahud. Sekali lagi pertimbangannya adalah kenyamanan dan kekhusyukan sholat kita dan ma’mum lain di sekitar kita.
Bukan berfatwa, melainkan mengungkapkan sedikit pendapat dari sahaya yang tidak berilmu cukup dalam agama. Mohon dilakukan koreksi atas kesalahan saya, Insya Allah konstruktif. Mari bangun selalu komitmen dan semangat penuh ceria menjalankan sholat fardhu berjamaah di masjid!
(Dalam kefanaan Jurangmangu, ba’da Subuh di pagi ke-26 bulan Mei 2011)
Senin, 14 Februari 2011
Sejengkal Mentari
Rinai hujan masih menghiasi dedaunan di taman depan rumah. Aku tepekur, sendiri. Entah angin apa yang merasuk pagi ini. Aku merasakan keharuan yang tiada tara. Duhai, indah nian kurasa sejuknya pagi ini. Oksigen yang menyelusup hingga ke unit-unit terkecil alveolus, dan dibawa ke seluruh jaringan tubuh ini, terasa begitu nikmat dan menyegarkan.
Sudah kutunaikan pagi ini, sesuatu yang tiada terbersit dalam memori. Saat keletihan merasuki diri, pagi ini kutemukan sejuknya kembali. Hangat dan nyaman, sesegar pucuk-pucuk dedaunan di luar sana. Ya, ada sesuatu di hatiku pagi ini. Lama nian sejak dulu, dhuha telah kupanjatkan lagi.
Dan kau tahu seperti apa sosok yang kulihat di cermin? Ah, mengapa dulu pernah kucampakkan? Kurenggut mahligaiku, hanya demi kebahagiaan sesaat nan sesat. Sekarang, saat semuanya telah berubah, aku melihat sesuatu yang kembali di cerminku. Kutelusuri setiap inchi sudut cerminku, dan kulihat ada sosok yang memulai senyum merekah, indah. Sungguh sebuah senyum yang berbeda sekali dibandingkan dengan senyumku yang penuh kepalsuan, dulu. Tapi tunggu dulu, senyum itu kini memudar, berganti kesedihan mendalam.
Aku ingat, semuanya berawal dari ratapanku. Ratapan seorang gadis yang tak pernah mau mengerti arti kesabaran orang yang darahnya mengalir di tubuhku. Saat itu yang kuinginkan, hanya aku ingin bebas sekehendakku. Entah di mana pekertiku, kutinggalkan mata sayu wanita tua itu dengan penuh pongah, dengan alasan mengejar cita-citaku. Padahal apa yang kusebut cita-cita saat itu hanyalah kepalsuan dunia yang menyilaukan nuraniku. Biadab benar aku saat itu, hingga kabar bahwa ibu sakit keras pun hanya kuanggap angin lalu. Pernah ayah menyambangi kontrakanku, tapi dengan akal bulus kupenjarakan ayahku. Ya, dia ayahku, yang darahnya mengalir di urat nadiku.
Ijinkan aku merajam hatiku, mengutuk diri sendiri saat semua telah berubah. Semua sudah musnah, seperti musnahnya harapan bersujud di kaki mereka. Semuanya telah lenyap, bagaikan lenyapnya kesempatan menciumi pipi mereka.
Aku naif, sungguh aku telah durhaka. Kiranya benar bahwa tanpa restu semuanya semu. Memang telah kutemukan apa yang dulu kusebut cita-cita. Saat itu, cita-citaku adalah meninggalkan madrasah, berangkat ke ibu kota, menjadi terkenal dan berlimpah harta. Sudah kudapatkan, malah berlebih. Aku seperti terlahir kembali dalam kehidupan baru, tanpa bayang-bayang potret kemiskinan orangtuaku. Kutemukan lelaki yang menjadi pujaan hatiku, kudapatkan dua putra yang menghibur hari-hari hampaku, bahkan kudapatkan lagi seorang putri yang enam bulan ini telah menghuni rahimku. Tapi itu semua kepalsuan, tak ada yang benar-benar membahagiakan.
Tiga bulan terakhir, satu per satu kebahagiaan semu itu luntur. Bermula saat suatu malam putraku yang pertama diantar pulang oleh dua orang temannya. Anakku mabuk berat! Dan yang lebih menyedihkan, sekujur tubuhnya lebam lantaran dikeroyok segerombolan preman. Sedih, kecewa, bingung, bercampur menjadi satu. Suamiku sedang ditugaskan keluar kota, putraku yang kedua sedang berkemah bersama teman-temannya di Cibubur.
Esok harinya, pagi-pagi kubawa putra pertamaku ke rumah sakit. Dokter mendiagnosis ada dua rusuk kanan yang remuk dan harus segera dioperasi. Kusetujui saja, aku masih punya sisa honor bermain sinetron sebelum kuputuskan istirahat karena hamil. Aku terus menghubungi suami, tapi hand phone-nya selalu tidak aktif. Kupikir memang karena di sana agenda kerjanya banyak, maka sengaja hand phone dimatikan agar tidak mengganggu. Baiklah, sms cukuplah untuk memberitahukan keadaan putra pertama kami.
Tiga jam operasi berjalan, tapi belum ada tanda-tanda bahwa penanganan medis selesai. Aku masih berusaha menunggu, pembantuku kuminta menyiapkan segala keperluan yang kami perlukan selama di rumah sakit. Setelah lima jam, dokter bedah yang menangani putraku meminta untuk berbicara di ruangannya. Kuikuti saja langkah dokter paruh baya itu. Lalu kabar menghenyakkan kuterima. Ternyata bukan hanya rusuknya yang patah, melainkan organ hatinya juga mengalami kerusakan akibat terlalu banyak mengonsumsi obat. Ternyata selama ini putraku mengonsumsi obat penenang dalam dosis besar. Tindakan operasi lebih lanjut harus dilakukan, tapi dengan risiko kematian. Kabut tebal menghiasi pikiranku, petir menggelegar menyambar jantungku, aku pingsan.
Pertama kali yang kulihat saat kubuka mataku adalah langit-langit ruangan yang putih bersih, dengan pencahayaan yang cukup terang. Ternyata setengah jam aku terbaring di UGD. Setelah mengecek kondisiku, dokter memperbolehkanku kembali melihat anakku. Tanpa terlalu banyak berpikir, kusetujui operasi berlanjut, apapun risikonya.
Kutelusuri lagi setiap sudut cerminku. Kulihat sosok itu, sembab. Sosok yang sering menghiasi layar kaca dengan berbagai lakon yang mendatangkan ratusan juta rupiah. Hingga bukan masalah jika harus membeli seratus cermin semacam ini. Sedikit kupalingkan wajah ke jendela, matahari sejengkal jaraknya dari garis horizon. Kulihat jam dinding, jarum menitnya baru bergeser satu garis dalam lamunan panjangku tadi.
Putra pertamaku hanya tujuh jam di rumah sakit. Selebihnya, kami diperbolehkan membawanya pulang. Tidak dengan taksi, tidak pula dengan mobil pribadi, melainkan dengan ambulans. Tak hentinya hujan membasahi hati, saat rumah telah penuh oleh kerabat, baik yang dekat maupun yang sok dekat. Tak seorang pun di antara mereka yang benar-benar kerabat yang bertalian darah denganku. Yang ada hanya mertua dan saudara-saudara iparku, yang sekian tahun mengetahui bahwa aku yatim piatu. Padahal dulu masih lengkap orangtuaku, saat aku mengenal suamiku pertama kalinya.
Tamu terus berdatangan, putra pertamaku telah disholatkan. Aku mendapati kenyataan pahit lagi. Di sampingku, pembantuku yang belum bersuami itu mual-mual dan muntah. Ibu mertuaku dengan instingnya mencurigai pembantuku hamil. Tanpa ampun ia paksa untuk mengetes pembantuku itu. Benar adanya, dan ia mengakui bahwa suamiku yang telah menggaulinya berulang kali. Petir menyambar, aku pingsan lagi.
Siuman bukan membuatku lega, malah kesedihan menyayat terus merambat dalam hati. Betapa tidak? Tamu masih juga berdatangan, putra keduaku dibawa pulang dalam bentuk jenazah juga. Overdosis, demikianlah kabarnya. Kering sudah air mataku, sungguh hari yang penuh badai. Kudengar sudah ada yang menyusul suamiku, membawa kembali harapanku yang tinggal satu-satunya.
Mendung menghampiri, sejengkal mentariku bersembunyi ditutupi awan. Bulir-bulir air mulai turun lagi. Kulihat cerminku, sosok itupun menangis lagi. Basah sudah kain yang menutupi dadanya, menyemburatkan kesedihan yang tiada terbayar.
Hari itu sungguh badai elnino yang tak terampuni. Kabar hina yang menistakan keluarga kami, datang di saat ketua putraku baru saja dimakamkan. Suamiku tercinta, menghiasi segenap stasiun tv dengan kabar tertangkapnya seorang pengusaha yang terlibat penggelapan pajak. Ironisnya, ia tertangkap di sebuah hotel dengan seorang wanita yang bukan istrinya. Ya, lelaki itu adalah suamiku, dan wanita itu adalah lawan mainku di sinetron terbaru kami. Dulu, wanita itulah yang telah memperkenalkanku dengan suamiku untuk yang pertama kali.
Untuk pingsan pun aku sudah tak sanggup. Aku menangis, layaknya seorang wanita. Tapi tangisku tanpa suara, hanya linangan air mata yang terus mengalir deras. Ratapanku kini benar-benar sebuah ratapan atas kehancuran yang tak berujung. Belum kering tanah kuburan kedua putraku, kubanjiri dengan nyanyian hati yang bersahut-sahut menggema, pilu.
Tepat saat ini, di depan cermin ini, kudapati sosok yang sangat kukenali. Dulu, seperti inilah penampilanku. Berjilbab rapi, tertutup rapat. Dulu, mahkota ini kucampakkan demi keindahan semu. Hari ini, kukenakan lagi semuanya. Seperti dulu lagi. Hanya saja, sekarang memang semua telah berubah. Tak ada lagi ibu, pun ayah yang kudurhakai. Tapi aku di sini, masih bernapas, memenuhi segenap alveolus dengan udara sejuk di rumah tua ini. Saat semua telah tergadai, kuputuskan menapaki hari di rumah ini, rumah yang dulu kutinggalkan, rumah yang penuh kenangan. Di sisa-sisa hari menanti kehadiran putriku. Aku menoleh ke arah jendela, mendung telah sirna. Sejengkal mentariku merambat naik. Ingin kuulangi dhuha-ku, sekali lagi.
Jurangmangu, 14 Pebruari 2011. Mari biasakan sholat dhuha!!
Sumber gambar: http://konsultasisyariah.com/waktu-dhuha
Langganan:
Postingan (Atom)

