Senin, 08 Agustus 2016

Bahasa Ungu

Tak perlu lema mengurai rasa
Karena ia tanpa bahasa
Ungu, menancap jauh ke dasar ternadir
Tanpa pembelajaran diftong yang kerap rancu

Ia hanya ungu, rentaknya redam ke inti nadi
Tanpa perlu alasan, hanya degup yang tahu

(Bintaro, 8 Agustus 2016)

Kamis, 04 Agustus 2016

Pada Mata Angin Kutitipkan Secarik Dendam

Akarnya berserabut,
menghujam ke dasar ternadir
Liangnya menganga,
kukubur bersama pasir
Bumi pun bersaksi,
sisa-sisanya t'lah kusiram derasnya air

Asa yang sempat membara, t'lah kurobek menjadi perca. Perca yang telah terpisah, kutebar ke empat penjuru mata angin. Angin yang semakin mendesau, merangkul gemintang di atas surau. Tidakkah kau saksikan bara itu telah kuredam? Kugenggam hingga padam.

Lalu kau tiup kembali sporanya;
Kemudian kau semai kembali tunasnya;
Lantas kau tebar kembali benihnya;

Kau kejam!

(Bintaro, 4 Agustus 2016)

Kamis, 12 Mei 2016

Penjaga Pintu

Crowd Funding? Aku harus ikut! Sekecil apapun, harus ada uangku di sana!
Menancap rasanya tekad itu saat pengumpulan dana demi film yang ditunggu-tunggu itu diumumkan. Film dari cerita yang telah dinanti banyak orang untuk diangkat ke layar lebar lebih dari dua dekade. Banyak pengakuan orang bahwa cerita itu telah menginspirasi mereka untuk menjadi lebih baik, dan tak sedikit dari mereka yang memutuskan perubahan-perubahan besar dalam hidupnya setelah membaca Ketika Mas Gagah Pergi. Aku pun demikian, merasa tergugah bahwa menjadi orang baik bisa dimulai dari hal-hal mudah pada diri sendiri, sejak mengenal sosok Mas Gagah.
Sepuluh ribu, dua puluh ribu, kukumpulkan demi ikut merasakan buncahnya dada ketika film itu nyata kelak. Meskipun mungkin kalaupun berkesempatan, hanya bisa menyaksikannya satu kali penayangan. Ya, kala itu aku masih merantau untuk menjemput rejeki di Meulaboh yang terlampau jauh dari bioskop. Medan adalah kota tempat bioskop terdekat kala itu. Untuk mencapainya dari Meulaboh, perlu perjalanan darat lebih dari dua belas jam.
Ramadan menjelang, lebaran pun datang. Kabar demi kabar perkembangan film itu mengalir deras. Audisi pemain, proses karantina dan shooting, juga segenap informasi lain tak luput kuikuti perkembangannya dari kejauhan. Bahagia sekali rasanya, sebentar lagi film itu nyata. Ah, tak apa kalaupun harus menyaksikan maksimal hanya satu kali, setidaknya secuil bagianku sudah ada di film itu.
September 2015, gema itu menjelma di dada. Selamat tinggal Meulaboh, halo Jakarta! Gusti Allah Maha Agung, hamba bisa memilih ibukota sebagai tempat pilihan pada penjualan tiket presale. Satu tiket? Tidak, harus tiga! Debar menggempar menantikan tanggal keramat: enam belas Januari. Meskipun kemudian keramatnya harus digeser: dua puluh satu Januari. Hal terpenting adalah aku akan bisa menyaksikannya lebih dari satu kali.
Pondok Indah Mall, tempat pertama yang menyaksikan kehadiranku di sebuah studio yang menayangkan film yang akhirnya nyata: Ketika Mas Gagah Pergi. Durasi 99 menit tak terasa, mengalir begitu saja. Ada embun membasahi hati demi menyaksikan kualitas film yang jauh melampaui ekspektasi, ada gemeretak yang teramat menyentak bahwa ini bukan film biasa. Dana yang terbatas sama sekali tak mengurangi kualitas. Ini baru namanya film! Langkah pertama keluar ke lobi utama, terpatri asa dalam dada. Aku harus menyaksikan layar lebar dihiasi film ini sebulan penuh! Lalu, sejak itulah aku menjadi ‘penjaga pintu bioskop’.
Setiap sore/malam kusambangi bioskop yang menayangkan KMGP The Movie. Langgananku yang terdekat dari tempat tinggal tentulah Lotte Mart Bintaro. Usai membeli tiket, biasanya aku akan duduk di dekat pintu masuk lobi bioskop. Setiap melihat ada pengunjung yang datang, rasanya berdebar-debar. Lalu aku bergumam, “Ayo... Nonton KMGP aja, KMGP aja, filmnya bagus loh!” Lantas, “Yes!” Berbunga-bunga rasanya ketika kulihat mereka masuk ke studio yang menayangkan Ketika Mas Gagah Pergi.
Oh iya, mungkin kau bertanya-tanya, seberapa istimewa film ini hingga aku harus mengunjungi bioskop di Lotte Mart Bintaro hampir setiap hari? Ya, ‘hampir setiap hari’ selama penayangan reguler karena kadang aku juga ‘mengambil jatah’ di Blok M Square atau tempat lainnya. Aku memang cukup terlambat mengenal cerita KMGP. Walaupun ia hadir sebelum Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih yang fenomenal itu, namun aku baru mengenal Ketika Mas Gagah Pergi di awal tahun 2009. Saat itu di kediaman seorang sahabat kutemukan buku yang sudah lusuh dan mulai menghitam di sana-sini, dengan cover wanita berjilbab menunduk sendu dan siluet seorang lelaki. Tak lain buku itu adalah salah satu masterpiece karya sastrawan terkemuka, Helvy Tiana Rosa, ialah Ketika Mas Gagah Pergi. Kala itu, cerita tentang Mas Gagah menyadarkanku bahwa untuk menjadi orang baik tak selalu harus serumit dan se-complicated menjadi seperti Mas Fahri di AAC dan Mas Azam di KCB, bahwa menjadi orang baik cukup dimulai dengan perubahan walaupun sangat kecil. Kehadiran Mas Gagah membuka mataku bahwa siapa saja bisa menjadi orang baik, termasuk diriku. Apalagi mendapati kualitas KMGP The Movie yang tidak bisa dianggap remeh, maka tekad untuk menyaksikan film ini sesering mungkin semakin membulat.
Pekan pertama ‘menjaga pintu’ pun berlalu, hasrat menyaksikan filmnya berulangkali sebagian sudah terpenuhi, adegan demi adegan bahkan mulai kuhapal dan kugunakan untuk mengompor-ngompori teman yang belum ambil bagian sebagai penonton. Namun hilangnya sebagian besar bioskop dari daftar yang menayangkan KMGP The Movie membuatku tersentak. Aku harus berbuat lebih! Ya, tidak boleh hanya aku yang menikmati suguhan pesan sarat makna dalam balutan sinematografi yang ciamik ini. Tidak cukup hanya mengharapkan ada orang-orang di luar sana yang melakukan hal yang sama denganku, nonton berulang kali.
Kulihat saldo tabungan, sepertinya cukup untuk mentraktir beberapa puluh teman untuk nonton bareng film ini. Tapi rasanya masih kurang. Jika saja bisa lebih banyak tiket, tentu lebih banyak lagi orang yang mendapatkan hikmah dengan cara asyik melalui film ini. Saat itulah aku mulai bergerilya, berusaha mengumpulkan dana sebanyak mungkin yang aku bisa demi mengajak sebanyak mungkin orang untuk menyaksikan film ini.
“Mas, sampeyan ada tabungan nganggur? Ta’ pinjem sampe April boleh?”
“Bang, kau ada uang yang bisa kupinjam nggak? Pinjam lah, Bang. Nanti aku balikinnya nyicil.”
“Mbak, kemarin cari laptop ya? Beli laptopku aja mau?”
“Pak, harga dinar sekarang berapa? Saya mau jual.”
“Kaaak, aku boleh pakai uangmu dulu? Bulan depan aku balikin sebagian, bulan depannya lagi lunas.”
Rombongan anak jalanan, penderita kanker, sepasang kakek-nenek, relawan bencana, mereka hadir dan tersenyum puas menenteng tiket bioskop melewati pintu yang kujaga. Bukan hanya sekali mata ini basah, terenyuh menyaksikan sumringahnya mereka menemuiku dan bertanya, “Masih ada tiketnya, Mas?” Ya, sebagian mereka bahkan menginjak lobi bioskop pun belum pernah sebelumnya. KMGP The Movie lah pengalaman pertama mereka.
“Filmnya bagus, Mas. Makasih yaa.”
“Diooo, makasih loh atas tiketnya. Akhirnya bisa nonton juga.”
“Kak, aku sedih lihat Gita bilang benci Mas Gagah.”
“Pak Dio, ya? Ini kemarin saya yang mendampingi anak-anak asuh di rumah yatim. Filmnya bagus sekali, Pak.”
“Mas, nongki-nongki canci yuk! Kali ini saya dan teman-teman yang traktir, yaa.”
Aku hampir lupa harapanku atas ‘paralel perilaku’, dengan adanya orang-orang di luar sana yang berkali-kali nonton KMGP The Movie sebagaimana yang kulakukan. Hingga di suatu sore akun facebook penulis kawakan yang beberapa tahun terakhir tercatat sebagai bagian dari 500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia itu mengumumkan dibentuknya komunitas pembaca setia karya-karyanya. Bergabung di grup yang di kemudian hari namanya menjadi Helviers itu mempertemukanku dengan orang-orang yang juga menyaksikan KMGP The Movie berulang kali. Bahkan muncul istilah ‘murajaah skenario’, bersahut-sahutan menirukan dialog-dialog yang ada di film ini. Kesamaan dukungan dan serunya bercengkrama membahas berbagai hal membuat kami mantap mengukuhkan keberadaan Helviers sebagai ‘komunitas keluarga’. Ternyata harapanku atas ‘perilaku paralel’ menyaksikan film ini berkali-kali pun nyata sudah.
Pekan kedua pun berlalu, petugas XXI Lotte Mart Bintaro sudah hapal dan terbiasa dengan kehadiranku. Hingga hari itu, gelak penonton saat adegan “Dik Manis” masih membuktikan penikmatnya belum tergerus. Namun menjadi film Indonesia terlaris di pekan pertama penayangannya tidak membuat film ini berhasil meluluhkan pihak bioskop agar bersedia menayangkannya lebih lama. Memang bukan KMGP jika jalannya tidak terjal. Satu per satu layar yang menayangkan film ini diturunkan di seluruh Indonesia. Bahkan XXI Lotte Mart Bintaro langgananku dua pekan itu menurunkan layarnya untuk film ini hanya sehari sejak terakhir kusaksikan penontonnya masih ramai.
Menembus hujan yang mendesau, kupacu sepeda motorku ke Kota Tangerang. XXI Mall Balekota, labuhan harapanku selanjutnya. Haru biru ‘jajan tiket’ pun berlanjut. Sayangnya, tak lama pula ia bertahan di sana. Hingga tersisa satu di XXI Mega Mall Bekasi. Aku hanya tahu rute lewat Kalimalang, tetap kuterjang genangan air hujan bercampur lumpur dengan ‘si putih’ yang berkali-kali kubisiki jangan sampai mogok atau pecah ban. Jarak antara Bintaro dan Bekasi yang ditempuh dengan sepeda motor di tengah padatnya lalu lintas ibukota dan cuaca yang hampir selalu membuatku berbasah-basahan tidak bisa disebut dekat. Hampir dapat dipastikan, tiba di Mega Mall Bekasi aku pun harus menjalankan rutinitas baru, bersih-bersih dan berganti pakaian di toilet dekat parkir sebelum naik ke bioskop. Menggigil kedinginan, sesekali aku bergumam, makan apa aku hingga akhir bulan nanti? Lalu tersenyum dan menghibur diri, lihat bagaimana nanti saja. Ah, sampai tulisan ini kuselesaikan pun aku masih bisa makan. Selalu ada rejeki dari-Nya.
Hingga akhirnya, penayangan reguler pun benar-benar habis. Ada ruang hati yang kosong ketika sore/malam tidak menjalankan rutinitas menjadi ‘penjaga pintu bioskop’. Ada perasaan yang mengganjal, mendapati kenyataan bahwa film sebagus ini perolehannya tak seperti yang diharapkan. Ada secercah kecewa, mengingat banyak orang yang mengaku mendukung film ini namun belum menyaksikannya karena keburu turun layar lantaran mereka terus menunda-nunda dengan bermacam agenda. Ada geram yang tak teredam, mengingat pihak-pihak yang memanfaatkan situasi untuk meraih keuntungan mereka semata. Ya, bukan KMGP namanya jika perjalanannya tidak berduri.
Beberapa waktu lagi, KMGP 2 akan hadir. Perjuangan menjadi orang baik tak cukup sampai di sini. Pertarungan memperjuangkan Ketika Mas Gagah Pergi The Movie masih belum berakhir. Di penayangan KMGP 2, kutekadkan upaya diri harus lebih baik lagi. Bukan karena ‘terima kasih’ atau ucapan lainnya, tapi karena menjadi Mas Gagah tak harus serumit menjadi Mas Fahri dan Mas Azam.

Bintaro, 17 April 2016

Kamis, 26 April 2012

Kapan Saya Akan Menyampaikan Undangan Pernikahan Saya?

Sumber gambar: jomblosampaihalal.com
Sebuah perbincangan relatif lama dengan kepala kantor saya beberapa hari lalu membawa hadir tulisan ini ke tuts keyboard dan akhirnya Anda baca. Perbincangan santai, namun menjadi hal yang tidak biasa karena sebelumnya saya belum pernah bercakap-cakap berdua dengan beliau apalagi tentang hal di luar pekerjaan. Di senja itu, pertama kalinya saya berhadapan dengan beliau sebagai “bapak dan anak”, bukan sebagai atasan dan bawahan.
Singkat cerita, dalam perbualan itu beliau memberikan advice kepada saya untuk segera menikah. Beliau mengisahkan pernikahan beliau sendiri yang baru dikaruniai keturunan setelah sekian tahun. Lalu ada juga contoh teman seangkatan beliau yang hingga kini masih membujang. Ada juga kisah lain seseorang yang menikah di atas usia tiga puluh, lalu ketika pensiun kebingungan dengan biaya kuliah anaknya. Beliau pun menyatakan bahwa pilihannya menikah muda dahulu adalah ingin menggendong anaknya di waktu masih memiliki kemampuan yang cukup untuk menggendongnya. Yah, pada intinya, “Segeralah menikah, Dio.” Demikian pesan Muhammad Faiz, lulusan S3 kelahiran 1970, bapak kami di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Lahat.

Kali ini saya tak akan mengutarakan seperti apa jawaban saya senja itu, yang jelas satu lagi pelajaran berharga dalam hidup yang saya dapatkan kala itu. Oh, bukan! Bukan satu, melainkan banyak lagi pelajaran hidup yang saya rekam dalam sanubari.

Setelah senja itu, saya berpikir. Usia saya sudah di tahun ke-22, sebentar lagi tahun ke-23. Dalam pandangan masyarakat umum, memang sudah sewajarnya saya memiliki pasangan. Entah itu seorang kekasih, tunangan, atau bahkan seorang istri. Saya masih melajang, mungkin memang wajar jika saya menjalin hubungan dengan seorang perempuan sebagai kekasih. Dan saya yakin orangtua dan kakak-kakak saya pun tak akan merasa heran jika saya hang-out berduaan dengan seorang kekasih. Tak perlu sembunyi-sembunyi dari mereka layaknya kebanyakan remaja belasan tahun yang menjalin kasih.

Perlukah saya memiliki seorang kekasih, atau lebih familiar dengan sebutan pacar?

Flash back, sekian orang teman perempuan yang pernah saya kagumi tak pernah ada satupun yang menjadi pacar saya sejak saya mengenal ketertarikan kepada lawan jenis hingga saat ini. Bukan karena tak berani mengutarakan, karena saya sangat yakin dengan kemampuan saya untuk mengomunikasikan perasaan itu dan menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Walaupun sempat hampir menjalin hubungan khusus itu, hingga sekarang rekor saya itu belum saya pecahkan. Saya jomblo, dan tak punya seorang mantan pacar pun. Lalu apakah saya malu? Tidak! Saya justru bangga, bangga bahwa saya bisa melalui kerasnya gemeretak dada usia belasan tanpa perlu menjalin hubungan yang tak pasti manfaatnya itu. Bukan tak pernah saya merasakan ketertarikan dengan teman perempuan, bahkan sering, dan Anda hampir pasti tahu betapa membuncahnya perasaan seperti itu. Tetapi sekali lagi, saya bangga tak pernah memiliki pacar. Mengapa? Karena bukan hal yang mudah untuk menjalani pilihan saya itu.

Orang-orang beralasan pacaran untuk mengetahui karakteristik pasangan. Apakah benar? Banyak sekali contoh yang saya dapatkan, masa berpacaran bukan cerminan kepribadian pasangan.

Lalu bagaimana saya mempersiapkan diri untuk menghadapi manusia berbeda jenis kelamin jika kelak saya menikah? Literatur, pengalaman orang lain, dan keyakinan pada Tuhan, itulah yang saya genggam. Bagaimana perbedaan pola komunikasi antara lelaki dan perempuan, bagaimana menyiasati kesalahpahaman, itu semua ada ilmunya. Dan saya sangat yakin, tak perlu pacaran untuk mendapatkan ilmu mengenai kesemuanya itu. Dan saya hampir tidak yakin bahwa berpacaran merupakan cara yang efektif untuk memahami hal-hal tentang hubungan seorang lelaki dengan seorang perempuan dalam mengarungi bahtera sinergi kehidupan.

Lantas bagaimana saya menemukan seorang calon istri saya kelak? Bukankah saya harus menentukan seseorang yang pas dan bersedia untuk mendampingi hidup saya? Bagaimana caranya jika tidak dengan berpacaran? Oh, tidak masalah! Saya yakin, ada cara lain yang akan Tuhan berikan kepada saya dengan segala keberkahannya. Maka dari itulah, saya tetap pada prinsip tak perlu menjalin hubungan dengan berpacaran. Kalau kata sebuah lagu, I’m single and very happy.Tentunya saya tak menginginkan sepanjang hidup dengan status single. Akan ada masanya, jika usia ini ditakdirkan tiba di sana, seorang manusia berjenis kelamin perempuan hadir sebagai istri bagi saya.

Nah, kapan saya akan menyampaikan undangan pernikahan saya? Mungkin di tulisan saya berikutnya. Atau jika tidak, mungkin di tulisan berikutnya lagi, berikutnya lagi, lagi, dan lagi.

Jomblo till halaal!!

Lahat, 21 April 2012, 17.52 WIB.