#PejantanTangguh "Karena hanya lewat mimpi ku bisa menjamahmu juga memilikimu...." #LirikGakBener
#KekasihGelapku "Kumencintaimu lebih dari apapun...." #LirikGakBener
#CintaDalamHati "Dan ijinkan aku memeluk dirimu kali ini saja, tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya...." #LirikGakBener
#Jablay "Waktu tamasya ke binaria, pulang-pulang ku berbadan dua...." #LirikGakBener
#HamilDuluan "Ku hamil duluan, sudah tiga bulan, gara-gara pacaran tidurnya berduaan...." #LirikGakBener
#MakhlukTuhanPalingSeksi ---> #LirikGakBener #Mendesah #Parah #BawaNamaTuhan
1. Itu tadi hanya beberapa contoh #LirikGakBener, aslinya masih buanyaaaak lagi.
2. Sayangnya, lirik-lirik seperti ini menyebar luas dan memasyarakat. #LirikGakBener
3. Lebih parah lagi, lagu-lagu dengan #LirikGakBener itu banyak dihapal oleh anak-anak jaman sekarang.
4. Mirisnya, hal ini seolah biasa-biasa saja di tengah masyarakat. Lagu dengan #LirikGakBener demikian mudah menyebar luas.
Ada lagi, #CintaSatuMalam. "Cinta satu malam oh indahnya, cinta satu malam, buatku melayang." Di-recycle pula sama Afgan! #LirikGakBener
5. Malah nasyid yang jelas-jelas berpesankan kebaikan, sering dianggap aneh ketimbang lagu-lagu dengan #LirikGakBener.
6. Hajatan-hajatan pernikahan, seringnya dangdutan, lagu yg dipilih pun sering dengan #LirikGakBener.
7. Sayang sekali, generasi muda selalu dicekoki dengan #LirikGakBener. Lalu ke mana arah pikiran mereka? Tanpa saringan, ditelan semua.
8. Orangtua? Ah, malah banyak dari mereka justru yg mengenalkan lagu-lagu dengan #LirikGakBener kepada anaknya dengan bangga.
9. Saya gelisah, jangan2 ini tanggung jawab orang yg mengaku #KaderDakwah utk meluruskan fenomena #LirikGakBener ini?
10. Bisa jadi karena terlalu sibuk dengan visi #peradaban, hal2 kecil di lingkungan kita terluputkan. #LirikGakBener ini contoh masalahnya.
11. Lalu yg kita lakukan apa, orang2 yg mengaku #KaderDakwah? Menikmati Izis & meninggalkan mereka dgn #LirikGakBener?
12. Sering kita egois, hanya menghindarkan diri saja dari #LirikGakBener, tapi membiarkan lingkungan kita tetap terjebak di dalamnya.
13. Saya tak punya kapabilitas lebih tntang hukum bermusik. Tapi menurut saya daripada sibuk debat, mending ngurusin #LirikGakBener ini.
14. Masyarakat butuh alternatif agar tdk terus terjebak oleh lagu2 dgn #LirikGakBener ini. Kita #KaderDakwah yg harus memberikannya!
15. Tetangga dekat rumah dangdutan, kita lari? Sikap yg benarkah? Gimana kalo kita ikut nyanyi aja? Berani? | #LirikGakBener
16. Drpd lagu dangdut yg diperdengarkan itu #LirikGakBener, mending kita nimbrung dgn yg berpesan kebaikan. #Haram #RhomaIrama misalnya.
17. Sudah bukan jamannya lagi kita menghindar, Ikhwah fillah. Saatnya kita membaur dan mewarnai!! | #LirikGakBener
18. Kalo gak ada #OrangBener yg berusaha 'menyingkirkan' lagu2 dgn #LirikGakBener ini, seterusnya akan tetap mengurat akar di masyarakat.
19. Mungkin terkesan lebay, tp bkn tdk mgkin turun azab di negeri ini sebab #LirikGakBener. Semuanya bakal kena, termasuk kita #KaderDakwah.
20. Kita tentu ingat, azab Allah sangat pedih. Dan jika suatu negeri telah diazab, maka semua yg di sana akan terkena. | #LirikGakBener
21. Memang agak 'mustahil' kita bisa mengubahnya seketika, tapi usaha kita sekecil apapun 'mengenyahkan' #LirikGakBener ini... #nexttwit
22. ...Insya-a Allah bernilai ibadah dengan niat lillaahi ta'aala. | #LirikGakBener
23. Caranya? Ya itu tadi, kita berikan alternatif. Isi ruang kosong lagu2 #LirikGakBener dgn #LirikBener. Membaurlah dan warnailah!
24. Tapi kita juga mesti berhati2, karena sangat mungkin kita malah yg terwarnai oleh #LirikGakBener. Di sinilah peran 'amal yaumi.
25. Prinsipnya kita imun terhadap #LirikGakBener ini, bukan steril sama sekali. Memahami untuk membasmi, seperti jargon sosialisasi KPK. :)
26. Sambil bergerak menyikapi #LirikGakBener ini, kita juga harus menyikapi #KlipGakBener, #AksiPanggungGakBener, dsb. Perlu bahasan khusus.
Demikian sedikit sharing saya tentang #LirikGakBener, semoga bermanfaat. Kritik sangat didambakan. :)
Rabu, 07 Desember 2011
Senin, 28 November 2011
Tentang Psy Trap, Bukti Tipikal Sebagian Mahasiswa STAN Doyan Rumpi
Proses Kreatif
![]() |
| Sumber gambar: majalah.hidayatullah.com/?p=690 |
Beberapa waktu lalu, saya sempat ‘menelurkan’ sebuah tulisan ringan dengan judul “Psy Trap, Modus Mengesalkan Ala Sebagian Mahasiswa STAN”. Tulisan ringan ini saya tulis sepekan menjelang teman-teman Mahasiswa DIII Reguler menjalani UTS kali ini, lalu saya publikasikan melalui note di facebook dan melalui dua blog saya. Motivasinya sederhana, saya ingin mengasah keterampilan saya dalam menulis. Secara kebetulan, saat itu saya baru saja membahas hal yang sama bersama teman saya di twitter. Saya melihat ada celah untuk menyampaikan amanat melalui tulisan bertema ringan ini, yakni arti penting sebuah kejujuran dan bersikap fair, maka mulailah tuts keyboard laptop saya mainkan.
Semula saya ingin menggunakan istilah psy war yang sudah lebih umum digunakan. Tapi setelah saya telaah, yang namanya war alias perang kan ada hubungan timbal balik? Sementara yang ingin saya bahas ini perilaku satu arah. Maka dari itu, muncullah istilah yang saya ‘lahirkan’ sendiri: psy trap. Demi kehati-hatian, judulnya pun saya pilih dengan kata ‘sebagian’, karena memang tidak bisa digeneralisasi. Saya tidak pernah menyangka, apalagi berharap, tulisan saya yang satu ini menjadi buah bibir.
Penyebaran
Sepekan kemudian, saya mendapatkan sms dari seorang teman bahwa tulisan saya yang satu ini mulai ramai diperbincangkan. Alhamdulillah, berarti akan banyak yang mengambil pelajaran dari tulisan saya ini. Beberapa orang bahkan menyatakan langsung kepada saya bahwa tulisan saya tentang psy trap cukup menghibur, saya tanggapi dengan senyuman.
Akan tetapi, di pekan pertama UTS bagi Mahasiswa DIII Reguler STAN, blog saya mulai banyak dikunjungi. Beberapa orang meninggalkan komentar. Dari sinilah, saya mulai merasa aneh dengan komentar mereka. Ada yang sekadar minta ijin share, tapi sayangnya ada pula yang sampai mencaci-maki dengan hebohnya. Sebetulnya saya sempat berniat menjawab langsung komentar mereka, tapi saya pikir tak ada gunanya meladeni orang yang sedang dikuasai amarah, maka saya hanya berkomentar seperlunya saja.
Suatu hal yang tak pernah saya sangka, tulisan saya yang satu ini menjadi buah bibir. Padahal masih banyak judul lain di blog saya, yang mungkin lebih menarik untuk didiskusikan. Sayangnya, topik-topik itu mungkin kurang stunning untuk menjadi bahan ngerumpi.
Sudah Tradisi
Menyaksikan fenomena ini, ingatan saya kembali ke pengalaman selama tiga tahun sebagai Mahasiswa STAN. Ternyata, kehebohan semacam ini bukan baru sekali ini terjadi. Ada beberapa momen yang sukses memancing komentar yang tidak sedikit, sayangnya komentar itu kebanyakan tidak bermutu. Ah, mungkin ada mutunya, KW sekian.
Saya masih ingat ketika saya masih tingkat satu, isu pertama yang saya dapati adalah tentang sikap paranoid terhadap dua huruf: DO. Lucunya saat itu beredar kabar bahwa penggunaan logo STAN sembarangan berakibat fatal hingga menyebabkan DO. Maka pembuatan kaus seragam kelas kami pun urung menggunakan logo STAN.
Saat saya menjadi Koordinator Pusat STAN Fest 2011, berbagai isu mengenai rangkaian acara itu menggema menjadi topik hangat yang memancing berbagai komentar. Entah itu niat berkomentar memberikan tanggapan atau sekadar ingin eksis namanya. Entah itu mengerti duduk permasalahannya atau hanya ikut-ikutan belaka. Yang penting, comment!!
Saat angkatan saya sibuk mempersiapkan KTTA pun, hal serupa pernah terjadi. Pengumuman belum ada, sudah banyak yang sok tahu ini-itu. Anehnya, ditanggapi banyak orang! Sudah jelas ketentuan penyusunan KTTA poin demi poin, masih saja ada yang mempertanyakan hal yang sudah jelas. Lucunya, ditanggapi banyak orang!
Ada momen-momen lain, termasuk bahkan Wisuda 2011 silam. Ramai sekali orang yang memperbincangkan hal-hal yang tidak ada esensinya tentang wisuda. Sedikit gosip saja mudah menyebar, membuat panitia pun bingung menyimak ‘diskusi’ (lebih tepatnya aktvitas ngerumpi) para calon wisudawan. Bahkan seusai wisuda pun, mulai muncul gosip-gosip pemberkasan. Dan seringkali perbincangan ngelantur ke mana-mana tanpa arah.
Sebagian Doyan Rumpi
Saya berharap judul tulisan saya kali ini diperhatikan dengan baik, bahwa saya tidak menggeneralisasi Mahasiswa STAN. Saya hanya mendapati bahwa fenomena yang terjadi berulang-ulang ini mengantarkan saya pada satu kesimpulan bahwa tipikal sebagian mahasiswa STAN adalah doyan ngerumpi. Apapun isunya, kalau menarik untuk dicaci-maki dan dikomentari, maka akan menyebar dengan cepat sekali.
Sebenarnya ini sebuah hal yang potensial, bahwa Mahasiswa STAN banyak yang asertif dan berani menyampaikan pendapatnya. Akan tetapi, wadah yang ada justru tidak dimanfaatkan dengan baik. Ada event pertemuan mahasiswa dan lembaga dalam satu forum, yang datang tidak seberapa. Ada rekruitmen PKAKP, yang mengajukan diri tak seberapa. Ada Media Center dengan Civitas-nya, yang mengajukan tulisan tak begitu banyak. Atau minimal ada koneksi internet yang memadai dan blog gratis di sana-sini, malas sekali membundel ide-idenya dalam bentuk tulisan yang disampaikan ke khalayak. Sebagian Mahasiswa STAN lebih suka ngerumpi, menilai negatif pendapat orang tanpa mau memberikan solusi.
Terkait tulisan saya tentang psy trap, saya sangat menyayangkan sikap sebagian mahasiswa yang malah sibuk ngerumpi. Bukan pesan yang saya sampaikan dalam tulisan itu yang dicamkan dalam hati, malah modus-modus yang saya sampaikan yang lebih digemari. Sebenarnya mereka sendiri yang rugi, sementara saya terus mengambil manfaat untuk berlatih menulis dan menulis, serta menyampaikan pesan-pesan dan pemikiran saya melalui tulisan-tulisan saya. Semoga tipikal itu segera berubah, karena saya juga pernah menjadi bagian Mahasiswa STAN.
Jurangmangu, 28 Nopember 2011
Selamat menjalani penghujung UTS kali ini, semoga mahasiswa muslim berkah dalam ridho Allah.
Selamat menjalani penghujung UTS kali ini, semoga mahasiswa muslim berkah dalam ridho Allah.
Sabtu, 26 November 2011
Pengakuan (Eks) Mahasiswa Bandel
Saat ini, masa-masa tiga tahun menjadi mahasiswa itu seolah berkelebat dalam ingatan. Ada banyak hal manis yang bisa dikenang, dan sebetulnya juga bisa diambil pelajaran. Dan kali ini, saya ingin membuat sebuah pengakuan. Pengakuan dari seorang mantan mahasiswa yang juga calon mahasiswa (DIV/S1, S2, S3), bahwa ternyata dulu ketika menjadi Mahasiswa DIII STAN, saya terhitung bandel juga. Ternyata kuliah di kampus yang tiap semester ada yang drop out itu tidak menyurutkan kebandelan saya.
Malu? Iya juga sih. Tapi semoga ini bukan aib. Baik, berikut bentuk-bentuk bandelnya saya sebagai mahasiswa.
Tidur di Kelas
Dosen yang hanya duduk di depan kelas, membacakan buku, sesekali menulis di papan tulis, tidak interaktif. Apalagi siang-siang cuaca terik, baru makan siang pula! Wah, sedikit buaian angin sepertinya sangat lembut dan mengantarkan jiwa ke awang-awang. Melayang, terbang, dan plop! Mata tertutup, telinga semakin samar mendengar, kepala pun terangguk-angguk. Pernah bahkan sampai ngences. Iya, betul! Untung saya selalu sedia sapu tangan atau tissue di saku kemeja.
Aktivitas tidur di kelas yang paling parah ketika semester pertama. Dosen Principal Accounting namanya Cucu Pujasetia. Saya hampir selalu datang di ‘kloter’ terakhir dibandingkan teman-teman sekelas, maka saya selalu kebagian duduk di deretan bangku paling depan. Delapan belas menit pertama masih sibuk mencatat dan memperhatikan. Lalu mata mulai sayu, tangan lemas, pendengaran memudar, tidur. Posisi duduk saya sendirian di depan, tepat berhadapan dengan meja dosen. Dan ini tidurnya bukan dalam posisi duduk saja, benar-benar tertelungkup ke meja. Lucunya, Pak Cucu hanya melihat dan sesekali tersenyum. Hingga pelajaran hampir berakhir, Pak Cucu memberikan kesempatan bagi yang ingin bertanya. Parahnya, saya malah angkat tangan! Jamin dah itu teman-teman sekelas pasti ada yang jengkel.
Tidak Mengerjakan Tugas
Kebandelan yang satu ini sering terjadi di semester ketiga dan semester keempat. Aktivitas di luar kuliah yang cukup menyita waktu dan tenaga memang sering membuat saya melalaikan tugas kuliah. Sebenarnya bukan karena aktivitas-aktivitas itu, melainkan prioritas waktu saya yang tidak ditata dengan baik. Sudahlah pulang malam, buku yang dibuka bukan buku pelajaran. Ada tugas? Nanti sajalah. Ujung-ujungnya malah tertidur, tugas pun lewat. Seringnya saya kerjakan hanya sebagian. Ketika diminta mengumpulkan tugas, saya ikutan. Tapi ya itu, teman-teman satu bundelan, saya cuma tiga halaman. Itu pun kadang seenaknya saya saja menjawab, bahkan ada yang salah soal tetap saya kumpulkan.
Satu yang masih mengganjal bagi saya. Saat itu ada tugas mata kuliah Hukum Perdata dan Bisnis. Sebagai tugas akhir semester, Pak Bambang memberikan tugas membandingkan dua buah peraturan perundang-undangan. Dan parahnya, sampai sekarang saya tidak mengumpulkan tugas tersebut. Sampai sekarang, dan hanya saya seorang! Pak Bambang pun sudah tak terlihat mengajar di STAN.
Maka dari itulah, tak perlu heran semester ketiga dan keempat berturut-turut 2,87 dan 2,96. Dan saya pun teramat santai menghadapinya. Aneh, bukan?
Terlambat Kuliah
Ada-ada saja yang membuat saya terlambat kuliah. Mulai dari aktivitas kepanitiaan, terlambat mandi, nonton tv, sampai dengan sengaja memperlambat tempo berjalan. Apalagi kalau saya sudah hapal dosennya akan terlambat sekian puluh menit, makin asyik tuh petantang-petenteng. Ee...begitu saya masuk kelas, ketua kelas mengumumkan bahwa kuliahnya batal. Nah, rugi kan yang datang duluan? Logika saya memang aneh.
Pernah dulu saat kuliahnya Pak Diaz, dosen Perpajakan II, saya datang terlambat yang kebangetan. Pak Diaz memang berpesan jika ada mahasiswa yang terlambat karena suatu urusan, harap mengirimkan sms kepada beliau. Dan saya sore itu memang sedang menghadiri sebuah acara, walaupun sebenarnya bisa saya tinggalkan. Saya pun mengirimkan sms ke Pak Diaz, akan hadir menjelang jam empat sore, padahal kuliah sudah dimulai jam dua siang. Dan begitu saya datang, tidak sampai setengah jam, kuliah selesai.
Lain lagi halnya dengan Pak Luther, dosen Perpajakan I. Beliau dikenal ramah dan sebenarnya suka bercanda, meskipun dengan logat Batak-nya yang khas. Biasanya, Pak Luther ini terlambat sekitar lima belas menit, dan saya sudah hapal kebiasaan beliau. Akan tetapi suatu hari, kuliah dimulai pukul 8.00, saya tepat tiba di muka pintu kelas pukul 8.06. Pak Luther sudah di kelas, dan dua orang teman saya yang terlambat tidak diperkenankan masuk, apapun alasannya. Mendapati dua teman saya tidak diperbolehkan masuk, saya urung minta ijin masuk kelas. Saya pikir pasti saya juga tidak diperbolehkan masuk. Ya sudah, saya pulang saja. Tanpa mengetuk pintu kelas pun!
Berpenampilan Tidak Sesuai Aturan
Dalam ketentuan yang berlaku, ada aturan-aturan khusus dalam berpenampilan bagi Mahasiswa STAN. Sebut saja tentang rambut yang tidak menutupi telinga-alis-kerah baju, kemeja polos dengan pilihan warna yang ditentukan, celana katun gelap, dan sepatu. Kecuali potongan rambut, saya pernah melanggar semua itu! Di-list sajalah pakaian yang pernah saya kenakan:
- Kaus berkerah
- Kemeja batik
- Kemeja Panitia Dinamika 2009
- Celana jeans
- Celana gunung
- Sandal
- Baju koko
- Kemeja kotak-kotak
Pakaian yang tidak sempat saya gunakan adalah perpaduan jeans dan kaus oblong. Terlalu nekad juga kalau sampai kuliah dengan pakaian seperti itu.
Mendebat Direktur
Di perguruan tinggi pada umumnya, mungkin menjadi hal biasa ketika ada mahasiswa yang berunjuk rasa kepada rektor. Tetapi bagi Mahasiswa STAN, sebuah hal yang tabu dan penuh risiko untuk melakukan hal serupa kepada direktur. Saya pernah melakukannya, mendebat Pak Kusmanadji, Direktur STAN.
Saat itu saya menjadi Koordinator Pusat STAN Annual Festival 2011. Salah satu acara dalam rangkaian dies natalis STAN itu sudah fix menggunakan Gedung G. Beberapa hari menjelang acara digelar, rupanya ada kabar bahwa akan diadakan reuni Alumni STAN angkatan 1982 (angkatan Pak Kusmanadji). Hebohlah panitia, kebingungan menyiasati acara.
Sebagai koordinator pusat, saya mengambil langkah untuk menemui direktur secara langsung. Sebenarnya saya sudah yakin akan seperti apa jawaban beliau, tapi saya tetap ngotot. Hasilnya? Saya sampai panik sendiri setelah mendebat beliau, tanpa perubahan keputusan. Alhasil, hingga puncak penutupan STAN Fest 2011 pun, Pak Kusmanadji masih sangat mengenali saya dan menunjukkan sikap tidak respect. Oo, seraaam!!
Datang Paling Akhir, Pergi Paling Awal
Nah, ini kalau musim ujian. Saya tidak begitu suka menyimak perbincangan teman-teman di ruangan saat menit-menit menjelang ujian dilaksanakan, pun mendengar celotehan mereka tentang ujian yang baru dilaksanakan setelah keluar dari ruangan. Makanya, saya hampir selalu datang ujian saat pengawas sudah ada di ruangan, dan segera meninggalkan kelas jika saya rasa sudah cukup menjawab soal-soal ujian. Tak peduli meskipun belum ada satupun teman satu ruangan yang keluar.
Karena demikian lancar? Tidak juga. Sering saya menemukan jalan buntu saat menjawab soal-soal ujian. Lantas saya menjawab tanpa kaidah yang berlaku, saya buat ketentuan sendiri. Alhamdulillah, nyatanya lulus juga.
Bolos Kuliah
Ketentuan bagi Mahasiswa STAN untuk bisa mengikuti ujian adalah kehadiran tatap muka minimal 80%. Itu artinya, dalam tiap semester, ada dua sampai tiga kali kesempatan untuk tidak menghadiri perkuliahan untuk masing-masing mata kuliah. Dan selama menjadi Mahasiswa DIII STAN, hampir semua mata kuliah saya ambil ‘jatah bolos’-nya. Bahkan jika sudah akhir semester dan saya belum pernah absen di mata kuliah tertentu, malah sengaja bolos.
Alasan bolos pun bermacam-macam. Kalau sakit, itu tak bisa saya elakkan. Tapi yang lain juga sering. Bolos karena ikut unjuk rasa, menjadi panitia pemira, ikut seminar, menjadi pembawa acara, atau bahkan bolos di kuliah pagi agar bisa mengerjakan tugas untuk kuliah siang.
Ya, begitulah saya di masa kuliah DIII STAN. Tidak patut dicontoh memang, dan bukan sesuatu yang bisa dibanggakan. Namun demikian, saya bersyukur bisa lulus hingga yudisium dengan segala kebandelan saya sebagai mahasiswa. Mungkin masih ada yang terlewatkan dari yang saya ceritakan ini.
Akan tetapi, perlu dicatat. Kebandelan saya masih dalam batas yang bisa saya ukur. Saya memang tidak pernah mendapatkan IP/IPK cumlaude dalam tiga tahun ini, tetapi saya mengambil batas aman untuk tidak perlu dipanggil ke Sekretariat STAN karena nilai saya yang sangat rawan mendekati ambang batas drop out, misalnya. Saya memang pernah berpakaian tidak sesuai aturan, tetapi saya tahu karakter dosen saya saat saya memutuskan berpenampilan seperti itu. Saya memang mendebat direktur, tetapi saya tidak melupakan batasan-batasan komunikasi yang sopan kepada beliau.
Semoga saja kebandelan ini tidak terus-menerus melekat sebagai kebiasaan buruk. Seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup, semoga semua itu bisa menjadi pelajaran yang mendewasakan. Ya, pelajaran dari kenangan yang tak terlupakan bahwa pernah menjadi Mahasiswa STAN dan lulus! Alhamdulillah....
Jurangmangu, 26 Nopember 2011.
Mari sambut psikotes dengan gembira!!
Mari sambut psikotes dengan gembira!!
Jumat, 25 November 2011
Echi dan Om Penculik
Echi kelas dua, cantik dan energik. Selalu berjilbab dan berpakaian rapi, mirip sekali ummi-nya. Echi pandai menari, tari yang paling ia suka Tari Saman. Echi paling tidak suka kalau disuruh menarikan tari Bali, apalagi Jaipongan. Echi juga suka main lompat tali.
Hari ini hari sabtu, sekolah Echi libur. Seperti biasa, Echi membantu ummi membersihkan rumah. Echi kebagian ruang tamu dan kamar tidurnya. Kakaknya, Edi, kebagian membersihkan kamar mandi dan dapur.
Selesai membersihkan ruang tamu dan kamarnya, Echi merasa letih sekali. Tapi ia senang, bisa membantu ummi. Jam sembilan, Echi pamit ke ummi. Echi mau main di lapangan. Sebelum Echi pergi, ummi memberikan uang jajan tambahan, bonus untuk Echi yang sudah membantu ummi.
“Ih, Ummi. Echi kan bantu ummi bukan buat uang?” Echi merajuk manja.
“Nggak apa-apa, kamu kan seneng banget es krim-nya Mang Eji? Biasanya bentar lagi dia nongkrong di lapangan.” Ummi menjawab lembut.
“Iya, Mi. Makasih ya, Miii. Echi cintaaa banget ama Ummi.” Echi mencium ummi.
“Iya, ummi juga cintaaaa banget ama Echi.” Ummi memeluk Echi.
Echi berpamitan, dan dengan langkah riang, Echi pun pergi ke lapangan.
Lapangan desa tempat favorit Echi. Lapangannya luas, rumputnya segar, di pinggir lapangan banyak bunga berwarna-warni. Banyak yang bermain di sana. Ada yang bersepeda, main layangan, petak umpet, ada juga yang sibuk utak-atik hape. Echi paling sebal melihat temannya yang sibuk dengan hape di lapangan.
Nah, itu Mang Eji!
Echi berlari menuju Mang Eji. Kali ini Mang Eji memakai baju dan celana serba batik. Echi senang sekali, ia pun bertanya kepada Mang Eji.
“Mang Eji dapet batiknya dari mana? Bagus deh...!” Echi memuji pakaian Mang Eji.
“Oh, ini oleh-oleh adik Mang Eji dari Pekalongan, Neng.” Mang Eji menjawab sambil mengambil es krim kesukaan Echi, cokelat.
“Oo, bulan lalu Echi juga dibeliin rok batik ama Abi. Besok Echi pake deh, mau tunjukin ke Mang Eji.”
Echi mengambil es krim dari Mang Eji. Tiga ribu rupiah.
Echi duduk di dekat gerobak Mang Eji, ada bunya melati yang sangat wangi di dekatnya. Sambil makan es krim, Echi menceritakan tentang ummi yang memberinya hadiah. Juga tentang abi-nya yang tiga minggu ini dinas di luar kota, abi seorang auditor.
Tiba-tiba ada yang mendekati Echi. Om itu menyapa Echi dengan suara berat dan pelan. Tapi wajahnya tidak terlihat, tertutupi topi lebar. Echi terkejut.
“Om siapa?” Echi bertanya heran.
Orang itu tidak menjawab, dia semakin mendekati Echi. Echi bergidik ngeri.
Secepatnya, Echi berdiri dan berlari. Es krimnya entah ke mana. Echi masih sempat melihat orang itu dan Mang Eji tertawa-tawa. Echi yakin sekali orang itu penculik. Tapi kok Mang Eji??
“Ummii...!! Ummiiii...!” Echi lari kencang ke rumah.
“Ummi, ummi! Assalamu’alaykum Ummiii!!”
“Wa’alaykumuss....”
Echi langsung menubruk ummi.
Sambil terus mendekap erat ummi, Echi menceritakan pertemuannya dengan om penculik tadi.
Tidak lama kemudian, ada yang masuk ke rumah mereka. Itu om penculiknya!!
“Assalamu’alaykum....” Lho, kok suara abi??
Orang itu membuka topi lebarnya.
“Ab...Abi?? Aaah, Abi nakaaaaaal!!” Echi langsung lari dan memeluk abi.
Abi dan ummi terbahak-bahak melihat putrinya yang tadi ketakutan setengah mati.
Rupanya itu abi-nya Echi yang baru pulang dari dinas luar. Tiga minggu tidak bercukur, abi jadi mirip penculik. Echi jadi malu, tidak mengenali abi. Tapi Echi senang sekali, abi membawa oleh-oleh lima kardus pempek! Berarti sore ini Echi bisa membantu ummi bagi-bagi pempek ke tetangga.
Ah, untung bukan om penculik betulan!
Jurangmangu, sore hari di 25 Nopember 2011.
Ayo jadikan anak-anak kita anak yang asertif!!
Ayo jadikan anak-anak kita anak yang asertif!!
Langganan:
Postingan (Atom)
