Politik bukanlah hal yang baru, bukan pula hal yang tabu. Dalam berbagai lini kehidupan, secara sadar ataupun tidak, kita semua telah berpolitik. Adanya sebutan “politikus” hanya karena ada perbedaan orang dalam menyikapi dan mengemas politik tersebut. Seorang politikus memanfaatkan berbagai momentum untuk mengeluarkan doktrin-doktrinnya agar pemikiran target politiknya terpengaruh oleh ideologi yang ia bawa.
Berangkat dari politik inilah, saya ingin menyoroti berbagai hal janggal yang ada di depan mata kita. Walaupun bagi sebagian orang hal ini bukanlah sesuatu yang patut disoroti, namun bagi saya misi mencerdaskan masyarakat bisa bermula dari sini. Saat rekan-rekan saya sibuk berkutat dengan permasalahan klasik berupa apatisme mahasiswa, saya ingin sedikit mengulik perilaku orang-orang yang acapkali bersembunyi di balik kata “apatisme” untuk memperoleh otoritas yang sejatinya bukan menjadi haknya.
Sistem Akuntansi telah mengajarkan kita perlunya pemisahan tugas untuk masing-masing fungsi. Secara teoritis, hal ini dengan mutlak menegaskan bahwa penyimpangan-penyimpangan otoritas adalah hal yang sangat dibenci di manapun kita berada. Bahkan adanya kode etik profesi adalah sebuah wujud nyata pembatasan otoritas yang jika tidak dilakukan akan menjadi efek domino bagi kehancuran tatanan sosial. Itulah sebabnya akuntan pemerintah tidak diperkenankan bertindak sebagai akuntan publik, demikian juga dengan adanya pemisahan antara Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara.
Tersebutlah kisah di negeri antah berantah, yang sebenarnya jelas kita mengenali negeri yang dimaksud. Ada sebuah kesatuan yang pada zaman dahulu kala disebut sebagai Senat Mahasiswa. Di manapun di seluruh perguruan tinggi di penjuru negeri, hampir bisa dipastikan eksistensi kesatuan ini. Secara definitif, kesatuan ini dijadikan sebagai payung besar atas semua tindak-tanduk mahasiswa perguruan tinggi yang bersangkutan. Pihak perguruan tinggi belum akan mengonfirmasi kegiatan mahasiswa kepada penyelenggaranya sebelum meminta penjelasan dari pemimpin senat ini, apapun bentuknya. Lalu muncullah adat yang mengakar kuat bahwa semua organisasi, unit kegiatan, dan perkumpulan mahasiswa lainnya harus berada dalam jalur komunikasi dengan badan kemahasiswaan yang satu ini. Bukan adat sembarang adat, karena ternyata memang terbukti bahwa otoritas yang diberikan ini mempermudah perguruan tinggi untuk mengoordinasi kegiatan kemahasiswaan. Pun dengan mahasiswa yang secara relatif senantiasa mendapatkan “payung untuk berteduh”.
Perlu kita ingat bahwa keanggotaan badan kemahasiswaan ini biasanya berumur sangat pendek. Setahun adalah waktu yang sangat sempit bagi masing-masing kepemimpinan untuk menunjukkan kontribusi nyatanya bagi seluruh civitas akademika. Lalu formasinya bisa saja berganti, membawa berbagai suasana yang tak selamanya indah. Ada anggota yang bertahan, ada penambahan anggota, ada juga yang hengkang. Ironisnya, ada juga yang hengkang tetapi masih tidak menyadari bahwa dengan keluarnya dirinya dari keanggotaan maka otoritasnya pun harus ditinggalkan.
Tapi apa yang terjadi? Kampus kita ada di negeri antah berantah itu, Kawan. Bukan sebuah kampus yang biasa, melainkan kampus unik yang diisi oleh orang-orang yang tentunya juga unik. Saking uniknya, bahkan ada yang pantas diberi label “tidak tahu diri”. Mengapa demikian? Kembali lagi kepada otoritas, orang-orang yang tidak tahu diri ini dengan pongahnya telah membuat buram sistem dengan perilakunya yang melahirkan otoritas ambigu.
Orang-orang ini mengambil peran di jalan formal untuk beberapa saat, lalu ia keluar dengan berbagai alibi. Tidak masalah jika ia hanya menanggalkan keanggotaannya dengan turut meletakkan otoritas yang sempat melekat di tangannya. Namun yang terjadi adalah tanggung jawabnya saja yang dia tinggalkan, sementara otoritas yang sempat dipegangnya tetap dicomot untuk kemudian dimanfaatkan sebagai sarana penyimpangan yang sangat tidak senonoh. Jadilah kemudian bisnis gila dari sebuah otoritas yang ambigu. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, ada yang dengan pongahnya mencampuri urusan hubungan ke luar kampus yang selayaknya bukan menjadi ranah yang bisa ia pegang. Forum antarkampus yang seyogyanya ditangani oleh badan yang legal, malah disusupi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dan memang tidak bisa mempertanggungjawabkan keberadaan dirinya di forum itu. Anehnya, orang-orang itu masih melenggang dengan santai tanpa malu-malu. Menyedihkan, padahal mulanya orang-orang itu begitu lantangnya berteriak tentang profesionalisme dan integritas. Integritas macam apa jika ia menyerobot tupoksi orang lain seperti itu?? Integritas musiman? Atau mungkin integritasnya sudah membusuk seiring membusuknya mayat korban bencana negeri ini?
Kampus adalah sarana observasi, bisa jadi memang demikian adanya. Tapi kampus seharusnya diisi para intelektual yang tahu batasan dan tahu diri. Sehingga dengan demikian, observasi apa pun akan berjalan dengan harmonis tanpa menimbulkan kesenjangan yang tidak perlu.
Jurangmangu, 29 Oktober 2010
Jumat, 19 November 2010
Minggu, 22 Agustus 2010
Si Ikal
Imam sudah menucapkan salam, tiba-tiba si ikal datang. Ia baru saja bermain dengan teman-temannya, peluhnya masih membanjir. Ikal bukannya mengeluh capek, malah ia memulai sebuah gerakan. Tangannya diangkat, lalu bersedekap. Si ikal sholat!!
Polos nian ekspresinya, membuat gemas siapa pun melihatnya. Lalu si ikal merunduk ruku', i'tidal, dan seterusnya. Ia menyelesaikan empat rakaat, meskipun hanya gerakannya. Ya, hanya gerakannya. Sungguh sebuah pencapaian luar biasa untuk ukuran anak sekecil si ikal...!!
Lalu terpekur di dalam hati ini, sungguh si ikal menyindir diri. Di tengah asyiknya bermain, ia masih ingat sholat. Ingat Tuhan-nya! Lalu saya? Ah, entahlah. Sudah tak terhitung berapa banyaknya diri ini melalaikan panggilan azan hanya karena masih rapat. Kadang juga mengulur-ulur waktu untuk sholat karena urusan lainnya. Bahkan sudah sholat pun, terkadang lupa sudah rakaat keberapa. Sementara si ikal, gerakannya sempurna, penuh detailnya.
Ah, malu juga kalau diingat-ingat. Semoga saja si ikal cepat besar. Dan setelah dewasa ia akan mengerti, bahwa menjadi anak kecil polos seperti dirinya jauh lebih bermakna, daripada manusia-manusia dewasa yang lebih sering lupa kepada-Nya....
Ruang Nusantara Sekretariat BEM STAN, 21 Agustus 2010, 16.03 WIB
Polos nian ekspresinya, membuat gemas siapa pun melihatnya. Lalu si ikal merunduk ruku', i'tidal, dan seterusnya. Ia menyelesaikan empat rakaat, meskipun hanya gerakannya. Ya, hanya gerakannya. Sungguh sebuah pencapaian luar biasa untuk ukuran anak sekecil si ikal...!!
Lalu terpekur di dalam hati ini, sungguh si ikal menyindir diri. Di tengah asyiknya bermain, ia masih ingat sholat. Ingat Tuhan-nya! Lalu saya? Ah, entahlah. Sudah tak terhitung berapa banyaknya diri ini melalaikan panggilan azan hanya karena masih rapat. Kadang juga mengulur-ulur waktu untuk sholat karena urusan lainnya. Bahkan sudah sholat pun, terkadang lupa sudah rakaat keberapa. Sementara si ikal, gerakannya sempurna, penuh detailnya.
Ah, malu juga kalau diingat-ingat. Semoga saja si ikal cepat besar. Dan setelah dewasa ia akan mengerti, bahwa menjadi anak kecil polos seperti dirinya jauh lebih bermakna, daripada manusia-manusia dewasa yang lebih sering lupa kepada-Nya....
Ruang Nusantara Sekretariat BEM STAN, 21 Agustus 2010, 16.03 WIB
Minggu, 11 Juli 2010
Tenun
Tersebutlah kisah benang-benang yang beraneka rupa, tak satu pun di antara mereka yang memiliki kesamaan warna. Ada yang berserat kasar, yang mengilap, dan berbagai tekstur lainnya. Benang-benang yang tiada memiliki kesamaan sifat itu kemudian bertemu dalam sebuah benda yang kemudian mengubah sejarah mereka: mesin tenun.
Satu per satu benang-benang itu dijalin, bertaut satu sama lain. Semakin ditenun, semakin lebar kain yang terbentuk. Semula tercerai-berai, namun ikatan antara benang-benang itu semakin erat tak terpisahkan. Mereka tidak sama, tapi ternyata corak indah mulai terbentuk ketika disatukan dalam jalinan.
Semakin hari, corak-corak tenunan itu kian tegas. Beraneka warna, sedap dipandang. Hingga akhirnya, menjelmalah selembar kain kokoh dengan jalinan rapi di setiap simpul persilangan antarbenang. Tenunan itu telah selesai. Dan lihatlah! Sungguh selembar kain cantik nan menawan! Mana ada corak seindah itu jika hanya satu benang yang digumpalkan?
Erat sekali, disibakkan tidak terputuskan, diperas tiada lepas. Setiap simpul itu telah menjadi saksi benang yang bertautan tanpa rasa enggan. Serat-serat berbagai jenis itu bertaut tanpa peduli berapa kali mereka harus bersilangan.
Semua helai benang itu baru saja selesai ditenun. Kini kain tenunan itu siap untuk diolah lebih lanjut. Ia akan dipotong sesuai pola. Ada yang dijadikan bagian badan, lengan, kerah, dan saku. Lalu bagian-bagian pola itu dineci, dijahit, diobras, diberi kancing, dibordir, hingga jadilah ia kelak sehelai baju nan indah. Bukan tanpa alasan ada bagian yang harus dipotong, karena proses itulah yang akan menghantarkan jalinan benang-benang itu menjadi cantik dan siap pakai.
Kelak, jika sudah menjadi baju, benang-benang itu akan mendapati mereka bertaut dalam satu-kesatuan kokoh. Jalinan di antara mereka tak terpisahkan. Hanya waktulah yang akan membuat mereka lapuk, luluh, lebur menyatu dengan alam. Dan saat itupun, benang-benang itu sejatinya tetap menyatu, butir-butir partikel yang bertautan dalam keindahan abadi.
Jurangmangu, 11 Juli 2010.
22.18 WIB, penghujung Rajab 1431.
Terima kasih atas warna-warna itu. Terima kasih atas semua corak yang telah terabadikan. Terima kasih atas jalinan yang menyatukan.Maaf karena telah menjadi benang yang paling rapuh.
Satu per satu benang-benang itu dijalin, bertaut satu sama lain. Semakin ditenun, semakin lebar kain yang terbentuk. Semula tercerai-berai, namun ikatan antara benang-benang itu semakin erat tak terpisahkan. Mereka tidak sama, tapi ternyata corak indah mulai terbentuk ketika disatukan dalam jalinan.
Semakin hari, corak-corak tenunan itu kian tegas. Beraneka warna, sedap dipandang. Hingga akhirnya, menjelmalah selembar kain kokoh dengan jalinan rapi di setiap simpul persilangan antarbenang. Tenunan itu telah selesai. Dan lihatlah! Sungguh selembar kain cantik nan menawan! Mana ada corak seindah itu jika hanya satu benang yang digumpalkan?
Erat sekali, disibakkan tidak terputuskan, diperas tiada lepas. Setiap simpul itu telah menjadi saksi benang yang bertautan tanpa rasa enggan. Serat-serat berbagai jenis itu bertaut tanpa peduli berapa kali mereka harus bersilangan.
Semua helai benang itu baru saja selesai ditenun. Kini kain tenunan itu siap untuk diolah lebih lanjut. Ia akan dipotong sesuai pola. Ada yang dijadikan bagian badan, lengan, kerah, dan saku. Lalu bagian-bagian pola itu dineci, dijahit, diobras, diberi kancing, dibordir, hingga jadilah ia kelak sehelai baju nan indah. Bukan tanpa alasan ada bagian yang harus dipotong, karena proses itulah yang akan menghantarkan jalinan benang-benang itu menjadi cantik dan siap pakai.
Kelak, jika sudah menjadi baju, benang-benang itu akan mendapati mereka bertaut dalam satu-kesatuan kokoh. Jalinan di antara mereka tak terpisahkan. Hanya waktulah yang akan membuat mereka lapuk, luluh, lebur menyatu dengan alam. Dan saat itupun, benang-benang itu sejatinya tetap menyatu, butir-butir partikel yang bertautan dalam keindahan abadi.
Jurangmangu, 11 Juli 2010.
22.18 WIB, penghujung Rajab 1431.
Terima kasih atas warna-warna itu. Terima kasih atas semua corak yang telah terabadikan. Terima kasih atas jalinan yang menyatukan.Maaf karena telah menjadi benang yang paling rapuh.
Titik yang Tiada Mengakhiri
Dalam kesyahduan, kerinduan itu membayangi setiap tapak perjuangan.
Ia mengalir, membasahi, melumasi setiap sudut penggerak semangat aktivitas keseharian.
Bukan darah yang mengikat, bukan suku yang menambat, tapi ia begitu erat.
Berat sekali meredam hati, membiarkan perbedaan di setiap hari.
Sudah kubangun istana megah di sanubari, khusus untuk teman sejati.
Bertahun kebersamaan, pahatan indah t’lah terukir di singgasana kalbu.
Entah akan ada lagi yang mengisi hati seperti ini.
Bukan berlebihan jika kunyatakan cinta.
Aku pun tiada mengerti, mengapa jalinan di antara kita demikian indah?
Ada rasa berat jika harus berpisah, ada rasa canggung jika harus merenggang.
Namun kisah ini sampai kapan pun ‘kan terpatri,
menghias sejarah diri yang akan menggaung sepanjang masa.
Visi itu telah menyatukan semangat kita, perbedaan itu telah mengeratkan jalinan cinta kita,
perselisihan itu telah memberi corak jalan hidup kita.
Kita telah bersatu, sampai kapan pun itu.
Maka jangan pernah kau hapus diriku, dari memori dan detak jantungmu.
Special for Genkers, 7 Juli 2010.
D307, 09.09 WIB
Ia mengalir, membasahi, melumasi setiap sudut penggerak semangat aktivitas keseharian.
Bukan darah yang mengikat, bukan suku yang menambat, tapi ia begitu erat.
Berat sekali meredam hati, membiarkan perbedaan di setiap hari.
Sudah kubangun istana megah di sanubari, khusus untuk teman sejati.
Bertahun kebersamaan, pahatan indah t’lah terukir di singgasana kalbu.
Entah akan ada lagi yang mengisi hati seperti ini.
Bukan berlebihan jika kunyatakan cinta.
Aku pun tiada mengerti, mengapa jalinan di antara kita demikian indah?
Ada rasa berat jika harus berpisah, ada rasa canggung jika harus merenggang.
Namun kisah ini sampai kapan pun ‘kan terpatri,
menghias sejarah diri yang akan menggaung sepanjang masa.
Visi itu telah menyatukan semangat kita, perbedaan itu telah mengeratkan jalinan cinta kita,
perselisihan itu telah memberi corak jalan hidup kita.
Kita telah bersatu, sampai kapan pun itu.
Maka jangan pernah kau hapus diriku, dari memori dan detak jantungmu.
Special for Genkers, 7 Juli 2010.
D307, 09.09 WIB
Langganan:
Postingan (Atom)