Liburan kali ini, saya tidak pulang ke rumah karena berbagai alasan. Namun saya akan berbagi pengalaman saya pulang kampung pada liburan terdahulu. Bintaro-Baturaja naik bus langsung itu mah biasa, tapi tantangannya kurang terasa jika dibandingkan dengan backpacking.
Pondok Ranji
Dari kawasan Bintaro, pilihlah untuk naik kereta api dari Stasiun Pondok Ranji. Untuk menuju stasiun ini dari Kampus STAN bisa naik angkot D09 dari Jalan Bintaro Raya atau jika berangkat dari Jalan Ceger Raya bisa naik D22, lalu berhenti di perempatan Bintaro Plaza, cukup membayar Rp2.000,00. Selanjutnya berjalan ke arah Selatan menuju stasiun yang tak seberapa jauh. Kereta api ke arah Merak biasanya berangkat pukul delapan pagi dan pukul satu siang, dengan tarif tiket Rp5.000,00. Perjalanan empat hingga lima jam ini tak akan sepi dari pedagang asongan yang lalu-lalang tiada henti di setiap gerbong kereta. Setelah itu, turun di Stasiun Merak yang persis berada di samping Pelabuhan Merak.
Pelabuhan Merak
Ketika tiba di Pelabuhan Merak, azan Zuhur sudah berkumandang. Bisa saja jika ingin mencari mushola, cukup banyak di sekitar pelabuhan. Namun untuk mengejar waktu perjalanan, saya merekomendasikan Anda untuk segera membeli tiket kapal ferry seharga Rp11.500,00 dan naik ke atas kapal. Beberapa waktu kemudian kapal berangkat, dan Anda bisa melaksanakan sholat Zuhur dengan tenang di atas kapal, plus sensasi goyangan ombak yang menambah nikmatnya sujud di mushola kapal. Jangan lupa untuk men-jamak sholat Asar!
Kapal Ferry
Dua jam di atas kapal, banyak hal yang bisa dilakukan. Termasuk memandangi deburan ombak, memperhatikan kumpulan ganggang laut, dan melihat ikan yang sesekali meloncat di kejauhan, yang acapkali membuat mata berkabut atas ketenangan dan peresapan atas ayat yang diulang-ulang di Surat Arrahman. Di kapal biasanya ada tiga ruangan besar tempat beristirahat. Pilihlah ruangan ekonomi yang tidak menarik biaya tambahan. Sedangkan ruangan bisnis dan eksekutif biasanya dilengkapi dengan kursi empuk, AC, hiburan live music, dan/atau tempat lesehan. Tentunya dengan biaya tambahan, biasanya Rp7.000 ke atas. Tapi, apalah artinya fasilitas itu untuk dua jam perjalanan?
Sambil menikmati deburan ombak dan semilir angin, cobalah perhatikan awak bus yang biasanya berkeliling mencari tambahan penumpang. Cukup tunggu dan perhatikan, biasanya akan ditawari perjalanan lanjutan. Ambillah bus yang menuju atau melewati Bandar Lampung, sepakati harga antara Rp20.000,00 hingga Rp25.000,00. Setelah itu, bergegaslah naik ke bus yang dimaksudkan. Atau jika kesepakatan dilakukan saat kapal belum juga akan merapat, cukup pastikan bus mana yang harus ditumpangi. Namun jangan lupa untuk segera naik ke bus saat terdengar peringatan bahwa kapal akan segera merapat. Alternatif lainnya, Anda tunggu hingga turun di Pelabuhan Bakauheni, baru kemudian mencari bus yang bisa ditumpangi.
Pelabuhan Bakauheni
Tiba di Pelabuhan Bakauheni, pastikan Anda keluar dari kapal dengan menumpang bus yang sudah Anda sepakati dengan awaknya. Setelah itu, silakan nikmati perjalanan sekitar tiga jam menuju Bandar Lampung. Beberapa bus berhenti di Terminal Rajabasa, namun sebagian besar tidak, karena langsung melanjutkan perjalanan. Perhatikan jalan di sekitar bus Anda. Jika Anda sudah menemui beberapa angkot berwarna biru muda, segeralah turun dari bus!
Bandar Lampung
Lanjutkan perjalanan dengan angkot biru muda tersebut, katakan pada sopirnya bahwa Anda akan menuju Stasiun Tanjung Karang. Selanjutnya, perhatikanlah jalan di sebelah kiri hingga Anda menemui Masjid Taqwa, berhentilah di sana! Ongkos angkot Rp2.000,00. Masjid Taqwa ada di sebelah Stasiun Tanjung Karang, tunaikanlah sholat Maghrib di sana.
Kesegaran wudhu sholat Maghrib memberikan energi positif yang sangat bermanfaat. Songsonglah loket pembelian tiket kereta api dengan senyuman segar! Jika beruntung, Anda akan langsung mendapatkan tiket kereta ke arah Palembang tanpa antre. Dalam kondisi normal, tiket kelas bisnis seharga Rp60.000,00, sedangkan tiket kelas eksekutif seharga Rp120.000,00. Namun jika sedang dalam libur lebaran, tarif akan naik sejumlah Rp10.000,00. Dengan alasan penghematan (terlalu naif jika saya mengatakan “Apalah arti perjalanan tujuh jam?” untuk hal ini), lebih baik Anda memilih kelas bisnis.
Sembari menunggu keberangkatan kereta pukul sembilan malam, bolehlah berkeliling di sekitar stasiun. Mungkin Anda ingin membeli minuman sebagai bekal perjalanan tujuh jam di kereta. Percayalah, untuk perjalanan kali ini, tak akan ada pedagang asongan di dalam kereta. Oia, makan malam jangan lupa! Ada kedai mi ayam di dekat stasiun, lumayanlah untuk harga Rp4.000,00. Jika sudah terdengar azan, tunaikanlah sholat Isya’ di masjid yang sama dengan tempat sholat Maghrib tadi.
Sudah hampir bisa dipastikan, kereta akan berangkat minimal enam menit melampaui jadwal. Namun jangan sampai membuat Anda lengah tanpa memastikan gerbong mana yang harus Anda tumpangi. Duduklah yang mantap, pastikan barang-barang Anda dalam posisi yang benar-benar aman. Lalu nikmatilah perjalanan malam yang akan penuh dengan perhentian di stasiun-stasiun yang mungkin berjumlah lebih dari seratus. Untuk menghindari was-was terlewatkan Stasiun Baturaja, mintalah petugas terdekat untuk mengingatkan Anda.
Baturaja
Sekitar pukul dua dini hari, sebaiknya Anda berjaga. Isilah waktu tersebut dengan tilawah, membaca buku, atau kegiatan ringan bermanfaat lainnya. Sebelum azan Subuh berkumandang, Insya Allah Anda sudah tiba di Stasiun Baturaja. Selamat datang di Kota Beras, bersih-elok-rapi-aman-sejahtera! Lalu tetapkanlah tujuan Anda selanjutnya. Dalam kondisi normal, ojek di kota ini bertarif Rp3.000,00 untuk ke sudut kota mana pun. Jika pun si tukang ojek meminta lebih, pasanglah harga maksimal Rp5.000,00.
Trik Perjalanan Seorang Bujangan
1. Siapkanlah perjalanan Anda sebaik mungkin! Minimal bawalah bekal untuk makan siang ketika tiba di Pelabuhan Merak, air minum secukupnya, dan obat praktis sesuai penyakit bawaan.
2. Jangan lupa menyertakan peralatan mandi dalam bawaan Anda!
3. Meskipun dengan celana panjang sudah bisa melaksanakan sholat, tidak ada salahnya menyiapkan kain sarung untuk berjaga-jaga jika celana terkena najis dalam perjalanan. Ingatlah bahwa perjalanan Anda menggunakan angkutan umum yang rawan terkena muntah, kencing bayi, dan sebagainya.
4. Letakkan mushaf Alqur’an dan bacaan pengisi perjalanan di tempat yang mudah dijangkau dalam tas Anda!
5. Pakailah celana panjang, baju lengan panjang, penutup kepala, dan jaket! Anda tentu tidak mau bersentuhan kulit secara langsung dengan wanita yang bukan mahram saat berdesakan di angkutan umum.
6. Pilihlah celana berkantong banyak dan jaket dengan kantong dalam di bagian dada! Pisahkanlah uang Anda di beberapa kantong, dompet dan ponsel di kantong jaket bagian dada!
7. Daripada sepatu, lebih baik memakai sandal gunung berbahan karet. Hal ini akan memudahkan Anda ketika harus menghadapi kondisi basah/hujan, sehingga tak perlu repot dengan kaos kaki.
8. Saat berada dalam antrean, sandanglah tas dengan posisi di depan dada!
9. Hindari menggunakan parfum terlalu banyak atau yang beraroma menyengat! Banyak penumpang lain yang tidak menyukai hal itu, bahkan bisa membuat mereka mual dan muntah.
10. Anda pasti paham betul akan kewajiban sholat. Perhitungkanlah dengan matang kemungkinan waktu sholat! Agar Anda bisa memutuskan untuk men-jamak sholat, di awal atau di akhir.
11. Gunakanlah ponsel hanya pada tempat yang Anda yakini keamanannya! Tentu Anda tidak menginginkan jambret merampas ponsel Anda.
Jurangmangu, ba’da Asar 26 Mei 2011
Kamis, 26 Mei 2011
Enam Hal Kecil dalam Sholat Berjamaah
Saya bukanlah seorang ‘alim yang ahli dalam persoalan fiqh. Saya pun bukan seorang yang mumpuni dalam tafsir. Saya jua bukan seorang hamba Allah yang piawai dalam hal ilmu hadist. Namun bolehlah kiranya diri yang naif ini berbagi sedikit hal yang mungkin terluputkan pada rutinitas kenikmatan kita dalam sholat berjamaah.
1. Memaksakan barisan.
Kiranya kita sudah paham benar akan rapatnya shaf dalam sholat berjamaah, pun utamanya memilih shaf terdepan. Tapi terkadang ada keputusan yang sedikit memaksakan kehendak dalam hal ini. Celah sempit pada barisan depan tetap dimasuki walaupun mempersulit gerakan. Padahal kita tahu betul ukuran tubuh kita yang kurang memungkinkan untuk mengisi celah tersebut. Jadilah sholat kita berdesak-desakan dalam barisan rapat seperti saat membentuk bordir dalam unjuk rasa di depan istana presiden. Bahkan karena sempitnya, maka terpaksalah barisan melengkung ke depan dan ke belakang agar gerakan sedikit lega. Khusyuk? Lupakanlah.
2. Menyentuhkan jemari kaki.
Salah satu indikator rapatnya shaf dalam sholat adalah saling bersentuhannya jemari kaki. Tidak masalah jika hal ini dilakukan sewajarnya. Namun ada juga orang-orang tertentu yang terkesan ‘ngotot’ dalam melakukan hal ini. Dalam satu kasus, garis tepi luar kaki senantiasa dibuat bersinggungan dengan garis tepi luar kaki ma’mum di sebelahnya. Ma’mum sebelah menggeser kakinya, malah dikejar lagi supaya kaki tetap bersinggungan penuh, demikian seterusnya. Pada kasus lain, jemari kaki dipaksakan bertumbukan rapat bahkan menindih jemari kaki ma’mum di sebelahnya. Sungguh hal ini bisa mengganggu ma’mum di sebelah kita, apalagi jika bobot tubuh kita bisa menimbulkan tekanan yang cukup besar kepadanya. Cukuplah siku dan pundak yang bersinggungan, tak usah terlalu memaksakan jemari kaki bersentuhan terlalu rapat, apalagi jika harus mengejar-ngejar kaki ma’mum di sebelah kita yang merasa risih dan berusaha menghindar.
3. Gerakan sholat yang over.
Seringkali kita melakukan gerakan-gerakan berlebih saat sholat, yang bisa saja mengganggu ma’mum di dekat kita. Contohnya ruku’ dengan tenaga yang demikian besar sehingga menjadi seolah-olah pohon yang tiba-tiba tumbang dan terhalang pegas sehingga memantul saat menyentuh sumbu horizontal. Contoh lain ketika bangkit i’tidal, hentakan gerakan kita membuat kaki tertekuk dahulu baru kemudian bangkit i’tidal. Sedang melaksanakan sholat atau sedang menari Gending Sriwijaya? Atau misalnya saat akan sujud dari posisi berdiri, lutut kita menumbuk lantai dengan kerasnya seperti antan menumbuk lesung. Bisa jadi dalam waktu singkat lantai masjid berlubang-lubang di posisi tumbukan lutut tersebut. Gerakan-gerakan seperti ini umumnya dilakukan oleh para pemuda yang relatif masih memiliki energi dan semangat yang besar. Tidak masalah jika dipandang dalam persepsi kekokohan fisik pemuda Islam. Namun tak ada salahnya juga jika kita memerhatikan kekhusyukan ma’mum di dekat kita yang mungkin saja terganggu lantaran gerakan sholat kita yang terlalu keras. Mari melakukannya dengan lembut dan gerakan-gerakan halus. Bukankah seperti itu yang dicontohkan Rasulullah SAW?
4. Gerakan lain yang berulang-ulang.
Sebagian ulama berbeda pendapat dengan sebagian yang lain mengenai batasan gerakan di luar gerakan sholat yang boleh dilakukan. Namun di luar hal itu, hendaknya kita juga memerhatikan gerakan-gerakan ini. Gerakan yang diulang-ulang, yakinlah, dapat menimbulkan gangguan bagi ma’mum lain yang menyaksikannya secara langsung atau tidak. Karena itulah, sebaiknya kita memerhatikan bahwa sarung dan pakaian kita yang lain sudah terpasang dengan benar sebelum sholat. Kita juga sebaiknya menahan gerakan-gerakan yang tidak begitu perlu dilakukan, dalam batasan hal itu tidak mengganggu sholat kita. Dengan demikian, cukuplah bagi kita untuk menjaga kekhusyukan sholat berjama’ah.
5. Suara bacaan sholat.
Bukan sesuatu yang salah jika kita mengeluarkan sedikit suara lirih saat membaca lafadz-lafadz dalam sholat. Akan tetapi orang-orang tertentu mengeluarkan suara yang cukup keras, dalam beberapa kasus melampaui suara imam, saat membaca takbir dan lafadz-lafadz sholat yang lainnya. Sungguh bisa lebih baik jika suara itu diminimalkan bahkan jika memungkinkan dilafadzkan dalam hati. Karena pada orang-orang tertentu suara ini benar-benar mengganggu kekhusyukan ibadah sholatnya. Laiklah kita memerhatikan kepentingan saudara kita dalam sholat berjama’ah.
6. Duduk tasyahud.
Tasyahud awal biasanya tidak bermasalah, posisi duduk tasyahud akhirlah yang biasanya membuat ma’mum di sebelah kita terganggu. Beberapa orang di antara kita sulit melakukannya cukup di areal selebar bentangan kaki saat berdiri, terutama bagi yang memiliki proporsi bobot tubuh yang besar. Sebaiknya kita memerhatikan betul kondisi yang ada. Tidak mengapa jika shaf sholat kita cukup memungkinkan untuk melakukan duduk tasyahud akhir secara sempurna, namun tak usah dipaksakan jika tidak memungkinkan. Misalnya saat sholat ‘ied dengan jama’ah yang sangat ramai dan biasanya sangat berdesakan, duduk tasyahud secara sempurna bisa menimbulkan ketidaknyamanan bahkan rasa sakit, maka lebih baik melakukannya seperti tasyahud awal pada sholat dengan dua tasyahud. Sekali lagi pertimbangannya adalah kenyamanan dan kekhusyukan sholat kita dan ma’mum lain di sekitar kita.
Bukan berfatwa, melainkan mengungkapkan sedikit pendapat dari sahaya yang tidak berilmu cukup dalam agama. Mohon dilakukan koreksi atas kesalahan saya, Insya Allah konstruktif. Mari bangun selalu komitmen dan semangat penuh ceria menjalankan sholat fardhu berjamaah di masjid!
(Dalam kefanaan Jurangmangu, ba’da Subuh di pagi ke-26 bulan Mei 2011)
Senin, 14 Februari 2011
Sejengkal Mentari
Rinai hujan masih menghiasi dedaunan di taman depan rumah. Aku tepekur, sendiri. Entah angin apa yang merasuk pagi ini. Aku merasakan keharuan yang tiada tara. Duhai, indah nian kurasa sejuknya pagi ini. Oksigen yang menyelusup hingga ke unit-unit terkecil alveolus, dan dibawa ke seluruh jaringan tubuh ini, terasa begitu nikmat dan menyegarkan.
Sudah kutunaikan pagi ini, sesuatu yang tiada terbersit dalam memori. Saat keletihan merasuki diri, pagi ini kutemukan sejuknya kembali. Hangat dan nyaman, sesegar pucuk-pucuk dedaunan di luar sana. Ya, ada sesuatu di hatiku pagi ini. Lama nian sejak dulu, dhuha telah kupanjatkan lagi.
Dan kau tahu seperti apa sosok yang kulihat di cermin? Ah, mengapa dulu pernah kucampakkan? Kurenggut mahligaiku, hanya demi kebahagiaan sesaat nan sesat. Sekarang, saat semuanya telah berubah, aku melihat sesuatu yang kembali di cerminku. Kutelusuri setiap inchi sudut cerminku, dan kulihat ada sosok yang memulai senyum merekah, indah. Sungguh sebuah senyum yang berbeda sekali dibandingkan dengan senyumku yang penuh kepalsuan, dulu. Tapi tunggu dulu, senyum itu kini memudar, berganti kesedihan mendalam.
Aku ingat, semuanya berawal dari ratapanku. Ratapan seorang gadis yang tak pernah mau mengerti arti kesabaran orang yang darahnya mengalir di tubuhku. Saat itu yang kuinginkan, hanya aku ingin bebas sekehendakku. Entah di mana pekertiku, kutinggalkan mata sayu wanita tua itu dengan penuh pongah, dengan alasan mengejar cita-citaku. Padahal apa yang kusebut cita-cita saat itu hanyalah kepalsuan dunia yang menyilaukan nuraniku. Biadab benar aku saat itu, hingga kabar bahwa ibu sakit keras pun hanya kuanggap angin lalu. Pernah ayah menyambangi kontrakanku, tapi dengan akal bulus kupenjarakan ayahku. Ya, dia ayahku, yang darahnya mengalir di urat nadiku.
Ijinkan aku merajam hatiku, mengutuk diri sendiri saat semua telah berubah. Semua sudah musnah, seperti musnahnya harapan bersujud di kaki mereka. Semuanya telah lenyap, bagaikan lenyapnya kesempatan menciumi pipi mereka.
Aku naif, sungguh aku telah durhaka. Kiranya benar bahwa tanpa restu semuanya semu. Memang telah kutemukan apa yang dulu kusebut cita-cita. Saat itu, cita-citaku adalah meninggalkan madrasah, berangkat ke ibu kota, menjadi terkenal dan berlimpah harta. Sudah kudapatkan, malah berlebih. Aku seperti terlahir kembali dalam kehidupan baru, tanpa bayang-bayang potret kemiskinan orangtuaku. Kutemukan lelaki yang menjadi pujaan hatiku, kudapatkan dua putra yang menghibur hari-hari hampaku, bahkan kudapatkan lagi seorang putri yang enam bulan ini telah menghuni rahimku. Tapi itu semua kepalsuan, tak ada yang benar-benar membahagiakan.
Tiga bulan terakhir, satu per satu kebahagiaan semu itu luntur. Bermula saat suatu malam putraku yang pertama diantar pulang oleh dua orang temannya. Anakku mabuk berat! Dan yang lebih menyedihkan, sekujur tubuhnya lebam lantaran dikeroyok segerombolan preman. Sedih, kecewa, bingung, bercampur menjadi satu. Suamiku sedang ditugaskan keluar kota, putraku yang kedua sedang berkemah bersama teman-temannya di Cibubur.
Esok harinya, pagi-pagi kubawa putra pertamaku ke rumah sakit. Dokter mendiagnosis ada dua rusuk kanan yang remuk dan harus segera dioperasi. Kusetujui saja, aku masih punya sisa honor bermain sinetron sebelum kuputuskan istirahat karena hamil. Aku terus menghubungi suami, tapi hand phone-nya selalu tidak aktif. Kupikir memang karena di sana agenda kerjanya banyak, maka sengaja hand phone dimatikan agar tidak mengganggu. Baiklah, sms cukuplah untuk memberitahukan keadaan putra pertama kami.
Tiga jam operasi berjalan, tapi belum ada tanda-tanda bahwa penanganan medis selesai. Aku masih berusaha menunggu, pembantuku kuminta menyiapkan segala keperluan yang kami perlukan selama di rumah sakit. Setelah lima jam, dokter bedah yang menangani putraku meminta untuk berbicara di ruangannya. Kuikuti saja langkah dokter paruh baya itu. Lalu kabar menghenyakkan kuterima. Ternyata bukan hanya rusuknya yang patah, melainkan organ hatinya juga mengalami kerusakan akibat terlalu banyak mengonsumsi obat. Ternyata selama ini putraku mengonsumsi obat penenang dalam dosis besar. Tindakan operasi lebih lanjut harus dilakukan, tapi dengan risiko kematian. Kabut tebal menghiasi pikiranku, petir menggelegar menyambar jantungku, aku pingsan.
Pertama kali yang kulihat saat kubuka mataku adalah langit-langit ruangan yang putih bersih, dengan pencahayaan yang cukup terang. Ternyata setengah jam aku terbaring di UGD. Setelah mengecek kondisiku, dokter memperbolehkanku kembali melihat anakku. Tanpa terlalu banyak berpikir, kusetujui operasi berlanjut, apapun risikonya.
Kutelusuri lagi setiap sudut cerminku. Kulihat sosok itu, sembab. Sosok yang sering menghiasi layar kaca dengan berbagai lakon yang mendatangkan ratusan juta rupiah. Hingga bukan masalah jika harus membeli seratus cermin semacam ini. Sedikit kupalingkan wajah ke jendela, matahari sejengkal jaraknya dari garis horizon. Kulihat jam dinding, jarum menitnya baru bergeser satu garis dalam lamunan panjangku tadi.
Putra pertamaku hanya tujuh jam di rumah sakit. Selebihnya, kami diperbolehkan membawanya pulang. Tidak dengan taksi, tidak pula dengan mobil pribadi, melainkan dengan ambulans. Tak hentinya hujan membasahi hati, saat rumah telah penuh oleh kerabat, baik yang dekat maupun yang sok dekat. Tak seorang pun di antara mereka yang benar-benar kerabat yang bertalian darah denganku. Yang ada hanya mertua dan saudara-saudara iparku, yang sekian tahun mengetahui bahwa aku yatim piatu. Padahal dulu masih lengkap orangtuaku, saat aku mengenal suamiku pertama kalinya.
Tamu terus berdatangan, putra pertamaku telah disholatkan. Aku mendapati kenyataan pahit lagi. Di sampingku, pembantuku yang belum bersuami itu mual-mual dan muntah. Ibu mertuaku dengan instingnya mencurigai pembantuku hamil. Tanpa ampun ia paksa untuk mengetes pembantuku itu. Benar adanya, dan ia mengakui bahwa suamiku yang telah menggaulinya berulang kali. Petir menyambar, aku pingsan lagi.
Siuman bukan membuatku lega, malah kesedihan menyayat terus merambat dalam hati. Betapa tidak? Tamu masih juga berdatangan, putra keduaku dibawa pulang dalam bentuk jenazah juga. Overdosis, demikianlah kabarnya. Kering sudah air mataku, sungguh hari yang penuh badai. Kudengar sudah ada yang menyusul suamiku, membawa kembali harapanku yang tinggal satu-satunya.
Mendung menghampiri, sejengkal mentariku bersembunyi ditutupi awan. Bulir-bulir air mulai turun lagi. Kulihat cerminku, sosok itupun menangis lagi. Basah sudah kain yang menutupi dadanya, menyemburatkan kesedihan yang tiada terbayar.
Hari itu sungguh badai elnino yang tak terampuni. Kabar hina yang menistakan keluarga kami, datang di saat ketua putraku baru saja dimakamkan. Suamiku tercinta, menghiasi segenap stasiun tv dengan kabar tertangkapnya seorang pengusaha yang terlibat penggelapan pajak. Ironisnya, ia tertangkap di sebuah hotel dengan seorang wanita yang bukan istrinya. Ya, lelaki itu adalah suamiku, dan wanita itu adalah lawan mainku di sinetron terbaru kami. Dulu, wanita itulah yang telah memperkenalkanku dengan suamiku untuk yang pertama kali.
Untuk pingsan pun aku sudah tak sanggup. Aku menangis, layaknya seorang wanita. Tapi tangisku tanpa suara, hanya linangan air mata yang terus mengalir deras. Ratapanku kini benar-benar sebuah ratapan atas kehancuran yang tak berujung. Belum kering tanah kuburan kedua putraku, kubanjiri dengan nyanyian hati yang bersahut-sahut menggema, pilu.
Tepat saat ini, di depan cermin ini, kudapati sosok yang sangat kukenali. Dulu, seperti inilah penampilanku. Berjilbab rapi, tertutup rapat. Dulu, mahkota ini kucampakkan demi keindahan semu. Hari ini, kukenakan lagi semuanya. Seperti dulu lagi. Hanya saja, sekarang memang semua telah berubah. Tak ada lagi ibu, pun ayah yang kudurhakai. Tapi aku di sini, masih bernapas, memenuhi segenap alveolus dengan udara sejuk di rumah tua ini. Saat semua telah tergadai, kuputuskan menapaki hari di rumah ini, rumah yang dulu kutinggalkan, rumah yang penuh kenangan. Di sisa-sisa hari menanti kehadiran putriku. Aku menoleh ke arah jendela, mendung telah sirna. Sejengkal mentariku merambat naik. Ingin kuulangi dhuha-ku, sekali lagi.
Jurangmangu, 14 Pebruari 2011. Mari biasakan sholat dhuha!!
Sumber gambar: http://konsultasisyariah.com/waktu-dhuha
Senin, 24 Januari 2011
Culinary Around Campus
Tidak dapat dipungkiri, makanan warteg di sekitar kampus terkadang terasa begitu membosankan. Terlebih bagi mahasiswa yang terbiasa di rumah dengan masakan ibunda tercinta yang sederhana namun variatif. Beberapa mahasiswa lebih suka mencari
alternatif pengisi perut dengan pergi ke restoran-restoran fast food atau memesannya melalui fasilitas delivery order. Namun bagi mahasiswa seperti saya, yang harus banyak berhemat, makanan di warung-warung pinggir jalan adalah alternatif yang nikmat namun tetap bersahabat. Berikut saya sajikan beberapa tempat yang layak dijadikan referensi bagi rekan-rekan yang ingin mencari alternatif selingan pengisi perut di sekitar Kampus STAN.
Bubur Kacang Ijo Gerbang Ponsaf
Untuk kamu yang cukup perhatian dengan kandungan nutrisi dalam makanan, bubur kacang ijo layak dijadikan menu andalan. Nah, di pinggir jalan di samping gerbang masuk Pondok Safari Indah ada pedagang bubur yang menyajikan makanan satu ini. Tidak seperti bubur kacang ijo yang lain, yang satu ini bisa dibilang spesial. Apa pasal? Dengan harga tiga ribu rupiah, kamu akan memperoleh bubur kacang ijo dengan butiran-butiran kedelai, susu kental manis yang cukup banyak, santan kental, dan cabikan roti tawar. Hangat, kenyang, dan segar. Itulah kesan yang akan kamu dapatkan setelah menyeruput makanan satu ini.
Ayam Goreng Ahad Mart
Saya termasuk orang yang suka makan ayam goreng. Di lapangan parkir depan Ahad Mart, ada gerobak penjual ayam goreng yang pantas dijadikan referensi. Garing, renyah, dengan tepung bumbu yang spicy, membuat ayam goreng yang satu ini pantas diacungi jempol. Dengan tujuh ribu rupiah, kamu bisa mendapatkan ayam goreng bagian dada yang cukup besar. Penjual ayam goreng yang satu ini konsisten menggunakan kertas khusus pembungkus makanan untuk mengemas ayam, nasi (tambahan seribu rupiah), dua sachet sambal, dan satu sachet saos tomat. Jadi tidak perlu khawatir ayam goreng yang kamu beli dibungkus kertas koran yang membahayakan.
Sop Buah dan Kebab Alfamidi
Lapangan parkir Alfamidi di dekat gerbang belakang kampus cukup luas. Cukup bijak bagi pengelolanya untuk menyewakan sebagian kecil lahan itu bagi pedagang kecil seperti penjual sop buah dan penjual kebab ini.
Sop buah yang dimaksud seperti layaknya es buah yang kita kenal, namun yang satu ini cukup memuaskan dalam hal porsi dan rasanya. Biasanya, buah yang disajikan meliputi strawberi, alpukat, melon, mangga, apel, dan buah naga, dilengkapi dengan susu kental manis serta siraman air gula dan es batu sebagai pelengkap. Dengan harga tujuh ribu rupiah, sop buah ini mengenyangkan dan menyegarkan (kecuali jika kamu sedang pilek, tentunya). Tidak hanya sop buah, pedagang yang satu ini juga menyediakan berbagai jus dengan harga variatif mulai enam ribu rupiah hingga belasan ribu rupiah. Selain kentalnya, keunggulan dari jus yang disajikan adalah kita tidak perlu repot dengan ampasnya karena disaring, terutama bagi kamu yang gemar jus jambu biji.
Tepat di samping penjual sop buah, ada penjual kebab yang hanya beroperasi petang hingga malam hari. Dibandingkan kebab di restoran terkenal, jelas sekali harganya lebih murah. Sembilan ribu rupiah, kamu sudah mendapatkan kebab ukuran besar yang cukup mengenyangkan. Selain kebab, ada juga burger dengan harga relatif sama. Daging sapi yang menjadi unsur utama pun benar-benar matang dengan bumbu yang sangat melekat di lidah. Tapi untuk orang-orang yang tidak terbiasa menyantap sejenis junk food, seperti saya, harus bersiap-siap dengan sensasi kombinasi rasa bawang bombay dan mayonaise yang tetap terasa di mulut hingga keesokan harinya.
Ayam Bakar Samping Alfamidi
Saya lupa apakah warung ini punya nama atau tidak. Yang jelas, ayam bakarnya bisa menjadi referensi. Sepuluh ribu rupiah sudah membuat perut kenyang sekali. Porsi ayam bakar yang ditawarkan sangat besar jika dibandingkan dengan kebanyakan warung yang menyediakan menu serupa, ditambah nasi serta lalapan dan sambal yang menambah selera. Selain itu, bumbunya sangat meresap ke dalam daging ayam yang empuk dan matang sempurna. Untuk sebuah perayaan pascaujian, ayam bakar ini menyempurnakan kebahagiaan setelah berjibaku dengan materi ujian yang seabreg.
Bakso Tahu di Seberang Dakka Optikal
Masih di dekat Alfamidi, bergeser ke barat ada kedai bakso yang hampir selalu ramai pelanggan. Kedai ini bukan kedai permanen, hanya berupa gerobak dengan tambahan meja dan beberapa kursi plastik. Uniknya, bakso yang ditawarkan dilengkapi dengan tahu putih yang memberikan sensasi rasa bakso yang berbeda daripada kebanyakan bakso lainnya. Dengan harga delapan ribu rupiah, sesuailah dengan porsi yang sangat mengenyangkan ini.
Saya tidak merekomendasikan untuk menikmati bakso ini di kedainya, karena meja yang tersedia berkesan kotor dan lengket. Kuahnya sudah cukup gurih, lebih baik memesan bakso tanpa tambahan penyedap rasa karena biasanya penyedap rasa yang ditambahkan sangat banyak. Bayangkan jika kamu menyantap semangkuk bakso dengan penyedap rasa (MSG, monosodium glutamat) satu sendok makan! Hal yang sama terjadi dengan saos tomat, bagian yang sangat tidak saya sukai. Jika kamu menyukai bakso dengan kecap manis, tambahkan sebagai bagian pesanan khusus. Karena biasanya pedagang yang terkesan, maaf, jutek ini tidak akan menambahkan kecap manis tanpa diminta. Kuahnya sangat panas, lebih baik segera dibawa pulang dan dimakan dalam mangkuk beling demi meminimalisir resiko reaksi kimiawi kantong plastik wadah bakso.
Mi Ayam Parkir Depan Indomaret
Indomaret yang dimaksudkan adalah gerai Indomaret yang tepat berseberangan dengan gerbang belakang Kampus STAN. Dengan kocek tujuh ribu rupiah, kamu bisa mendapatkan satu porsi mi ayam bakso yang lezat. Jika memilih untuk menyantapnya di rumah/kos, kamu akan mendapatkan pengemasan yang cukup membuat nyaman. Mi dibungkus dalam kertas, kuahnya dipisahkan dalam wadah plastik, lalu bungkusan sambal, ada juga bungkusan saos tomat, dilengkapi dengan sumpit bambu sekali pakai. Jika tanpa bakso, harga dikurangi seribu rupiah.
Nasi Goreng BRI
Larut malam perut kelaparan? Jangan khawatir, teras depan toko di samping kantor BRI Pondok Aren setiap malamnya disulap menjadi kedai nasi goreng. Seperti biasa sebuah kedai nasi goreng, menu yang ditawarkan juga meliputi mi rebus/goreng dan kwetiau.
Uniknya Nasi Goreng BRI, membuat saya merekomendasikannya. Tidak perlu khawatir dengan minyak goreng yang berlebihan, karena hasilnya relatif kering dan tidak membuat eneg. Jika biasanya nasi goreng disertai kerupuk, Nasi Goreng BRI menyertakan emping melinjo yang sangat saya sukai. Jangan lupa pula untuk mencicipi acar dengan komposisi bawang, ketimun, dan wortel yang memberikan rasa segar.
Tempe Mendoan Seberang Harmony Swalayan
Penggemar KCB pasti ingat makanan satu ini, yang menjadi salah satu sebab Azzam begitu merindukan sang ibu. Ya, tempe mendoan juga hadir tidak jauh dari Kampus STAN. Gerobak penjual kudapan ini biasanya beroperasi dari petang hingga sekitar jam sembilan malam. Satu lembar tempe mendoan ukuran besar ini harganya seribu lima ratus rupiah. Dua lembar penganan ini ditambah segelas teh manis, cukup membuat perut kenyang sebagai dinner ala mahasiswa pas-pasan. Dibungkus dengan daun pisang dan kertas buram, tempe mendoan ini disertai beberapa cabai rawit hijau, kuah siram ala cuko pempek, dan sambal kacang. Sayangnya, sang penjual terkesan ‘pelit’ dengan kuah siram dan sambal kacangnya, satu lembar atau dua lembar tempe disertai dengan pelengkap yang sama jumlahnya.
Pempek Harmony
Mau tidak mau, harus diakui, lidah saya tetap saja familiar dengan makanan satu ini. Dulu sempat hunting khusus mencari makanan ini, ternyata tak perlu jauh-jauh dari kampus. Teras Harmony Swalayan dihuni para pedagang makanan, salah satunya penjual pempek ini. Tujuh ribu rupiah untuk satu porsi kapal selem, cukup pantas di sini. Jika kamu memilih untuk membawanya ke rumah/kos, maka akan dikemas dengan kotak plastik kecil. Pelengkapnya berupa ebi goreng, cuko, irisan timun, bawang goreng, dan cabai hijau giling (untuk penambah pedas cuko sesuai selera). Selain kapal selem, di sini juga ada pempek lenjer dan pempek kulit.
Soto Ayam Tegal Bahari
Belum lama ini saya mencobanya, dan saya ketagihan! Warung Tegal Bahari di Gang Kalimongso-Warung Jengkol, tidak jauh dari kontrakan kami. Lima ribu rupiah untuk satu porsi. Kuahnyalah yang menjadi daya tarik bagi saya. Jika ingin ditambah nasi, harganya menjadi tujuh ribu rupiah. Saya lebih senang mengganti nasi dengan bakwan atau tempe goreng. Supaya bisa lebih menikmati kuahnya yang kental, kamu juga bisa menambahkan sedikit susu kental manis.
Ayam Bakar Depan Gereja PJMI
Ini warung yang dibuat khusus oleh pemiliknya, bukan dengan gerobak. Dengan sepuluh ribu rupiah, kamu sudah bisa kenyang plus minum. Sambalnya betul-betul mantap! Saya pasti menghabiskan begitu banyak tissu jika berkesempatan menyantap ayam bakar di sini, untuk mengelap keringat.
Kue Pukis Indomaret
Kali ini yang dimaksud adalah gerai Indomaret yang berbeda. Tepat berada di samping gerbang utama Pondok Jurang Mangu Indah (PJMI). Harganya lima ratus rupiah per kuenya, tapi ia berbeda. Lebih padat, matangnya pas, manisnya pas. Untuk menemani minum teh, kopi, susu, atau cokelat selepas sholat Jum’at atau sore hari sepulang kuliah.
Bakso Samping Alfamart
Masih di sekitar gerbang utama PJMI. Di seberang Indomaret tadi ada gerai Alfamart. Nah, di samping Alfamart ini ada warung yang menjual bakso dan mi ayam. Baksonya kenyal, padat, tapi tidak terlalu putih. Dengan tujuh ribu lima ratus rupiah, sudah bisa menyantap semangkuk bakso lezat. Salah satu bakso berukuran besar, terasa sekali daging cincangnya. Kalau minumnya air putih saja, di sini gratis.
Ayam Bakar Lamongan
Makin ke timur, kita akan menjumpai Ayam Bakar Lamongan sebelum pom bensin Pertamina. Saya lupa harga pastinya, yang jelas warung ini lebih cocok dijadikan semacam perayaan karena relatif lebih mahal. Tapi saya tidak merekomendasikan untuk makan di tempat, karena harga minumnya juga relatif mahal. Mendingan bawa pulang, lengkapi dengan teh manis seduhan sendiri.
Bakso Kerikil
Kegemaran saya berkeliling menggunakan sepeda, membuat saya menemukan kedai bakso yang satu ini. Sesuai namanya, bakso yang ditawarkan kecil-kecil seperti kerikil. Satu-satunya pentolan terbesar seukuran bola ping-pong. Sepertinya saya banyak menemukan angka tujuh ribu rupiah, pun demikian dengan bakso yang satu ini. Sayangnya porsi yang disajikan relatif sedikit, kita juga tidak akan menemui air minum gratis. Tapi jangan langsung meninggalkan kedai ini! Kamu harus mencobanya, kuah yang menggoda. Sambalnya pun berbeda dengan kedai bakso yang lain. Kemungkinan sambalnya ditambah dengan bumbu-bumbu juga, termasuk kemiri yang cukup mempengaruhi warna dan rasanya. Letak kedai ini tidak jauh dari pertigaan Pondok Betung, tepat di seberang Mitra’10, komplek ruko bahan bangunan.
Warung Bu Ning, Warung Kuningan, dan Warung Abah
Meskipun tetap terkategori warung makan biasa atau yang lumrah disebut warteg, ketiga warung ini layak dijadikan referensi lantaran menu-menu tertentu yang ditawarkannya. Dua warung yang pertama terletak di Sarmili, sedangkan yang terakhir ada di Gang Kalimongso-Warung Jengkol.
Warung Bu Ning terkesan bersih dan luas, berbagai menu olahan ikan sangat menggugah selera. Salah satu yang menarik bagi saya adalah keberadaan ikan asin berbalur tepung, jarang ditemukan di warung lainnya. Meskipun pemilik warung ini orang Jawa, lidah Sumatera saya menerima dengan baik lantaran masakannya senantiasa disertai bumbu-bumbu yang pas, kecuali dadar telur yang terlalu berminyak. Dua ribu sudah cukup untuk menikmati jus buah di warung ini, tentu saja tidak begitu kental seperti di depan Alfamidi. Favorit saya adalah jus melon. Selain itu, jangan lupa bakwan jagungnya yang krenyes dan maknyus.
Walaupun relatif lebih mahal daripada warung yang lain, Warung Kuningan cukup memikat hati saya. Berjarak dua rumah dari Mushola Mujahidin di Sarmili, pelayanan super ramah menjadi daya tarik. Seperti Warung Bu Ning, masakan di warung ini juga sangat memperhatikan komposisi bumbu masakannya. Favorit saya di sini adalah pepes tahu dan pepes ayam. Terlebih untuk sahur di Bulan Ramadhan, menunya sangat menggoda selera.
Kalau kamu penikmat jengkol, Warung Abah menyediakannya. Rendang jengkol yang ada di sini mungkin bisa mengobati kerinduanmu akan masakan ibu di rumah. Selain itu, kamu juga harus mencoba sayur kacang merahnya. Walaupun agak meringsek ke dalam, bukan tepat di tepi jalan, warung ini ramai pelanggan. Sekali lagi, lidah Sumatera saya sangat menikmati makanan-makanan berbumbu di sini.
Warung Sate Perempatan Bintaro Jaya
Saya lupa nama pastinya, yang jelas posisinya di selatan perempatan, ke arah Stasiun Pondok Ranji. Dari harganya, memang warung ini lebih layak disebut restoran. Apalagi jika ukuran kantongnya mahasiswa rantauan dengan bekal seadanya. Tapi tidak ada salahnya jika suatu saat orangtua berkunjung, atau nanti ketika beliau datang menjelang kita diwisuda, mengajak kedua orang tercinta mengunjungi tempat makan yang satu ini. Kalau kamu mahasiswa D-III yang kenal beberapa orang mahasiswa bujangan D-IV, bolehlah sesekali meminta traktiran penyelesaian skripsi dari mereka. Hhehee!!
Andalan utama adalah sate kambing. Ada juga sate ayam, sate sapi, tongseng, sop kambing, dan kambing guling. Sembari menunggu pesanan, kamu akan disuguhi tahu goreng didampingi kecap cabai superpedas. Sate sapi ukuran besar cukup menggugah selera. Sayangnya, tidak disiram dengan bumbu kacang, melainkan hanya kecap manis dengan merk yang sama di film KCB. Namun daging sapi yang empuk itu sudah berbumbu rupanya, masih bisa dicocol dengan kecap pedas sisa tahu goreng tadi. Untuk minumannya, kamu bisa memilih es kelapa muda yang rasanya betul-betul mantap! Disajikan dalam gelas besar dan sendok, ini baru yang namanya es kelapa muda! Tidak terasa pemanis buatan sama sekali, paling-paling hanya gula pasir biasa. Daging kelapa mudanya halus, sedikit kenyal, asli kelapa muda! Harganya? Cukup dengan angka tujuh juga, tapi kali ini tujuh puluh ribu rupiah. Tenang, masih ada kembaliannya! Dengan harga ini, cukuplah momen-momen tertentu saja makan di sini.
Okay, berbagai menu sudah saya hadirkan. Ternyata makanan/minuman di tepian jalan sangat nikmat, jauh lebih menggoda daripada fast food. Semoga menjadi referensi yang bermanfaat. Kalau ada yang tidak sependapat dengan tulisan saya ini, tidak masalah. Selera kita belum tentu sama, ya kan?
Jurangmangu, mulai ditulis ba’da maghrib 23 Januari 2011, diselesaikan dini hari 24 Januari 2011
dalam semangat berbagi, dalam semangat berlatih menulis
Sumber foto: http://www.chefmd.com/culinary_medicine.php
alternatif pengisi perut dengan pergi ke restoran-restoran fast food atau memesannya melalui fasilitas delivery order. Namun bagi mahasiswa seperti saya, yang harus banyak berhemat, makanan di warung-warung pinggir jalan adalah alternatif yang nikmat namun tetap bersahabat. Berikut saya sajikan beberapa tempat yang layak dijadikan referensi bagi rekan-rekan yang ingin mencari alternatif selingan pengisi perut di sekitar Kampus STAN.
Bubur Kacang Ijo Gerbang Ponsaf
Untuk kamu yang cukup perhatian dengan kandungan nutrisi dalam makanan, bubur kacang ijo layak dijadikan menu andalan. Nah, di pinggir jalan di samping gerbang masuk Pondok Safari Indah ada pedagang bubur yang menyajikan makanan satu ini. Tidak seperti bubur kacang ijo yang lain, yang satu ini bisa dibilang spesial. Apa pasal? Dengan harga tiga ribu rupiah, kamu akan memperoleh bubur kacang ijo dengan butiran-butiran kedelai, susu kental manis yang cukup banyak, santan kental, dan cabikan roti tawar. Hangat, kenyang, dan segar. Itulah kesan yang akan kamu dapatkan setelah menyeruput makanan satu ini.
Ayam Goreng Ahad Mart
Saya termasuk orang yang suka makan ayam goreng. Di lapangan parkir depan Ahad Mart, ada gerobak penjual ayam goreng yang pantas dijadikan referensi. Garing, renyah, dengan tepung bumbu yang spicy, membuat ayam goreng yang satu ini pantas diacungi jempol. Dengan tujuh ribu rupiah, kamu bisa mendapatkan ayam goreng bagian dada yang cukup besar. Penjual ayam goreng yang satu ini konsisten menggunakan kertas khusus pembungkus makanan untuk mengemas ayam, nasi (tambahan seribu rupiah), dua sachet sambal, dan satu sachet saos tomat. Jadi tidak perlu khawatir ayam goreng yang kamu beli dibungkus kertas koran yang membahayakan.
Sop Buah dan Kebab Alfamidi
Lapangan parkir Alfamidi di dekat gerbang belakang kampus cukup luas. Cukup bijak bagi pengelolanya untuk menyewakan sebagian kecil lahan itu bagi pedagang kecil seperti penjual sop buah dan penjual kebab ini.
Sop buah yang dimaksud seperti layaknya es buah yang kita kenal, namun yang satu ini cukup memuaskan dalam hal porsi dan rasanya. Biasanya, buah yang disajikan meliputi strawberi, alpukat, melon, mangga, apel, dan buah naga, dilengkapi dengan susu kental manis serta siraman air gula dan es batu sebagai pelengkap. Dengan harga tujuh ribu rupiah, sop buah ini mengenyangkan dan menyegarkan (kecuali jika kamu sedang pilek, tentunya). Tidak hanya sop buah, pedagang yang satu ini juga menyediakan berbagai jus dengan harga variatif mulai enam ribu rupiah hingga belasan ribu rupiah. Selain kentalnya, keunggulan dari jus yang disajikan adalah kita tidak perlu repot dengan ampasnya karena disaring, terutama bagi kamu yang gemar jus jambu biji.
Tepat di samping penjual sop buah, ada penjual kebab yang hanya beroperasi petang hingga malam hari. Dibandingkan kebab di restoran terkenal, jelas sekali harganya lebih murah. Sembilan ribu rupiah, kamu sudah mendapatkan kebab ukuran besar yang cukup mengenyangkan. Selain kebab, ada juga burger dengan harga relatif sama. Daging sapi yang menjadi unsur utama pun benar-benar matang dengan bumbu yang sangat melekat di lidah. Tapi untuk orang-orang yang tidak terbiasa menyantap sejenis junk food, seperti saya, harus bersiap-siap dengan sensasi kombinasi rasa bawang bombay dan mayonaise yang tetap terasa di mulut hingga keesokan harinya.
Ayam Bakar Samping Alfamidi
Saya lupa apakah warung ini punya nama atau tidak. Yang jelas, ayam bakarnya bisa menjadi referensi. Sepuluh ribu rupiah sudah membuat perut kenyang sekali. Porsi ayam bakar yang ditawarkan sangat besar jika dibandingkan dengan kebanyakan warung yang menyediakan menu serupa, ditambah nasi serta lalapan dan sambal yang menambah selera. Selain itu, bumbunya sangat meresap ke dalam daging ayam yang empuk dan matang sempurna. Untuk sebuah perayaan pascaujian, ayam bakar ini menyempurnakan kebahagiaan setelah berjibaku dengan materi ujian yang seabreg.
Bakso Tahu di Seberang Dakka Optikal
Masih di dekat Alfamidi, bergeser ke barat ada kedai bakso yang hampir selalu ramai pelanggan. Kedai ini bukan kedai permanen, hanya berupa gerobak dengan tambahan meja dan beberapa kursi plastik. Uniknya, bakso yang ditawarkan dilengkapi dengan tahu putih yang memberikan sensasi rasa bakso yang berbeda daripada kebanyakan bakso lainnya. Dengan harga delapan ribu rupiah, sesuailah dengan porsi yang sangat mengenyangkan ini.
Saya tidak merekomendasikan untuk menikmati bakso ini di kedainya, karena meja yang tersedia berkesan kotor dan lengket. Kuahnya sudah cukup gurih, lebih baik memesan bakso tanpa tambahan penyedap rasa karena biasanya penyedap rasa yang ditambahkan sangat banyak. Bayangkan jika kamu menyantap semangkuk bakso dengan penyedap rasa (MSG, monosodium glutamat) satu sendok makan! Hal yang sama terjadi dengan saos tomat, bagian yang sangat tidak saya sukai. Jika kamu menyukai bakso dengan kecap manis, tambahkan sebagai bagian pesanan khusus. Karena biasanya pedagang yang terkesan, maaf, jutek ini tidak akan menambahkan kecap manis tanpa diminta. Kuahnya sangat panas, lebih baik segera dibawa pulang dan dimakan dalam mangkuk beling demi meminimalisir resiko reaksi kimiawi kantong plastik wadah bakso.
Mi Ayam Parkir Depan Indomaret
Indomaret yang dimaksudkan adalah gerai Indomaret yang tepat berseberangan dengan gerbang belakang Kampus STAN. Dengan kocek tujuh ribu rupiah, kamu bisa mendapatkan satu porsi mi ayam bakso yang lezat. Jika memilih untuk menyantapnya di rumah/kos, kamu akan mendapatkan pengemasan yang cukup membuat nyaman. Mi dibungkus dalam kertas, kuahnya dipisahkan dalam wadah plastik, lalu bungkusan sambal, ada juga bungkusan saos tomat, dilengkapi dengan sumpit bambu sekali pakai. Jika tanpa bakso, harga dikurangi seribu rupiah.
Nasi Goreng BRI
Larut malam perut kelaparan? Jangan khawatir, teras depan toko di samping kantor BRI Pondok Aren setiap malamnya disulap menjadi kedai nasi goreng. Seperti biasa sebuah kedai nasi goreng, menu yang ditawarkan juga meliputi mi rebus/goreng dan kwetiau.
Uniknya Nasi Goreng BRI, membuat saya merekomendasikannya. Tidak perlu khawatir dengan minyak goreng yang berlebihan, karena hasilnya relatif kering dan tidak membuat eneg. Jika biasanya nasi goreng disertai kerupuk, Nasi Goreng BRI menyertakan emping melinjo yang sangat saya sukai. Jangan lupa pula untuk mencicipi acar dengan komposisi bawang, ketimun, dan wortel yang memberikan rasa segar.
Tempe Mendoan Seberang Harmony Swalayan
Penggemar KCB pasti ingat makanan satu ini, yang menjadi salah satu sebab Azzam begitu merindukan sang ibu. Ya, tempe mendoan juga hadir tidak jauh dari Kampus STAN. Gerobak penjual kudapan ini biasanya beroperasi dari petang hingga sekitar jam sembilan malam. Satu lembar tempe mendoan ukuran besar ini harganya seribu lima ratus rupiah. Dua lembar penganan ini ditambah segelas teh manis, cukup membuat perut kenyang sebagai dinner ala mahasiswa pas-pasan. Dibungkus dengan daun pisang dan kertas buram, tempe mendoan ini disertai beberapa cabai rawit hijau, kuah siram ala cuko pempek, dan sambal kacang. Sayangnya, sang penjual terkesan ‘pelit’ dengan kuah siram dan sambal kacangnya, satu lembar atau dua lembar tempe disertai dengan pelengkap yang sama jumlahnya.
Pempek Harmony
Mau tidak mau, harus diakui, lidah saya tetap saja familiar dengan makanan satu ini. Dulu sempat hunting khusus mencari makanan ini, ternyata tak perlu jauh-jauh dari kampus. Teras Harmony Swalayan dihuni para pedagang makanan, salah satunya penjual pempek ini. Tujuh ribu rupiah untuk satu porsi kapal selem, cukup pantas di sini. Jika kamu memilih untuk membawanya ke rumah/kos, maka akan dikemas dengan kotak plastik kecil. Pelengkapnya berupa ebi goreng, cuko, irisan timun, bawang goreng, dan cabai hijau giling (untuk penambah pedas cuko sesuai selera). Selain kapal selem, di sini juga ada pempek lenjer dan pempek kulit.
Soto Ayam Tegal Bahari
Belum lama ini saya mencobanya, dan saya ketagihan! Warung Tegal Bahari di Gang Kalimongso-Warung Jengkol, tidak jauh dari kontrakan kami. Lima ribu rupiah untuk satu porsi. Kuahnyalah yang menjadi daya tarik bagi saya. Jika ingin ditambah nasi, harganya menjadi tujuh ribu rupiah. Saya lebih senang mengganti nasi dengan bakwan atau tempe goreng. Supaya bisa lebih menikmati kuahnya yang kental, kamu juga bisa menambahkan sedikit susu kental manis.
Ayam Bakar Depan Gereja PJMI
Ini warung yang dibuat khusus oleh pemiliknya, bukan dengan gerobak. Dengan sepuluh ribu rupiah, kamu sudah bisa kenyang plus minum. Sambalnya betul-betul mantap! Saya pasti menghabiskan begitu banyak tissu jika berkesempatan menyantap ayam bakar di sini, untuk mengelap keringat.
Kue Pukis Indomaret
Kali ini yang dimaksud adalah gerai Indomaret yang berbeda. Tepat berada di samping gerbang utama Pondok Jurang Mangu Indah (PJMI). Harganya lima ratus rupiah per kuenya, tapi ia berbeda. Lebih padat, matangnya pas, manisnya pas. Untuk menemani minum teh, kopi, susu, atau cokelat selepas sholat Jum’at atau sore hari sepulang kuliah.
Bakso Samping Alfamart
Masih di sekitar gerbang utama PJMI. Di seberang Indomaret tadi ada gerai Alfamart. Nah, di samping Alfamart ini ada warung yang menjual bakso dan mi ayam. Baksonya kenyal, padat, tapi tidak terlalu putih. Dengan tujuh ribu lima ratus rupiah, sudah bisa menyantap semangkuk bakso lezat. Salah satu bakso berukuran besar, terasa sekali daging cincangnya. Kalau minumnya air putih saja, di sini gratis.
Ayam Bakar Lamongan
Makin ke timur, kita akan menjumpai Ayam Bakar Lamongan sebelum pom bensin Pertamina. Saya lupa harga pastinya, yang jelas warung ini lebih cocok dijadikan semacam perayaan karena relatif lebih mahal. Tapi saya tidak merekomendasikan untuk makan di tempat, karena harga minumnya juga relatif mahal. Mendingan bawa pulang, lengkapi dengan teh manis seduhan sendiri.
Bakso Kerikil
Kegemaran saya berkeliling menggunakan sepeda, membuat saya menemukan kedai bakso yang satu ini. Sesuai namanya, bakso yang ditawarkan kecil-kecil seperti kerikil. Satu-satunya pentolan terbesar seukuran bola ping-pong. Sepertinya saya banyak menemukan angka tujuh ribu rupiah, pun demikian dengan bakso yang satu ini. Sayangnya porsi yang disajikan relatif sedikit, kita juga tidak akan menemui air minum gratis. Tapi jangan langsung meninggalkan kedai ini! Kamu harus mencobanya, kuah yang menggoda. Sambalnya pun berbeda dengan kedai bakso yang lain. Kemungkinan sambalnya ditambah dengan bumbu-bumbu juga, termasuk kemiri yang cukup mempengaruhi warna dan rasanya. Letak kedai ini tidak jauh dari pertigaan Pondok Betung, tepat di seberang Mitra’10, komplek ruko bahan bangunan.
Warung Bu Ning, Warung Kuningan, dan Warung Abah
Meskipun tetap terkategori warung makan biasa atau yang lumrah disebut warteg, ketiga warung ini layak dijadikan referensi lantaran menu-menu tertentu yang ditawarkannya. Dua warung yang pertama terletak di Sarmili, sedangkan yang terakhir ada di Gang Kalimongso-Warung Jengkol.
Warung Bu Ning terkesan bersih dan luas, berbagai menu olahan ikan sangat menggugah selera. Salah satu yang menarik bagi saya adalah keberadaan ikan asin berbalur tepung, jarang ditemukan di warung lainnya. Meskipun pemilik warung ini orang Jawa, lidah Sumatera saya menerima dengan baik lantaran masakannya senantiasa disertai bumbu-bumbu yang pas, kecuali dadar telur yang terlalu berminyak. Dua ribu sudah cukup untuk menikmati jus buah di warung ini, tentu saja tidak begitu kental seperti di depan Alfamidi. Favorit saya adalah jus melon. Selain itu, jangan lupa bakwan jagungnya yang krenyes dan maknyus.
Walaupun relatif lebih mahal daripada warung yang lain, Warung Kuningan cukup memikat hati saya. Berjarak dua rumah dari Mushola Mujahidin di Sarmili, pelayanan super ramah menjadi daya tarik. Seperti Warung Bu Ning, masakan di warung ini juga sangat memperhatikan komposisi bumbu masakannya. Favorit saya di sini adalah pepes tahu dan pepes ayam. Terlebih untuk sahur di Bulan Ramadhan, menunya sangat menggoda selera.
Kalau kamu penikmat jengkol, Warung Abah menyediakannya. Rendang jengkol yang ada di sini mungkin bisa mengobati kerinduanmu akan masakan ibu di rumah. Selain itu, kamu juga harus mencoba sayur kacang merahnya. Walaupun agak meringsek ke dalam, bukan tepat di tepi jalan, warung ini ramai pelanggan. Sekali lagi, lidah Sumatera saya sangat menikmati makanan-makanan berbumbu di sini.
Warung Sate Perempatan Bintaro Jaya
Saya lupa nama pastinya, yang jelas posisinya di selatan perempatan, ke arah Stasiun Pondok Ranji. Dari harganya, memang warung ini lebih layak disebut restoran. Apalagi jika ukuran kantongnya mahasiswa rantauan dengan bekal seadanya. Tapi tidak ada salahnya jika suatu saat orangtua berkunjung, atau nanti ketika beliau datang menjelang kita diwisuda, mengajak kedua orang tercinta mengunjungi tempat makan yang satu ini. Kalau kamu mahasiswa D-III yang kenal beberapa orang mahasiswa bujangan D-IV, bolehlah sesekali meminta traktiran penyelesaian skripsi dari mereka. Hhehee!!
Andalan utama adalah sate kambing. Ada juga sate ayam, sate sapi, tongseng, sop kambing, dan kambing guling. Sembari menunggu pesanan, kamu akan disuguhi tahu goreng didampingi kecap cabai superpedas. Sate sapi ukuran besar cukup menggugah selera. Sayangnya, tidak disiram dengan bumbu kacang, melainkan hanya kecap manis dengan merk yang sama di film KCB. Namun daging sapi yang empuk itu sudah berbumbu rupanya, masih bisa dicocol dengan kecap pedas sisa tahu goreng tadi. Untuk minumannya, kamu bisa memilih es kelapa muda yang rasanya betul-betul mantap! Disajikan dalam gelas besar dan sendok, ini baru yang namanya es kelapa muda! Tidak terasa pemanis buatan sama sekali, paling-paling hanya gula pasir biasa. Daging kelapa mudanya halus, sedikit kenyal, asli kelapa muda! Harganya? Cukup dengan angka tujuh juga, tapi kali ini tujuh puluh ribu rupiah. Tenang, masih ada kembaliannya! Dengan harga ini, cukuplah momen-momen tertentu saja makan di sini.
Okay, berbagai menu sudah saya hadirkan. Ternyata makanan/minuman di tepian jalan sangat nikmat, jauh lebih menggoda daripada fast food. Semoga menjadi referensi yang bermanfaat. Kalau ada yang tidak sependapat dengan tulisan saya ini, tidak masalah. Selera kita belum tentu sama, ya kan?
Jurangmangu, mulai ditulis ba’da maghrib 23 Januari 2011, diselesaikan dini hari 24 Januari 2011
dalam semangat berbagi, dalam semangat berlatih menulis
Sumber foto: http://www.chefmd.com/culinary_medicine.php
Langganan:
Postingan (Atom)


