Kamis, 12 Mei 2016

Penjaga Pintu

Crowd Funding? Aku harus ikut! Sekecil apapun, harus ada uangku di sana!
Menancap rasanya tekad itu saat pengumpulan dana demi film yang ditunggu-tunggu itu diumumkan. Film dari cerita yang telah dinanti banyak orang untuk diangkat ke layar lebar lebih dari dua dekade. Banyak pengakuan orang bahwa cerita itu telah menginspirasi mereka untuk menjadi lebih baik, dan tak sedikit dari mereka yang memutuskan perubahan-perubahan besar dalam hidupnya setelah membaca Ketika Mas Gagah Pergi. Aku pun demikian, merasa tergugah bahwa menjadi orang baik bisa dimulai dari hal-hal mudah pada diri sendiri, sejak mengenal sosok Mas Gagah.
Sepuluh ribu, dua puluh ribu, kukumpulkan demi ikut merasakan buncahnya dada ketika film itu nyata kelak. Meskipun mungkin kalaupun berkesempatan, hanya bisa menyaksikannya satu kali penayangan. Ya, kala itu aku masih merantau untuk menjemput rejeki di Meulaboh yang terlampau jauh dari bioskop. Medan adalah kota tempat bioskop terdekat kala itu. Untuk mencapainya dari Meulaboh, perlu perjalanan darat lebih dari dua belas jam.
Ramadan menjelang, lebaran pun datang. Kabar demi kabar perkembangan film itu mengalir deras. Audisi pemain, proses karantina dan shooting, juga segenap informasi lain tak luput kuikuti perkembangannya dari kejauhan. Bahagia sekali rasanya, sebentar lagi film itu nyata. Ah, tak apa kalaupun harus menyaksikan maksimal hanya satu kali, setidaknya secuil bagianku sudah ada di film itu.
September 2015, gema itu menjelma di dada. Selamat tinggal Meulaboh, halo Jakarta! Gusti Allah Maha Agung, hamba bisa memilih ibukota sebagai tempat pilihan pada penjualan tiket presale. Satu tiket? Tidak, harus tiga! Debar menggempar menantikan tanggal keramat: enam belas Januari. Meskipun kemudian keramatnya harus digeser: dua puluh satu Januari. Hal terpenting adalah aku akan bisa menyaksikannya lebih dari satu kali.
Pondok Indah Mall, tempat pertama yang menyaksikan kehadiranku di sebuah studio yang menayangkan film yang akhirnya nyata: Ketika Mas Gagah Pergi. Durasi 99 menit tak terasa, mengalir begitu saja. Ada embun membasahi hati demi menyaksikan kualitas film yang jauh melampaui ekspektasi, ada gemeretak yang teramat menyentak bahwa ini bukan film biasa. Dana yang terbatas sama sekali tak mengurangi kualitas. Ini baru namanya film! Langkah pertama keluar ke lobi utama, terpatri asa dalam dada. Aku harus menyaksikan layar lebar dihiasi film ini sebulan penuh! Lalu, sejak itulah aku menjadi ‘penjaga pintu bioskop’.
Setiap sore/malam kusambangi bioskop yang menayangkan KMGP The Movie. Langgananku yang terdekat dari tempat tinggal tentulah Lotte Mart Bintaro. Usai membeli tiket, biasanya aku akan duduk di dekat pintu masuk lobi bioskop. Setiap melihat ada pengunjung yang datang, rasanya berdebar-debar. Lalu aku bergumam, “Ayo... Nonton KMGP aja, KMGP aja, filmnya bagus loh!” Lantas, “Yes!” Berbunga-bunga rasanya ketika kulihat mereka masuk ke studio yang menayangkan Ketika Mas Gagah Pergi.
Oh iya, mungkin kau bertanya-tanya, seberapa istimewa film ini hingga aku harus mengunjungi bioskop di Lotte Mart Bintaro hampir setiap hari? Ya, ‘hampir setiap hari’ selama penayangan reguler karena kadang aku juga ‘mengambil jatah’ di Blok M Square atau tempat lainnya. Aku memang cukup terlambat mengenal cerita KMGP. Walaupun ia hadir sebelum Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih yang fenomenal itu, namun aku baru mengenal Ketika Mas Gagah Pergi di awal tahun 2009. Saat itu di kediaman seorang sahabat kutemukan buku yang sudah lusuh dan mulai menghitam di sana-sini, dengan cover wanita berjilbab menunduk sendu dan siluet seorang lelaki. Tak lain buku itu adalah salah satu masterpiece karya sastrawan terkemuka, Helvy Tiana Rosa, ialah Ketika Mas Gagah Pergi. Kala itu, cerita tentang Mas Gagah menyadarkanku bahwa untuk menjadi orang baik tak selalu harus serumit dan se-complicated menjadi seperti Mas Fahri di AAC dan Mas Azam di KCB, bahwa menjadi orang baik cukup dimulai dengan perubahan walaupun sangat kecil. Kehadiran Mas Gagah membuka mataku bahwa siapa saja bisa menjadi orang baik, termasuk diriku. Apalagi mendapati kualitas KMGP The Movie yang tidak bisa dianggap remeh, maka tekad untuk menyaksikan film ini sesering mungkin semakin membulat.
Pekan pertama ‘menjaga pintu’ pun berlalu, hasrat menyaksikan filmnya berulangkali sebagian sudah terpenuhi, adegan demi adegan bahkan mulai kuhapal dan kugunakan untuk mengompor-ngompori teman yang belum ambil bagian sebagai penonton. Namun hilangnya sebagian besar bioskop dari daftar yang menayangkan KMGP The Movie membuatku tersentak. Aku harus berbuat lebih! Ya, tidak boleh hanya aku yang menikmati suguhan pesan sarat makna dalam balutan sinematografi yang ciamik ini. Tidak cukup hanya mengharapkan ada orang-orang di luar sana yang melakukan hal yang sama denganku, nonton berulang kali.
Kulihat saldo tabungan, sepertinya cukup untuk mentraktir beberapa puluh teman untuk nonton bareng film ini. Tapi rasanya masih kurang. Jika saja bisa lebih banyak tiket, tentu lebih banyak lagi orang yang mendapatkan hikmah dengan cara asyik melalui film ini. Saat itulah aku mulai bergerilya, berusaha mengumpulkan dana sebanyak mungkin yang aku bisa demi mengajak sebanyak mungkin orang untuk menyaksikan film ini.
“Mas, sampeyan ada tabungan nganggur? Ta’ pinjem sampe April boleh?”
“Bang, kau ada uang yang bisa kupinjam nggak? Pinjam lah, Bang. Nanti aku balikinnya nyicil.”
“Mbak, kemarin cari laptop ya? Beli laptopku aja mau?”
“Pak, harga dinar sekarang berapa? Saya mau jual.”
“Kaaak, aku boleh pakai uangmu dulu? Bulan depan aku balikin sebagian, bulan depannya lagi lunas.”
Rombongan anak jalanan, penderita kanker, sepasang kakek-nenek, relawan bencana, mereka hadir dan tersenyum puas menenteng tiket bioskop melewati pintu yang kujaga. Bukan hanya sekali mata ini basah, terenyuh menyaksikan sumringahnya mereka menemuiku dan bertanya, “Masih ada tiketnya, Mas?” Ya, sebagian mereka bahkan menginjak lobi bioskop pun belum pernah sebelumnya. KMGP The Movie lah pengalaman pertama mereka.
“Filmnya bagus, Mas. Makasih yaa.”
“Diooo, makasih loh atas tiketnya. Akhirnya bisa nonton juga.”
“Kak, aku sedih lihat Gita bilang benci Mas Gagah.”
“Pak Dio, ya? Ini kemarin saya yang mendampingi anak-anak asuh di rumah yatim. Filmnya bagus sekali, Pak.”
“Mas, nongki-nongki canci yuk! Kali ini saya dan teman-teman yang traktir, yaa.”
Aku hampir lupa harapanku atas ‘paralel perilaku’, dengan adanya orang-orang di luar sana yang berkali-kali nonton KMGP The Movie sebagaimana yang kulakukan. Hingga di suatu sore akun facebook penulis kawakan yang beberapa tahun terakhir tercatat sebagai bagian dari 500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia itu mengumumkan dibentuknya komunitas pembaca setia karya-karyanya. Bergabung di grup yang di kemudian hari namanya menjadi Helviers itu mempertemukanku dengan orang-orang yang juga menyaksikan KMGP The Movie berulang kali. Bahkan muncul istilah ‘murajaah skenario’, bersahut-sahutan menirukan dialog-dialog yang ada di film ini. Kesamaan dukungan dan serunya bercengkrama membahas berbagai hal membuat kami mantap mengukuhkan keberadaan Helviers sebagai ‘komunitas keluarga’. Ternyata harapanku atas ‘perilaku paralel’ menyaksikan film ini berkali-kali pun nyata sudah.
Pekan kedua pun berlalu, petugas XXI Lotte Mart Bintaro sudah hapal dan terbiasa dengan kehadiranku. Hingga hari itu, gelak penonton saat adegan “Dik Manis” masih membuktikan penikmatnya belum tergerus. Namun menjadi film Indonesia terlaris di pekan pertama penayangannya tidak membuat film ini berhasil meluluhkan pihak bioskop agar bersedia menayangkannya lebih lama. Memang bukan KMGP jika jalannya tidak terjal. Satu per satu layar yang menayangkan film ini diturunkan di seluruh Indonesia. Bahkan XXI Lotte Mart Bintaro langgananku dua pekan itu menurunkan layarnya untuk film ini hanya sehari sejak terakhir kusaksikan penontonnya masih ramai.
Menembus hujan yang mendesau, kupacu sepeda motorku ke Kota Tangerang. XXI Mall Balekota, labuhan harapanku selanjutnya. Haru biru ‘jajan tiket’ pun berlanjut. Sayangnya, tak lama pula ia bertahan di sana. Hingga tersisa satu di XXI Mega Mall Bekasi. Aku hanya tahu rute lewat Kalimalang, tetap kuterjang genangan air hujan bercampur lumpur dengan ‘si putih’ yang berkali-kali kubisiki jangan sampai mogok atau pecah ban. Jarak antara Bintaro dan Bekasi yang ditempuh dengan sepeda motor di tengah padatnya lalu lintas ibukota dan cuaca yang hampir selalu membuatku berbasah-basahan tidak bisa disebut dekat. Hampir dapat dipastikan, tiba di Mega Mall Bekasi aku pun harus menjalankan rutinitas baru, bersih-bersih dan berganti pakaian di toilet dekat parkir sebelum naik ke bioskop. Menggigil kedinginan, sesekali aku bergumam, makan apa aku hingga akhir bulan nanti? Lalu tersenyum dan menghibur diri, lihat bagaimana nanti saja. Ah, sampai tulisan ini kuselesaikan pun aku masih bisa makan. Selalu ada rejeki dari-Nya.
Hingga akhirnya, penayangan reguler pun benar-benar habis. Ada ruang hati yang kosong ketika sore/malam tidak menjalankan rutinitas menjadi ‘penjaga pintu bioskop’. Ada perasaan yang mengganjal, mendapati kenyataan bahwa film sebagus ini perolehannya tak seperti yang diharapkan. Ada secercah kecewa, mengingat banyak orang yang mengaku mendukung film ini namun belum menyaksikannya karena keburu turun layar lantaran mereka terus menunda-nunda dengan bermacam agenda. Ada geram yang tak teredam, mengingat pihak-pihak yang memanfaatkan situasi untuk meraih keuntungan mereka semata. Ya, bukan KMGP namanya jika perjalanannya tidak berduri.
Beberapa waktu lagi, KMGP 2 akan hadir. Perjuangan menjadi orang baik tak cukup sampai di sini. Pertarungan memperjuangkan Ketika Mas Gagah Pergi The Movie masih belum berakhir. Di penayangan KMGP 2, kutekadkan upaya diri harus lebih baik lagi. Bukan karena ‘terima kasih’ atau ucapan lainnya, tapi karena menjadi Mas Gagah tak harus serumit menjadi Mas Fahri dan Mas Azam.

Bintaro, 17 April 2016

Kamis, 26 April 2012

Kapan Saya Akan Menyampaikan Undangan Pernikahan Saya?

Sumber gambar: jomblosampaihalal.com
Sebuah perbincangan relatif lama dengan kepala kantor saya beberapa hari lalu membawa hadir tulisan ini ke tuts keyboard dan akhirnya Anda baca. Perbincangan santai, namun menjadi hal yang tidak biasa karena sebelumnya saya belum pernah bercakap-cakap berdua dengan beliau apalagi tentang hal di luar pekerjaan. Di senja itu, pertama kalinya saya berhadapan dengan beliau sebagai “bapak dan anak”, bukan sebagai atasan dan bawahan.
Singkat cerita, dalam perbualan itu beliau memberikan advice kepada saya untuk segera menikah. Beliau mengisahkan pernikahan beliau sendiri yang baru dikaruniai keturunan setelah sekian tahun. Lalu ada juga contoh teman seangkatan beliau yang hingga kini masih membujang. Ada juga kisah lain seseorang yang menikah di atas usia tiga puluh, lalu ketika pensiun kebingungan dengan biaya kuliah anaknya. Beliau pun menyatakan bahwa pilihannya menikah muda dahulu adalah ingin menggendong anaknya di waktu masih memiliki kemampuan yang cukup untuk menggendongnya. Yah, pada intinya, “Segeralah menikah, Dio.” Demikian pesan Muhammad Faiz, lulusan S3 kelahiran 1970, bapak kami di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Lahat.

Kali ini saya tak akan mengutarakan seperti apa jawaban saya senja itu, yang jelas satu lagi pelajaran berharga dalam hidup yang saya dapatkan kala itu. Oh, bukan! Bukan satu, melainkan banyak lagi pelajaran hidup yang saya rekam dalam sanubari.

Setelah senja itu, saya berpikir. Usia saya sudah di tahun ke-22, sebentar lagi tahun ke-23. Dalam pandangan masyarakat umum, memang sudah sewajarnya saya memiliki pasangan. Entah itu seorang kekasih, tunangan, atau bahkan seorang istri. Saya masih melajang, mungkin memang wajar jika saya menjalin hubungan dengan seorang perempuan sebagai kekasih. Dan saya yakin orangtua dan kakak-kakak saya pun tak akan merasa heran jika saya hang-out berduaan dengan seorang kekasih. Tak perlu sembunyi-sembunyi dari mereka layaknya kebanyakan remaja belasan tahun yang menjalin kasih.

Perlukah saya memiliki seorang kekasih, atau lebih familiar dengan sebutan pacar?

Flash back, sekian orang teman perempuan yang pernah saya kagumi tak pernah ada satupun yang menjadi pacar saya sejak saya mengenal ketertarikan kepada lawan jenis hingga saat ini. Bukan karena tak berani mengutarakan, karena saya sangat yakin dengan kemampuan saya untuk mengomunikasikan perasaan itu dan menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Walaupun sempat hampir menjalin hubungan khusus itu, hingga sekarang rekor saya itu belum saya pecahkan. Saya jomblo, dan tak punya seorang mantan pacar pun. Lalu apakah saya malu? Tidak! Saya justru bangga, bangga bahwa saya bisa melalui kerasnya gemeretak dada usia belasan tanpa perlu menjalin hubungan yang tak pasti manfaatnya itu. Bukan tak pernah saya merasakan ketertarikan dengan teman perempuan, bahkan sering, dan Anda hampir pasti tahu betapa membuncahnya perasaan seperti itu. Tetapi sekali lagi, saya bangga tak pernah memiliki pacar. Mengapa? Karena bukan hal yang mudah untuk menjalani pilihan saya itu.

Orang-orang beralasan pacaran untuk mengetahui karakteristik pasangan. Apakah benar? Banyak sekali contoh yang saya dapatkan, masa berpacaran bukan cerminan kepribadian pasangan.

Lalu bagaimana saya mempersiapkan diri untuk menghadapi manusia berbeda jenis kelamin jika kelak saya menikah? Literatur, pengalaman orang lain, dan keyakinan pada Tuhan, itulah yang saya genggam. Bagaimana perbedaan pola komunikasi antara lelaki dan perempuan, bagaimana menyiasati kesalahpahaman, itu semua ada ilmunya. Dan saya sangat yakin, tak perlu pacaran untuk mendapatkan ilmu mengenai kesemuanya itu. Dan saya hampir tidak yakin bahwa berpacaran merupakan cara yang efektif untuk memahami hal-hal tentang hubungan seorang lelaki dengan seorang perempuan dalam mengarungi bahtera sinergi kehidupan.

Lantas bagaimana saya menemukan seorang calon istri saya kelak? Bukankah saya harus menentukan seseorang yang pas dan bersedia untuk mendampingi hidup saya? Bagaimana caranya jika tidak dengan berpacaran? Oh, tidak masalah! Saya yakin, ada cara lain yang akan Tuhan berikan kepada saya dengan segala keberkahannya. Maka dari itulah, saya tetap pada prinsip tak perlu menjalin hubungan dengan berpacaran. Kalau kata sebuah lagu, I’m single and very happy.Tentunya saya tak menginginkan sepanjang hidup dengan status single. Akan ada masanya, jika usia ini ditakdirkan tiba di sana, seorang manusia berjenis kelamin perempuan hadir sebagai istri bagi saya.

Nah, kapan saya akan menyampaikan undangan pernikahan saya? Mungkin di tulisan saya berikutnya. Atau jika tidak, mungkin di tulisan berikutnya lagi, berikutnya lagi, lagi, dan lagi.

Jomblo till halaal!!

Lahat, 21 April 2012, 17.52 WIB.

Sabtu, 17 Maret 2012

Episode Baru Si Anak Baru

Lama tak menulis, agak susah rasanya untuk kembali memulai. Sekarang sudah beda lingkungan, beda rutinitas, dan tentunya beda tanggung jawab. Ah, soal tanggung jawab ini tepatnya bukan berbeda, tapi bertambah. Ya, tak ada yang tak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Seiring berjalannya waktu, segalanya tak akan sama.

Alhamdulillah, dua pekan sudah dunia kerja di lingkungan Kementerian Keuangan saya cicipi. Status-status akun facebook saya pun kebanyakan diwarnai seputar kantor. KPP (Kantor Pelayanan Pajak) Pratama Lahat menjadi tempat pertama saya bergabung di lembaga vital negara ini dengan status peserta orientasi pegawai baru a.k.a. magang.

Mengapa saya memilih magang di KPP Pratama Lahat? Mengapa bukan KPP Pratama Baturaja saja yang kotanya sudah sangat saya hapal? Alasan tentu saja ada, buka sekadar iseng. Di kota yang tak begitu jauh dari pusat perkebunan teh di Pagar Alam ini, kakak pertama saya tinggal bersama istri dan dua orang keponakan saya yang sangat jarang saya temui. Selain alasan penghematan agar tak perlu tambahan biaya kos, saya ingin memiliki momen kebersamaan yang cukup lama dengan kakak saya yang terpaut delapan belas tahun usianya dari saya ini. Sejak saya lahir, sudah berjauhan dengan anak tertua dari umak dan ubak kami ini.

Hari pertama, 5 Maret 2012, sempat salah alamat ke Gedung KPKNL Lahat yang belakangan saya ketahui statusnya pinjaman dari gedung asrama KPP Pratama Lahat. Kakak saya segera memutar arah, mengantarkan saya ke kantor yang benar di Jalan Akasia Kapling Bandar Jaya. Tak salah lagi, tulisannya terpampang dengan jelas di bagian muka kantor.

Senyum, bahasa universal yang mencairkan kebekuan. Saya minta diarahkan ke Ruang Subbagian Umum. Ternyata penghuni ruangan masih di luar untuk sarapan dan aktivitas lainnya. Memang belum jam delapan, saya menunggu sambil berbasa-basi dengan salah satu pegawai. Belum sempat Kasubbag Umum datang, salah satu pelaksana yang tupoksi-nya di kepegawaian mengajak saya ke lantai atas setelah sebelumnya meng-input sidik jari di mesin pencatat kehadiran pegawai. Luthfi Ardiansyah namanya, ikal berkacamata orang Jawa. Langsung akrab di hari pertama.

Ruang sekretariat! Masuk. Dan ternyata di hari pertama itu saya ditugasi menggantikan sekretaris kepala kantor yang sedang cuti persiapan pernikahan. Hah? Apa tidak salah? Menggantikan loh, bukan memerhatikan! Tapi santai sajalah, Kak Luthfi siap membantu dengan penjelasan-penjelasannya. Tugas pokok saya di hari pertama adalah melakukan input  data surat masuk dan membuatkannya disposisi. Bukan satu atau dua, melainkan setumpuk, lalu setumpuk lagi, setumpuk lagi, dan lagi-lagi. Lumayan. Untunglah saya tak begitu sendirian di sekretariat, ada juga Kak Luthfi dan Kak Anggi Widarsono  sang bendahara yang kalem tapi humoris.

Hari kedua, masih di meja sekretaris. Bukan hanya surat masuk hingga batas disposisi. Saya sudah harus menerima telepon, faximile, memberi nomor surat keluar, mengekspedisikan surat ke masing-masing seksi, dan segenap pekerjaan lainnya. Hari kedua saya pulang menjelang Isya’. Menantang! Dan pekerjaan itu saya jalani selama pekan pertama. Pekan kedua, sekretaris yang asli sudah masuk lagi. Adinda Novelia Puspita, sebentar lagi melepas masa lajang. Pekerjaan saya sudah lebih ringan. Alhamdulillah, sudah cukup banyak pelajaran di sekretariat.

Dan dua hari terakhir saya ‘turun gedung’ ke seksi pelayanan. Tak tanggung-tanggung, saya langsung berhadapan dengan wajib pajak dengan segala keperluan dan segala pembawaannya. Tempat Pelayanan Terpadu, tak sesejuk ruangan sekretariat lantaran terbuka dan AC menjadi tak berfungsi maksimal. Akan tetapi sibuknya tak kalah dibandingkan meja sekretaris. Musim bikin NPWP booo! Buanyaaak yang mau daftar sebagi wajib pajak. Tak hanya pendaftaran NPWP yang harus diproses. SPT yang seabreg-abreg itu juga harus diproses satu per satu. Printer macet, kabel power monitor tercabut, berkas terselip, semuanya itu menjadi seni tersendiri yang membuat perasaan lega ketika berdiri dan memanggil nama wajib pajak yang berkasnya sudah selesai saya proses. Melayani berarti memberi, dan senyum ketulusan tetap akan berarti. Satu pelajaran lagi! Eh, banyak pelajaran lagi!

Pergi jam tujuh, pulang paling cepat jelang Magrib. Menantang dan mengasyikkan. Ketika shalat dhuha harus disempat-sempatkan di sela kerja, itu rasanya luar biasa. Ketika harus tetap tersenyum ketika ada pegawai senior yang disapa tapi tak bereaksi apa-apa, itu nikmat tiada terkira. Alhamdulillah, saya anak baru di kantor ini sudah bisa senyum. Tapi ternyata hanya butuh waktu, pegawai yang bersangkutan Jumat kemarin sudah membalas sapaan saya dengan senyum hangat. Syukurlah, lingkungan kantor ini bukan tempat pertama saya belajar menghadapi orang dengan berbagai karakter. Dua pekan sudah terlewati, sekian bulan lagi saya akan di sini. Itu artinya, sekian banyak lagi pelajaran yang akan saya pahami. Insya-a Allah. Kak Rio, Bu Atun, Kak Lugu, Kak Fajar, Pak Herman, Kak Meiradi, akan menjadi partner saya di Seksi Pelayanan sekian waktu ke depan.

Lahat, 17 Maret 2012, 21.09 WIB.

Kamis, 22 Desember 2011

CMD, Cowok Masuk Dapur

hidayatulfaizah.files.
wordpress.com/2011/
06/qqampe11.jpg
“Cewek nggak bisa masak itu mah udah biasa. Tapi kalo cowok nggak bisa masak? Kebangetan!"

Kurang lebih seperti itulah bunyi salah satu status facebook sekaligus twit saya beberapa waktu lalu, meskipun dengan redaksi yang sedikit berbeda. Ide ini sudah muncul sejak saat itu, namun baru kesampaian saat ini untuk menuangkannya ke dalam sebuah tulisan utuh.

Tidak usah heran, karena publik sudah tahu kebanyakan koki ternama pun adalah pria. Lalu bukankah yang seharusnya jago masak adalah wanita? Tidak. Adakah yang bisa menjelaskan dalil yang sahih bahwa wanita harus bisa memasak?

Dalam rumah tangga pun, sejatinya tak ada kewajiban istri memasak untuk suaminya. Namun kemudian hal itu beriringan dengan kewajiban istri mengikuti perintah suaminya. Justru yang lebih berhak untuk bisa memasak adalah suami, menurut saya. Karena dengan bisa memasak, suami bisa mengajari istrinya agar di kemudian hari istrinya bisa memasak dalam rangka melayani suami, dan suami menjalankan tugas untuk membimbing istrinya, dalam hal ini mengajari istrinya memasak. Nah bingung sendiri kan? Berputar-putar. Yang jelas menurut saya, suami atau calon suami harus bisa masak, minimal sekali dasar-dasarnya.

Ah, kok jadi membahas rumah tangga sih? Baiklah, fokus ke pembahasan. Kali ini saya ingin berbagi beberapa hal yang bisa dipraktikkan ketika cowok masuk dapur. Yuk mariii...!!

Let’s Start!

Hal pertama ketika masuk dapur, mari tentukan fokus dulu kita mau apa. Luruskan niat untuk menggapai ridho Ilahi, baca basmallah, pacu semangat. Lebay? Tidak, indahnya Islam bahwa apapun yang kita kerjakan bisa menjadi ibadah dan berpahala.

Okay, anggap saja kali ini kita akan mempersiapkan makan siang. Supaya lebih dramatis, dapur yang kita hadapi adalah dapur dengan kayu bakar dan peralatan yang terbilang sederhana. Bukan dapur mewah dengan peralatan serbacanggih.

Guys, pastikan peralatan dalam keadaan bersih! Udah? Sekarang kita nyalakan api di tungku. Siapkan kayu bakar di dekat tungku, susun beberapa sebagai bahan bakar di bagian dasar, secukupnya saja. Jika ada minyak tanah, sangat membantu. Tuangkan sedikit minyak tanah ke tanah di bawah tungku, percikkan sedikit ke kayu bakar, lalu sulut dengan api bagian tanah yang sudah basah oleh minyak. Kalau tidak ada minyak tanah, bisa diganti dengan karet ban atau serabut kelapa. Dedaunan kering dan cacahan sisa menyerut kayu bisa juga dimanfaatkan. Setelah api menempel dan kita pastikan tetap menyala, tambahkan beberapa kayu bakar lagi ke atasnya. Jangan terlalu rapat dan jangan membuat kayu bakar yang sudah diletakkan terlebih dahulu menjadi bergoyang, karena apinya bisa saja padam.

Urusan tungku selesai? Kita lanjutkan ke tahap berikutnya. Walaupun apinya masih kecil, biarkan saja, nanti juga membesar dengan sendirinya setelah api benar-benar menempel pada kayu bakar.

Menjerang Air

Karena menjerang air tidak butuh api yang stabil, maka bisa dilakukan sebagai langkah awal memasak. Sambil menunggu api betul-betul menempel dan membara di kayu bakar, kita bisa meletakkan teko berisi air untuk dimasak di atas tungku. Sementara itu kita bisa menyiapkan yang lainnya. Mencuci beras dan sayur, misalnya.

Mencuci dan Menanak Beras

Sebelum dimasak, beras harus dicuci terlebih dahulu. Gunakanlah wadah yang tidak terlalu penuh bagi beras yang akan kita masak. Masukkan air secukupnya, lalu aduk-aduk dengan tangan sambil diremas-remas perlahan, jangan terlalu keras. Ulangi hingga tiga kali. Kita bisa menampung air cucian beras ini untuk kemudian dimanfaatkan menyiram bunga atau tanaman lainnya. Airnya masih putih? Tidak apa-apa, sudah cukup bersih, Kalau sampai air cuciannya jernih, malah dikhawatirkan ada nutrisi pada beras yang hilang terbawa air.

Lantas bagaimana takaran air yang pas untuk menanak beras? Mudah saja. Masukkan beras yang sudah dicuci ke dalam periuk, ratakan bagian permukaannya. Kemudian ukur dengan jari seberapa tebal berasnya hingga ke permukaan beras, tambahkan air hingga ketebalan beras ke permukaan sama dengan ‘ketebalan’ lapisan air dari permukaan beras ke permukaan air. Bingung? Ringkasnya jika diukur beras yang sudah dicuci tingginya sekian, maka setelah ditambahkan air total tingginya dua kali permukaan beras semula.

Air yang tadi dijerang belum mendidih? Mari kita mencuci sayur.

Mencuci Sayur

Mencuci sayur bisa dengan air mengalir maupun air yang ditampung dalam baskom. Namun yang lebih hemat menggunakan baskom. Cuci sayur hingga bersih, tiga kali sudah cukup. Untuk sayur dengan daun yang berlipat-lipat dan bertumpuk-tumpuk, harus lebih teliti. Misalnya saat mencuci sawi, pastikan tidak ada bagian yang terlewatkan. Jangan sampai ada ulat atau lumpur yang masih menempel pada sayuran.

Kembali ke Menanak Beras

Kalau air sudah mendidih, saatnya beras yang ditanak. Gunakan api sedang yang stabil, aturlah besar-kecilnya api dengan mengurangi atau menambah kayu bakar yang kering. Air yang sudah mendidih tadi bisa didinginkan, dimasukkan ke termos, juga untuk menyeduh teh manis untuk menemani aktivitas memasak di dapur.

Menanak beras menggunakan rice cooker elektrik tidak perlu repot. Tinggal masukkan, atur tombolnya, dan tunggu hingga nasi matang. Lain halnya dengan menanak beras dalam periuk menggunakan kayu bakar. Saat nasi sudah mendidih, perlu diaduk agar kematangannya merata dan meminimalkan keberadaan nasi yang hangus menjadi kerak di dasar periuk. Saat air sudah kering dan tinggal tersisa nasi yang hampir matang. Ada dua pilihan, mengukus nasi atau membiarkannya di atas bara api hingga benar-benar matang.

Okay kita ambil pilihan kedua. Anggap saja tidak ada kukusan. Bongkar kayu bakar hingga api tidak menyala lagi, yang tersisa hanya bara sisa kayu bakar. Biarkan periuk di atas bara itu sambil kita melakukan persiapan lainnya. Mari membuat sambal terasi!

Membuat Sambal

Tadi masih ada bara, pangganglah terasi di atasnya sambil menunggu nasi benar-benar matang. Siapkan cabai, bawang merah, bawang putih, garam, dan tomat, lalu cuci bersih. Di-blender? Oh, tidak. Sekarang kita akan menggunakan cobek, sebaiknya yang terbuat dari batu.

Bahan yang dihaluskan pertama kali adalah cabai, tambahkan sedikit garam dapur yang kasar untuk memudahkan proses penghalusan cabai. Setelah halus, masukkan bawang merah dan bawang putih, haluskan lagi. Jangan lupakan terasi yang dipanggang tadi, balik posisinya agar matang merata, dan ingat jangan sampai gosong! Terasi panggang ini bisa dihaluskan bersama cabai, bawang merah, dan bawang putih. Bisa juga dimasukkan nanti saat menumis/menggoreng sambal. Namun agar benar-benar tercampur, sebaiknya digerus bersama bahan yang telah dihaluskan. Nah, tadi ada tomat. Belah dan potonglah tomat menjadi bagian-bagian kecil.

Panaskan minyak goreng, sedikit saja. Masukkan bahan yang telah dihaluskan, hati-hati dengan percikan minyak! Jaga apinya yang sedang saja. Setelah harum, masukkan tomat, aduk rada. Kecilkan api, tunggu hingga tomat empuk dan benar-benar tercampur ke bahan lainnya sambil sesekali diaduk agar tidak gosong. Jika perlu, tambahkan sedikit air agar memudahkan sambal matang. Jangan lupa tambahkan satu sendok gula sebagai penyedap, atau sesuai dengan selera.

Sambil terus sesekali diaduk, cicipi rasa sambalnya. Kurang asin, kurang manis? Silakan tambahkan garam halus dan gula. Saya tidak menganjurkan untuk menambahkan MSG. Kalau benar-benar sudah pas, sambal sudah bisa diangkat. Dari sambal masak ini, bisa dibuat sambal tempe. Tempe yang sudah dipotong dadu sebaiknya digoreng dulu, baru dicampurkan ke sambal.

Memasak Sayur

Kita harus bisa mengenali karakteristik sayuran yang akan kita olah. Harus dibedakan bahan mana yang mudah empuk, bahan mana pula yang perlu perlakuan khusus. Misalnya kacang merah, kita harus merebusnya terlebih dahulu sampai cukup empuk, baru mengolahnya bersama bumbu dan bahan lainnya. Atau jika ada bahan terong, jangan sampai kita masukkan ke dalam panci bersamaan dengan melinjo. Karena ketika melinjonya empuk, terong sudah bonyok.

Hal yang juga harus diperhatikan, utamanya dalam memasak sayuran berkuah, perhatikan besarnya api dan lamanya memasak. Sayuran berkuah, sebaiknya pancinya ditutup saat proses memasak. Apinya juga diatur supaya jangan terlalu kecil. Memasak sayur dengan api yang besar dalam waktu yang singkat dan panci tertutup, mencegah hilangnya nutrisi yang terbawa uap air. Selain itu, warna hijau pada sebagian besar sayuran masih bertahan dan tetap menggoda selera. Tentu kurang nikmat rasanya mencicipi sayur daun katuk yang sudah berwarna coklat kekuningan.

Mencuci Ikan dan Ayam

Anggap saja ayam yang tersedia sudah dipotong dan dibersihkan bulu-bulunya. Mencuci ayam atau ikan harus benar-benar diperhatikan. Bersihkan darah-darah beku yang masih menempel pada ayam, cuci sampai benar-benar bersih.

Untuk membersihkan ikan, bagian isi perut harus benar-benar dibersihkan. Buat sayatan memanjang pada bagian perut, keluarkan semua isi perut ikan. Lalu selipkan telunjuk dan jempol ke sela-sela katup insang, jepit insang dari kedua sisi, tarik hingga seluruh insang keluar, buanglah. Untuk ikan yang bersisik, ada baiknya sisik-sisiknya dikerik. Caranya? Pegang pisau dengan mengarahkan sisi tajamnya (bukan sisi lancip yang saya maksud) tegak lurus terhadap ikan, lalu kerik berlawanan arah dengan sisiknya.

Jangan meremehkan proses mencuci ini! Pastikan semua kotoran telah terbuang, ditaruh di wadah tertentu, dan dibuang ke tempat yang aman. Cuci bersih dengan air, bila memungkinkan dengan air mengalir. Setelah itu, cuci bersih tangan agar tidak mengontaminasi bahan makanan lain dengan bakteri.

Menggoreng

Takut terciprat minyak goreng panas? Tak perlu khawatir, cukup sedikit trik untuk menghadapinya.

Sebelum menggoreng, panaskan minyak goreng terlebih dahulu. Untuk memastikan panasnya sudah cukup, mudah sekali. Suara ‘klutuk-klutuk’ saat minyak dipanaskan sudah hilang, ketika kita mengibas-ngibaskan tangan sekitar tiga puluh senti di atasnya sudah terasa panas, maka sudah cukup untuk menggoreng. Tidak perlu menunggu keluar asap dari minyak goreng. Kalau sudah terlanjur berasap, angkat wajan atau matikan api dan tunggu hingga minyak mendingin, lalu panaskan lagi.

Masukkan makanan yang akan digoreng dengan perlahan, sedekat mungkin ke permukaan minyak. Jangan dilempar! Karena malah akan membuat minyak terciprat dan bisa membahayakan.

Ada tips? Ada. Kalau masih ragu dan khawatir terciprat minyak, masukkan bawang merah utuh ke dalam minyak sebelum menggoreng, biarkan ada di dalam wajan sampai selesai proses penggorengan, Insya-a Allah aman. Penting juga untuk meniriskan air terlebih dahulu dari makanan yang akan digoreng.

Nah, bagaimana kalau terkena cipratan minyak panas? Tenang, angkat wajan atau matikan kompor terlebih dahulu untuk mencegah masalah bertambah dengan wajan hangus atau kompor meledak. Kemudian segeralah siram bagian yang terkena minyak panas dengan air dingin berulang-ulang. Jangan dibalur dengan pasta gigi, garam, bubuk kopi, atau apapun yang selama ini sering dilakukan orang-orang! Panasnya harus dikeluarkan, itu prinsipnya. Bila perlu balurlah dengan es. Melepuh? Tidak masalah, nanti akan segera sembuh, Insya-a Allah.

Kalau yang digoreng adalah ayam atau daging, pastikan benar-benar matang. Lebih oke lagi kalau ayam yang akan digoreng, diungkep terlebih dahulu dengan penambahan bumbu. Rasanya lebih enak, empuk, dan aman dari bakteri yang berbahaya di daging ayam yang masih mentah. Hal ini berlaku pula pada hati atau jeroan lainnya, sangat disarankan untuk direbus terlebih dahulu baru kemudian digoreng.

Menjiwai Dapur

Aktivitas memasak di dapur hampir tak terlepas dari basah, becek, kotor, dan sebagainya. Terutama bagi para pemula yang jiwanya belum ‘menyatu dengan dapur’. Berhati-hatilah, jangan sampai kita menumpahkan air ke dalam minyak panas, atau membiarkan sampah sayur bertebaran, atau peralatan kotor yang menumpuk, atau lantai licin sampai-sampai kita terjatuh.

Menggunakan satu wajan untuk berbagai keperluan bisa saja dilakukan, dan hal ini perlu pengaturan khusus. Misalnya kita akan menggoreng telur dadar, sambal, dan ikan. Saya sarankan gorenglah telur dadar terlebih dahulu, yang menggunakan sedikit minyak dan tidak menyisakan bekas pada wajan. Kemudian gorenglah sambal, lalu sisihkan. Sebelum menggoreng ikan, cuci bersih wajan terlebih dahulu, jangan biarkan ada sisa sambal karena akan hangus saat menggoreng ikan. Lalu barulah menggoreng ikan dengan minyak yang relatif lebih banyak.

Memasak di dapur adalah sebuah proses kreatif yang memerlukan sense of art yang tak boleh diabaikan. Memasak di dapur adalah proses manajemen efektivitas, efisiensi, dan ekonomis, yang memerlukan kelihaian kita mengolah dan memanfaatkan sumber daya yang ada seoptimal mungkin. Memasak di dapur adalah proses pematangan diri yang melatih kesabaran, kecepatan dan ketepatan membuat keputusan, serta kecermatan strategis. Semua itu perlu penjiwaan dan ketulusan, maka tersenyumlah dan berikanlah suasana bahagia ke dalam diri kita saat memasak. Dengan demikian, kita akan menemukan kiat-kiat kita sendiri saat memasak di dapur.

Akhirnya, selamat memasak! Alhamdulillah....

Jurangmangu, 22 Desember 2011
Selamat HARI IBU, bukan ‘mother day’ karena sejarahnya pun berbeda.